Jumat, 20 November 2015

Mimpi Disiang Bolong


"Tuhan berada dimana-mana. Ia juga hadir dalam tiap gerak namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu. Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang. Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang."
“Apa gunanya mimpi sih…”. 

         Seperti itulah gambaranku tentang mimpi jaman dulu. Aku tidak pernah percaya tentang mimpi. Mimpi hanyalah angan-angan semu yang menghabiskan waktu. Daripada bermimpi disiang bolong, lebih baik belaajar mata pelajaran. Ya seperti itulah anggapanku dulu tentang mimpi. 
" Mari anak negeri bangun kembali sadarkan diri dari tidur lelap untuk bangun negeri indah ini agar mimpi masa depan kembali bermakna."
Salah satu mimpi di siang bolong itu bisa menikmati rasanya berkuliah Bagi yang sedang menjalani kondisi yang bernama kuliah, bisa kuliah merupakan hanya mimpi disiang bolong belaka rasa memang sangat tak mungkin, jika melihat kondisi orang tua yang tidak ada latar belakang pendidikan tinggi, kuliah lebih sering terasa sebagai sesuatu yang biasa saja. Sebab memang bejibun anak sebayamu yang bisa kuliah. Kecuali, kala kamu berjumpa dengan anak muda sebayamu yang tak bisa kuliah karena masalah biaya, sejenak kamu akan merasa beruntung, lalu beralhamdulillah.

Tapi ya sejenak. Sekejap. Namanya kilasan, ya ndak bakalan menancap di kedalaman batin, sehingga mudah sekali terlupakan.

Kalau melihat orang tua memang kuno, bodoh, dan ndeso sehingga tak tahu apa-apa tentang perkuliahan, kecuali bahwa kuliah mereka yakini akan melempengkan jalan masa depanmu. Sesederhana itu saja. Sebodolah mereka dengan Foucault atau Maslow; Fazlur Rahman atau Jasser Auda; Marx atau Tan Malaka. Makluminlah, wong yo mereka kan cuma makhluk ndeso, jadul, bodoh, tak terdidik, beda sama kalian yang muda, bregas, gaul, rajin nongkrong, traveling, aktif onlen, dan sesekali membaca buku beneran.

Satu-satunya hal yang sementara ini mungkin pernah membuat bangga pada mereka yang ndeso itu ialah mereka rela melakukan apa pun demi kelancaran kuliah. Bahkan, hal-hal yang pinta dengan penuh dusta. Mulai berutang tetangga, gadain kalung, jual kebun, hingga berdoa di malam buta dengan linangan air mata.

Sekalipun ndeso, mereka sangat tulus. Tiada hubungan yang lebih tulus dibanding tulusnya ketulusan orang tua pada anaknya. Tak ada sejumput pun di hati orang tua untuk kelak meminta balas jasa darimu, mengembalikan besarnya biaya yang telah dikeluarkan untukmu, atau sekadar memohon mengakui mereka sebagai orang yang pernah berjasa atas capaian masa depan.

Memang sempat tidak percaya, perlahan tapi pasti, satu persatu coretan di dinding kamarku menjadi kenyataan. Coretan mimpi membawaku ke arah impianku. Tapi tidak selamanya jalan itu lurus. Bayak sekali kegagalan yang aku alami  untuk mencapai mimpi-mimpiku.

Berani bermimpi dan berani sukses, itulah prinsip dalam hidupku. Sebernarnya impian itu abstrak, maka kita harus membuatnya kongkrit. Jangan pernah takut bermimpi biarlah temen-teman menertawakan dan menggap ini gila. Tapi aku yakin, kalau semua mimpiku akan menjadi nyata. Tinggal bagaimana kita merealisasikannya. Dengan mimpi, hidup akan menjadi terarah, tujuan hidup menjadi jelas. Ibarat mendaki gunung, kita sudah tahu jalan yang akan dipilih. 

Cukup ini saja tulisan singkat tentang mimpi, coretan, dan kenyataan. Semoga bisa menginspirasi. At least, jangan pernah menyerah. Saat berjuang, lihatlah sudah seberapa jauh kita melangkah. Sehingga kalian tidak akan menyerah ditengah jalan karena sandungan kecil.


Landungsari, 20 November 2015
Tertanda pemimpi,




@okytaqwin

                 


0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa