Huru hara sebuah parade penyelenggaraan agenda yang selalu ada pada sebuah organisasi yang bisa di katakan termasuk organisasi tertua yang berada di blantika nusantara ini. Semua orang mengenal organisasi ini baik dari kalangan muda maupun tua.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan ikon bendera hijau hitamnya. Dalam catatan sejarahnya HMI adalah salah satu organisasi mahasiswa yang telah memenangi
pertarungan paling keras dalam sejarah Republik ini. Pada tahun-tahun genting 1965, HMI telah berhasil
memenangi laga dengan menyingkirkan dua rival politiknya: CGMI dan GMNI. CGMI
amblas bersama hancurnya PKI, sedangkan GMNI meringkuk dalam segala
keterbatasan seiring dengan redupnya pamor Sukarno dan PNI. Praktis selama Orde
Baru berkuasa, HMI menjadi satu-satunya organisasi mahasiswa yang
berjaya—walaupun sempat terbelah menjadi dua antara yang pro-azas tungal dengan
yang tidak. Maka tidak heran, HMI banyak menelorkan para bintang Orde Baru
macam Pak Akbar Tanjung. HMI juga melahirkan intelektual mumpuni macam almarhum
Pak Nurcholis Madjid. Dan bahkan kelak melahirkan banyak penentang Orde Baru
macam Pak Amien Rais.
HMI identik dengan
Orde Baru, tapi tak monolitik. Selalu ada pasang-surut dan banyak
polarisasinya.
Semenjak itu,
satu-satunya rival HMI hanyalah PMII. Itu pun bukan rival sebanding. Hanya Gus
Dur yang bisa menjelaskan dengan apik kenapa kedua organ mahasiswa ini dibilang
tak setara. Kata Gus Dur, “Kalau HMI selalu menghalalkan segala cara untuk
mencapai tujuan, sementara PMII tak pernah tahu tujuannya apalagi caranya.”
Penyelenggaraan Kongres Ke- 29 bertempat di pekan baru, di mulai pada tanggal 22 yang berakhir 26 november 2015 kemaren banyak kisah yang telah terjadi baik dari sisi positif maupun negatif. Perhelatan rutin ini bertujuan untuk merumuskan platfom organisasi dan pemilihan pengurusan baru tiba - tiba menjadi bahan cemoohan di media sosial akibat pemberitaan yang bernuansa negatif.
Pemberitaan itu seperti halnya pemberitaan ketika terjadinya muktamar NU yang ke 33 bertempat di jombang. Pada waktu itu cemoohan yang di lakukan di media sosial sampai membuat Rois A'am KH. Musthofa Bisri meneteskan air mata membuat para peserta yang hadir pun terenyuh.
Saya menduga mereka yang melakukan celaaan dan melontarkan sumpah serapah pada kedua organisasi tertua ini tidak terlalu paham tentang perjuangan organisasi ini dan betapa besar jasanya untuk demokrasi di nusantara ini.
Tarik napas dalam - dalam sejenak jernihkan pikiran yang kotor itu. Janganlah hanya karena satu kongres maupun muktamar yang nampak tidak rapi dan kelakuan peserta, kader, dan panitianya, engkau jatuhkan tudingan berlebihan pada organisasi tertua ini.
Dalam situasi seperti
itulah saya, anda kita semua semestinya memahami HMI. Tak pantaslah mengatakan cemoohan, begitu juga mencaci lewat bunyi meme
lengkap dengan logo HMI dengan warna hijau hitam yang tersebar di media sosial.
Belum lagi #BubarkanHMI di Twitter, Facebook dan Path, juga media online.
Termasuk ricuhnya kongres HMI yang dihelat di
Riau. Rasa terancam, ditambah dengan semacam penyakit post power
syndrome yang diderita secara kolektif, membuat segala hal kecil yang mengganggu
bisa dianggap sebagai persoalan besar dan menyulut emosi. Di saat para kadernya
berkuasa, uang 3 miliar itu jumlah yang tidak besar. Jadi, membidik HMI karena
uang 3 miliar adalah keliru besar.
Mereka memblokade
jalan bukan berarti tidak bisa menginap di hotel. Percayalah uang saku yang
didapat dari senior-senior mereka di daerah cukup untuk menyewa hotel. Ini
hanya persoalan merasa tidak diperhatikan, sebab selama ini politik di
Indonesia juga sudah tidak memperhatikan mereka. Kalau kemudian kawan mereka
juga tidak memperhatikan, meledaklah emosi mereka. Ini sesama kawan, lho…
Kalau mereka makan di
rumah makan lalu tidak membayar, percayalah bahwa itu bukan karena mereka tidak
sanggup membayar. Mereka cukup menelepon salah satu ‘kakanda’, maka jangankan
makanan untuk 21 bis, untuk ratusan bis pun para kakanda mereka sanggup
membayar.
Segala ontran-ontran
kongres HMI ini terjadi hanya karena persoalan mereka bingung menempatkan
posisi dalam kancah politik mutakhir Indonesia; jengkel karena tak menemukan
rumus jitu untuk mengembalikan kejayaan mereka; menderita semacam post
power syndrome, sehingga inilah yang terjadi: ekspresi mereka adalah caper.
Mereka bikin ulah supaya diperhatikan. Mereka cuma ingin bilang: Kami ada dan
(sayangnya tak lagi) berlipat ganda.
Bagi yang tak
mengenal HMI dari dalam, pastinya akan merasa bahwa berbagai cacian dan hujatan
yang dialamatkan pada HMI disebabkan oleh segelintir ulah satu dua cabang
belakangan ini, akan berpengaruh pada pengurusnya maupun alumninya.
Perlulah untuk di ketahui marahkah mereka
dengan berbagai cacian dan berita negatif itu ?
Secara umum tanggapannya biasa-biasa saja, tak ada keresahan tak ada makian kepada media online apa lagi untuk mendemo.
Secara natural Aktifis HMI sudah kenyang bahkan kebal dengan berita negatif, kritik dari alumninya sudah tak terhitung. Ada yang anti PKMN KAHMI ada yang anti kongres tapi tak ada satupun yang tak mensupport LK 1 (Latihan Kepemimpinan) atau dikenal dengan basic training.
Mungkin inilah satu-satunya organisasi di indonesia yang paling demokratis,
tak mengharamkan kritik maupun hujatan, baik dari internal maupun menghadapi kritik dari luar, juga terbiasa menghadapi tekanan.
Ketua umum PB HMI terbiasa dikritisi bahkan dihujat oleh struktur terbawah, seperti Komisariat ataupun Koorkom.
Secara umum tanggapannya biasa-biasa saja, tak ada keresahan tak ada makian kepada media online apa lagi untuk mendemo.
Secara natural Aktifis HMI sudah kenyang bahkan kebal dengan berita negatif, kritik dari alumninya sudah tak terhitung. Ada yang anti PKMN KAHMI ada yang anti kongres tapi tak ada satupun yang tak mensupport LK 1 (Latihan Kepemimpinan) atau dikenal dengan basic training.
Mungkin inilah satu-satunya organisasi di indonesia yang paling demokratis,
tak mengharamkan kritik maupun hujatan, baik dari internal maupun menghadapi kritik dari luar, juga terbiasa menghadapi tekanan.
Ketua umum PB HMI terbiasa dikritisi bahkan dihujat oleh struktur terbawah, seperti Komisariat ataupun Koorkom.
Karena itu, mari mengkritik HMI dengan argumen yang berkualitas tanpa perlu keterlaluan. Disini saya bukan membela satu pihak atau siapa pun memang saya juga masih menjadi bagian organisasi tertua ini.
Jujur dulu saya pernah mengkritik sebelum masuk organisasi terbesar dan tertua ini. Karena awal pada masa perkuliahan pernah kesasaran beberapa organisasi yang mencemooh dan mencaci organisasi tertua ini.
Doktrin - doktrin itulah menjadi makanan yang di dapat saat bertemu dari satu organisasi satu ke yang lainnya. Pada waktu itu alhamdulillah memang pikiran saya belum benar benar terpengaruh maka secara sadar saya pun membuktikannya karena ketidak tahuan !
Setelah nyempung barulah tahu ternyata doktrin doktrin yang selalu menjadi makanan saya itu tidaklah benar adanya. Ibarat kata belajar tanpa buku jadi itulah jadinya hanya tahu mulut dari mulut.
Tetapi saya berterima kasih berkat doktrin doktrin dari berbagai organisasi bisa mengantarkan agar lebih mengenal HMI dekat dengan NU. Alhamdulillah
Beberapa fatwa dari beberapa tokoh tokoh :
“Kalau bapak hendak membubarkan HMI, artinya pertimbangan saya bertentangan dengan gewetan bapak. Maka tugasku sebagai pembantu bapak hanya sampai di sini…!” Kata KH. Saifuddin Zuhri
“HMI bukan saja Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi HMI juga Harapan Masyarakat Indonesia” Kata Jenderal Soedirman
"Untuk menghadapi perubahan, bawalah peralatan (HMI) yang dibutuhkan di masa depan, jangan membawa alat yang digunakan di masa sebelumnya," kata Anies Baswedan .
" Kader HMI harus tetap menjadi yang terbaik, apalagi selama ini HMI telah banyak melahirkan pemimpin bangsa" Kata Jusuf Kalla
Landungsari, 27 November 2015
Tertanda Mahasiswa Akhir
@Oky Taqwin


0 komentar:
Posting Komentar