Rabu, 10 Juni 2015

SURAT TERBUKA GERAKAN UMENGAJAR

Keluarga Besar UMengajar 



“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang kokoh”
(Q.S. As-Saff : 4)


Meneruskan surat dulu pernah di sampaikan salah satu pengajar muda batch 1 (Kak Eni) kurangnya tanggapan dari berbagai pihak membuat perlunya surat kedua ini  untuk di tuliskan. Semoga semua pihak - pihak dapat membaca menyadari.

Pengelolaan kaderisasi dan pembinaan keanggotaan adalah sebuah hal penting yang menjadi napas utama dari sebuah gerakan. Sebaik apa sebuah gerakan dapat melakukan proses kaderisasi maka sejauh itu pula sebuah gerakan akan dapat terus bertahan, eksis dan melakukan kontribusi bagi perbaikan masyarakat. Ide, gagasan dan cita-cita dari suatu gerakan akan terus hidup lintas waktu dan generasi melalui kader-kader muda yang terus dibina dari waktu ke waktu. UMengajar sebagai gerakan juga memiliki kebutuhan akan adanya proses pembinaan secara sistemik dan berkesinambungan, yaitu sebuah karakter UMengajar sebagai “ Gerakan Mengajar” organisasi pengkaderan yang terus bekerja mencetak anak-anak muda yang memiliki mimpi yang sama untuk ikut melunasi janji kemerdekaan bangsa Indonesia ini, yaitu “ Mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Proses pembinaan kaderisasi di UMengajar ini berlandaskan kepada sebuah sistem yang tidak menentu dari periode ke periode kurangnya kesadaran dari pengurus itulah kaderisasinya tidak berjalan maksimal. UMengajar sebagai sebuah wadah mahasiswa Universitas Negeri Malang memiliki komprehensivitas dalam paradigma berpikir. UMengajar hadir dengan setting sejarah sebagai gerakan mengajar dalam area kampus Universitas Negeri Malang setelah era Reformasi pada tahun 1998. Ideologi UMengajar berlandaskan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai landasan referensi utama. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ini dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan dan sebagian besar kampus telah menggunakan sebagai acuannya.

Salah seorang dari seven founder merumuskan sebuah pedoman dasar UMengajar di pengajar batch 2 memang di diketahui buku tersebut jauh kurang dari kesempurnaan tetapi yang ada dalam buku tersebut telah mencakup semua kebutuan dari UMengajar di samping itu juga penulis telah melakukan survey langsung di lapangan memang semua itu menjadi kebutuhannya. Di dalam menghadapi kedatangan batch 3 jika dari pengurusan baru masih tidak memiliki kesadaran akan kepetingan dalam kaderisasi itu sendiri, maka si penulis sebelumnya akan membuat salinan revisi buku sebelumnya. Di dalam buku sebelumnya telah tercantumkan sebuah Nilai Dasar Pengabdian UMengajar turunan dan penjabaran dari isi buku tersebut adalah kader UMengajar harus memiliki sebagai berikut, yaitu :

1.      PANCASILA
2.      UUD 1945
3.      TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI
4.      IPTEK
5.      Attitude
6.      Kreatif
7.      TOTALITAS
8.      Komunikasi
9.      Kritis

Dalam posisi ini kader siap dalam konteks pendidik, yaitu kader siap memimpin dan leading di berbagai sektor dunia kependidikan, yaitu gerakan mengajar ini semakin mengokohkan kontribusinya dalam ranah-ranah publik kampus dan masyarakat.

Penulis memiliki beberapa gagasan baru dalam pengelolaan pembinaan anggota dan kaderisasi di UMengajar, penulis melihat dalam konteks lapangan harus ada penyesuaian dalam melakukan proses pembinaan anggota terutama jika kita melihat UMengajar sebagai sebuah gerakan mengajar. Beberapa titik poin yang penulis anggap penting adalah :

1.      Penguatan sistem Open Recruitment telah Standart yang berkelanjutan,

2.  Pembuatan Buku Materi Masa Diklat/Training UMengajar telah Standar yang berkelanjutan,

3.      Pemberian LKMO/follow up pasca diklat telah standart yang berkelanjutan.

4.      Pembekalan instruktur/pemateri untuk menyambut era mendatang.

Penguatan system open recruitment

Sistem sel adalah sebuah sistem yang jamak digunakan oleh berbagai gerakan dan terbukti cukup efektif, Di Indonesia Partai Komunis Indonesia telah menggunakan sistem sel sebagai alat kaderisasi. PKI menjadi partai yang memiliki karakteristik khusus yaitu sebuah partai yang berbasiskan kader yang “loyalis, ideologis, militan”. PKI menjadi partai yang mampu memobilisasi, mengkonsolidasi kadernya dari tingkat elit sampai dengan tingkat akar rumput. Sehingga PKI menjadi sebuah organ yang memiliki mobilitas yang tinggi dalm proses dinamikan politik periode 1945-1965.

UMengajar sebagai sebuah gerakan telah memiliki training sebagai sistem yang tidak mirip dengan sistem sel baik yang diterapkan di PKI. Training adalah sebuah alur dasar dalam proses training di UMengajar yang di dalam  banyak orang dan dipandu oleh seorang panitia. Penulis menilai agaknya system sel yang di terapkan itu bisa di coba di aplikasikan ke dalam UMengajar dan sebagai bahan referensi jalannya kedepan kaderisasi. Selain sebagai sebuah wadah training dasar, TDU (Training Dasar UMengajar) dapat dioptimalkan sebagai wadah untuk mobilisasi dan controlling oleh karena itu TDU menjadi sebuah alur yang wajib dalam proses training. Penulis berpendapat alangkah baiknya jika TDU dapat dikuatkan posisinya sebagai sytem yang berkelanjutan di setiap open recruitment.

Mengaca dari sistem yang berjalan di gerakan lain, penulis melihat sebuah fungsi-fungsi yang seharusnya dimiliki oleh sebuah gerakan. Yaitu fungsi kontrol dan otoritas, fungsi kontrol dimana setiap pengurus memiliki wewenang untuk mengevaluasi proses pembimbingan, kondisi bimbingan dan melakukan penilaian-penilaian. Sedangkan otoritas yang dimaksud adalah sebuah fungsi yang menentukan bagaimana bimbingan akan diarahkan apakah memilih karier organisasi di kampus dan memberikan rekomendasi untuk mengambil apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Gerakan lain juga melakukan fungsi-fungsi mobilisasi dengan menggunakan sistem ini, mobilisasi untuk pengabdian, dan berbagai kegiatan lainnya.

Penulis berpendapat seharusnya UMengajar dapat memfungsikan TDU sebagaimana gerakan lain memfungsikan sytem tersebut. Dalam titik ini maka UMengajar akan memiliki sebuah jaringan sistem sel yang sangat luas dimana kontrol dan pengawasan kepada setiap kader UMengajar dapat dilakukan dengan maksimal. TDU seharusnya dijadikan perangkat wajib dari gerakan UMengajar, karena sistem ini yang penulis nilai dapat menjadi “nyawa” bagi gerakan. Sistem pembinaan, pengelolaan, mobilisasi dan pengarahan kader dilakukan oleh panitia TDU. Jika UMengajar dapat membangun sebuah sistem TDU yang sebaik dan sekuat yang terdapat di gerakan lain, maka UMengajar akan menjadi sebuah gerakan yang sangat kuat. Sebuah gerakan yang memiliki akses jangakuan sampai massa akar rumput dan mampu mengkonsolidasikan dirinya dalam waktu singkat.

Pembuatan Buku Materi

Salah satu kelemahan yang terdapat dalam proses pembinaan di UMengajar adalah tidak terdapatnya sebuah buku pegangan materi yang menjadi dasar atau acuan bagi para pemandu untuk menyampaikan materi. Memang UMengajar sudah memiliki ideology Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sangat komprehensif tetapi dalam tataran lapangan penulis melihat realitas lain. Para pemandu tidak dalam kapasitas intelektual yang sama, sehingga proses TDU sangat tergantung pada kualitas dari seorang pemandu. Ada seorang pemandu yang memiliki wawasan pergerakan yang luas, maka TDU akan menjadi sebuah wahana intelektualitas yang menyenangkan tetapi jika pemandu tidak memiliki kapasitas itu, maka TDUakan menjadi sebuah proses yang membosankan. Kelemahan lapangan itu ditambah dengan tidak adanya sebuah referensi pembinaan tertulis yang bisa dibaca dan dijadikan panduan oleh para pemandu. Dengan keresahan ini maka penulis menyarankan terhadap pihak yang berwenang (Kaderisasi UMengajar/ Pengurus UMengajar) untuk membuat sebuah buku pegangan bagi proses pembinaan di UMengajar.

Buku materi ini di harapkan akan berisi derivasi-derivasi dari poin-poin pembinaan yang penting ada di setiap materi trainingContoh buku yang sudah pernah ada adalah :

1.    1.   Pedoman Dasar UMengajar
2.  2.   Buku catatan batch 1

Setiap poin dari materi dalam buku ini akan dituliskan dalam sebuah pembahasan yang cukup mendalam, per poin yang akan menjelaskan konsep-konsep dasar mengenai poin-poin tersebut. Penulis menilai UMengajar belum ada yang melakukan proyek penguatan kaderisasi dalam pembuatan buku materi. Jika UMengajar dapat memprioritaskan pembuatan buku materi ini maka ini akan menjadi “sumbangan berharga” dan “amal jariyah” bagi proses pembinaan UMengajar kedepannya.

Pemberian LKMO/follow up pasca diklat telah standart yang berkelanjutan.

            Salah satu kelemahan di dalam internal UMengajar kurun waktu 2 periode ini belum adanya system kaderisasi yang mutlak harus ada di setiap open recruitmen, penulis sangat menyadari itu sedari awal banyaknya pasang surut muntaber dari keanggotaan UMengajar. Bisa di hitung dengan jari di dalam batch 1 dan batch 2 yang dapat bertahan sampai akhir hanya ada beberapa orang saja hal itu seharusnya dapat menjadikan bahan pembelajaran untuk para pemangku jabatan (pengurus baru).

Kalau gerakan UMengajar ini sejak awal berdirinya sudah mengacu pada UKM yang berada di Universitas Negeri Malang, harusnya di dalam satu periode terselenggaranya sebuah wadah pengembangan diri pengajar muda yaitu LKMO.

LKMO sendiri kepanjangan dari Latihan Kepemimpinan dan Management Organisasi di tingkat UKM sudah sebagai hal keharusan bagi setiap anggota khususnya pada tinggkat dasar dan sekaligus sebagai pembekalan anggota yang nantinya menjadi pengurus baru di UKM tersebut. Disini juga sebagai wadah membentuk karakter kepemimpinan yang ideal yang di butuhkan di setiap UKM.

Saat ini yang penulis rasakan di dalam UMengajar banyak krisis akan adanya figure seorang pemimpin. Pemimpin yang di maksud disini bukan hanya sekedar memimpin saja tetapi juga management dan menggerakkan jajaran pengurusnya dapat termaksimalkan. Kurun waktu 2 dekade sosok pemimpin yang telah memimpin kala itu masih kurang dari apa yang memang di butuhkan UMengajar. Kalau hal itu sampai saat ini masih di anggap remeh UMengajar kedepan hanya tinggal sebuah nama dan kenangan-kenangan yang telah di buatnya, ini harusnya menjadi sebuah perhatian khusus oleh para pengurusan baru untuk menjalankan roda organisasinya.

Pembekalan instruktur/pemateri untuk menyambut era mendatang.

Salah satu kelemahan di dalam internal UMengajar kurun waktu 2 periode ini belum adanya system sosok intruktur/ pemateri dari dalam internal UMengajar di setiap open recruitmen hal yang sama penulis rasakan sedari awal  di dalam pembimbingan training masih banyaknya menggunakan pemateri dari external UMengajar. Kalau gerakan UMengajar ini sejak awal berdirinya sudah mengacu pada UKM yang berada di Universitas Negeri Malang, harusnya di dalam pembimbingan training dasar menggunakan sumber daya manusia yang ada di internal organisasi.

Jika sampai saat ini hal ini tidak menjadi perhatian bagi para pengurus baru maka sumber daya yang ada di internal tidak akan berkembang secara maksimal, hanya akan menjadi seorang yang terus bergantung dengan orang lain. Padahal kalau penulis lihat di UKM sendiri mereka menggunakan armada sumber daya dari internal dalam organisasi karena pada tingkat dasar paling banyak yang berperan adalah sumber daya internalnya bukan mengambil dari luar.

Pengurus baru harusnya banyak belajar bukan hanya diam tergantung oleh keadaan yang telah di buat sebelumnya, banyaklah belajar dari UKM maupun organisasi yang sama akan menjadikan pengurus memiliki wawasan yang luas dan tau akan hal yang di butuhkan oleh UMengajar saat ini.


Jakarta, 10 Juni 2015 

Tertanda


Oky Taqwin Abadi

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa