Selamat Pagi
Ahlan Wa Sahlan..........
Semalam entah mimpi dari mana aku ingin menulis topik " Jomblo" padahal beberapa waktu yang lalu sudah memvakumkan untuk membuat topik ini karena kalo terus diingat sedih juga secara sadar diri ini juga jomblo sampai saat ini.
Gak perlu di pusingkanlah mari membaca dan simak tulisannya :
Sudah jomblo, ngenes pula.
Kalimat seperti ini sering kali menghampiri sebagian besar manusia yang normal dan pernah mengalami jatuh cinta.
Entah itu jatuh cinta pada teman sekelas, adik kelas, teman seangkatan, bahkan teman sejenis. Biasanya kalimat seperti itu keluar tatkala mereka (jomblo ngenes –red) baru saja mengalami sebuah tragedi yang lebih mengerikan dari huru-hara soal beras plastik, yaitu cinta imitasi.
Bukan sebuah hal tabu lagi, mengingat zaman yang disebut zaman reformasi tapi buruh masih saja harus outsourcing ini maka semua barang bisa dipalsukan. Bahkan hal yang bukan “barang” bisa dipalsukan.
Misal saja harapan palsu. Sungguh malang nasib mereka yang pernah dihinggapi perasaan sayang lalu ditinggalkan karena hanya diberi harapan. Tanpa pernah bisa benar-benar merealisasikan harapan itu. Mau mewujudkan gimana, wong harapannya saja palsu.
Siapa yang patut disalahkan dalam kasus seperti ini?
Tidak ada yang benar-benar bersalah sebenarnya. Mau menyalahkan yang memberi harapan pasti sang pemberi harapan akan mengeluarkan argumen pembenarannya yang tidak bisa lagi disanggah.
Kalimat yang mematikan dan semakin menusuk dan menohok. “Salah siapa kepedean. Aku saja tidak pernah memberi harapan kok. Kamu saja yang nganggepnya beda.” Mau disanggah pakai kalimat apa lagi kalau sudah begini?
Tidak ada kalimat yang mampu melawan kalimat maha kuat dan kokoh sekaligus mengiris ini. Begitupun jika harus menyalahkan yang diberi harapan. Apa salah seseorang menaruh hati pada orang setiap hari tak pernah lelah menghiasi hari-harinya?
Tentu saja tidak. Maka kebenaran sejati tetap jatuh kepada wanita, karena wanita selalu benar Tuhan yang Maha Benar.
Semakin kesini pula, predikat jomblo semakin menurun kastanya. Kalau dulu menjadi jomblo menjadi sebuah hal biasa, alih-alih menggunakan kalimat “Aku mau fokus pada hidupku dan karirku.”
Masih bisa menjadi pelindung. Kini kalimat itu sudah tak relevan lagi, bukan tak relevan sebenarnya tapi mungkin kini kalimat ini sudah terlalu tak bermakna dan bagi sebagian orang kalimat seperti ini hanya sebuah kalimat sampah.
Bagaimana tidak,
lihat saja jika ada orang menggunakan kalimat itu sebagai tameng, bukan semakin aman dari tuduhan jones (jomblo ngenes –red) malah semakin membusuk dalam kubangan lembah kesengsaraan dan jadi tempat bully yang tak bisa diabaikan bahkan oleh anak SD yang kencing saja belum lurus.
Namun, bukan tak mungkin predikat jones atau jomblo ngenes ini bisa lepas tanpa harus menanggalkan status jomblo yang kadung kuat melekat. Banyak cara sebenarnya, namun sayangnya mereka (jomblo ngenes –red) terlalu malas atau terlalu sulit atau mungkin terlalu memikirkan soal demo kemarin yang tidak dihadiri oleh Jonru sehingga lupa bahwa untuk menjadi Jomblo Happy.
Caranya mudah, cukup nikmati apa yang sedang dijalani tanpa pedulikan apa yang orang katakan. Kalau kata Agus Mulyadi “Jomblo Rapopo asal hafal Pancasila, atau kalau tidak ya tahu Hari Panca.”
Seorang pakar ahli jomblo mengemukan sebuah gagasannya dalam dunia jomblo dengan Pendidikan Gaya Jomblo Ala Paulo Freire. Siapakah Paulo Freire? Mari kita belajar darinya..
Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas, banyak mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia utuh yang sadar akan dirinya sebagai subjek dan yang sadar akan hak-haknya –tapi tidak menafikkan hak orang lain di sekitarnya.
Walau laboratorium penelitian Freire adalah para kaum tani di Brazil dan beberapa lainnya di Chili, dan walau Freire tidak secara gamblang menuliskan bab khusus di buku tersebut yang spesifik membahas tematik jomblo seperti: jomblo di dunia ketiga, pendidikan kaum jomblo, membangkitkan kesadaran kaum jomblo, rezim jomblo, atau jomblo otoriter,
tapi bila pembawaanmu peka pada keadaan kaum jomblo di manapun, sekalipun itu di Amerika latin, juga pada nasib dan kondisi sosialnya, pasti kamu akan dengan mudah memahami bagaimana Freire menerangkan ini semua.
Setidaknya secara eksplisit ia ingin bilang: pendidikan kaum tertindas adalah perjuangan menggapai kesadaran. Dan kaum jomblo adalah para kaum sadar. Ia sadar dirinya adalah wakaf bagi perjuangan. Tidak etis berflamboyan ria di tengah berlangsungnya ketidakadilan. Seperti sekarang ini.
Dimulai dengan penjelasannya tentang ideologi pembebasan. Ideologi pembebasan merupakan epistemologi sekaligus aksiologi humanisme yang berusaha menggiring manusia menuju keberadaannya, kuasa otonomnya, sehingga praktek dehumanisasi baik dalam bentuk penindasan, perbudakan, dan otoritarianisme tidak lagi mewarnai bumi manusia. Sebab sejarah manusia adalah sejarah penindasan dengan ragam model.
Maka ideologi pembebasan ada sebagai sebuah pelajaran penting yang berusaha menyadarkan, membangunkan mimpi manusia dari ilusi dunia; penjajahan kesadaran. Bahwa kita “ada” bukan semata-mata karena takdir kita dilahirkan atau karena sistem mapan yang sudah terbentuk hingga membentuk diri kita sedemikian begini adanya, tapi kita “ada” sebenarnya karena kita memiliki akal dan dunia di luar diri kita yang saling memberikan refleksi dan tindakan untuk apa kita “ada”, “intensionalitas atau kesadaran murni” begitulah Sarte memanggilnya. Dan ketika kita menyerah pada keadaan dengan alasan “sudah takdir” atau “takut melawan”, maka kita sudah menjadi objek (korban penjajahan kesadaran).
Hilangnya kesadaran diri kaum tani di Brazil inilah yang diperjuangkan oleh Freire. Pengorbanan Freire ia buktikan dengan turun mengajar kaum tani buta huruf melalui metode dialogika. Melalui pendekatan intuitif dengan menghadirkan permasalahan-permasalahan paling substansial di sekeliling petani.
Dikotomi subjek-objek, Freire menyebutnya sebagai kaum penindas-kaum tertindas. Yang bagi Freire dua-duanya melempar manusia ke kubangan dehumanistik. Yang mencerabut nilai-nilai kemanusiaan kita. Karena yang satu terlalu angkuh, merasa superior dan lebih cinta pada kematian ketimbang kehidupan, dan yang kedua terlalu pasrah pada keadaan, dan lupa bahwa dirinya ada, hingga lupa bahwa eksistensisnya sebagai bagian dari sejarah, dan yang membentuk sejarah. Coba kita kaitkan ideologi pembebasan ini dalam perspektif jomblo.
Apakah jomblo merupakan impak praktek dehumanisasi?
Jika jomblo betul-betul manifesto dehumanisasi, bagaimana logikanya?
Dehumanisasi biasanya diakibatkan karena ketidaksadaran manusia bahwa dirinya adalah pribadi-pribadi yang otonom sehingga sifatnya selalu ketergantungan. Apakah Jomblo ketergantungan? Tentu tidak, jangankan bergantung, bersandar pun tak ada tempat. Jomblo hanya bergantung padanya segala sesuatu. Atau dehumanisasi juga bisa diakibatkan oleh penyakit necrofilis (Eric Fromm).
Necrofilis adalah nafsu untuk mengubah hidup menjadi tidak hidup, memahami kehidupan secara mekanis, seolah-olah semua manusia yang hidup adalah benda-benda……..(Freire, Pendidikan Kaum Tertindas).
Apakah para Jomblo mengidap necrofilis?
Tentu juga tidak, karena jomblo hanya menganggap sabun sebagai satu-satunya benda: yang setia.
Freire mencontohkan praktek dehumanisasi ini seperti dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah formal, yang bagi ia merupakan pendidikan gaya bank. Di mana guru menganggap para murid adalah bejana yang bebas diisi apa saja (tabungan), dan guru secara tidak sadar memperlakukan mereka (murid) layaknya benda mati. Harusnya menurut Freire, pendidikan ideal yang memanusiakan manusia adalah pendidikan hadap masalah.
Pendidikan macam ini tidak menjadikan murid seperti benda mati, tapi mengikutsertakan mereka dalam proses dialog interaktif yang memicu proses berfikir. Guru menghadirkan masalah bukan hanya untuk murid, tapi juga untuk dia secara pribadi. Permasalahan tersebut dipecahkan secara bersama-sama dengan asas saling mengisi, bukan sok mengajari.
Melalui pendekatan ini, realita di luar diri si guru dan murid dapat dipahami secara lebih objektif. Untuk itu munculah peribahasa satir di kalangan Jomblo, “Guru yang memperlakukan muridnya seperti benda layaknya jomblo yang bermain-main dengan sabunnya.”
Pendidikan kaum tertindas merupakan gambaran bahwa kita secara tidak sadar sedang ditindas di segala sisi kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan sekolah formal. Penindasan ini dimaksudkan untuk mempertahankan status quo sistem global yang konon “sudah begini dari sananya”.
Sama hal-nya dengan pendidikan kaum tertindas, pendidikan gaya jomblo, pendidikan radikal ala dunia ketiga, karena budaya dunia ketiga boro-boro mengenal budaya kekasih dalam arti sempit (pacaran), dunia ketiga sibuk bersimbah darah melawan kolonialisme.
Dalam konteks dunia ketiga, pendidikan gaya jomblo ingin menyadarkan para pacaris (baca: orang-orang yang berpacaran) dan para playboy bahwa pacaran (memiliki kekasih) merupakan terusan budaya populer yang dikonstruk sedemikian rupa oleh barat.
Kekasih diukur sebagai komoditi belaka.
Nilai-nilai percintaan diperkering maknanya dengan praktek-praktek yang menyulut birahi.
Barat sengaja memasifkan propaganda budaya ini dengan tujuan agar hilangnyaspirit “perlawanan” kaum muda, sehingga mereka dengan mudah mengeksploitasi bukan hanya sumber kekayaan kita, tapi juga kesadaran kita.
Mereka mengharapkan kestabilan dunia yang menguntungkan sistem mereka. Betapa naifnya terminologi “pacaran” dalam khasanah barat, tendensi eksploitasi seks menjadi basis budaya pop ini. Kenikmatan surgawi semu inilah yang pada akhirnya mengalienasi kaum muda pada realita sosial. Menjarakkan manusia dengan fakta di sekitarnya.
Anak muda yang terkenal dengan gelora temperamennya: kritis dan idealis tiba-tiba padam setelah tahu “pacaran”. Maka munculnya pendidikan gaya jomblo merupakan anti-tesa budaya populer ini. Pendidikan gaya jomblo merupakan manifestasi lain penjelasan Freire tentang ideologi kaum tertindas. Banyak hal mengapa akhirnya menjadi jomblo adalah cerminan manusia-manusia sadar. Dengan jomblo kita merasakan apa itu makna kesendirian, dan kesendirian tidak menyandera kita takut kehilangan, karena tak takut kehilangan maka kita berani untuk berjuang, begitulah kiranya filosofi pendidikan gaya jomblo.
Jakarta, 11 Juni 2015
Tertanda
Oky Taqwin Abadi


0 komentar:
Posting Komentar