| Monas |
Sinar matahari
sudah menjulang tinggi tepat Minggu pagi aku terbangun dari tidur, Namun mata
ini terasa sangat berat kepengen rasanya menutupkan mata ini sebentar kemudian
tidur kembali. Tapi langsung teringat jelas aku bersama andrea memutuskan janji
untuk main yang awalnya mau main hari sabtu eh gak jadi karena malas
menghinggapi rasanya sabtu itu tidak ingin keluar kos rasanya seharian pengen
di kosan terus.
Tak berapa lama
aku langsung mengambil handuk terus mandi duluan sedangkan andrea masih
terlelap dalam mimpinya itu memang dia kalo sedang tidur betah hampir saingan
sama temenku yang satunya andi.
Selesai mandi aku
langsung buru-buru pakai baju dan bangunin andrea agar segera mandi. Minggu itu
aku tampil biasa aja, yang memang style aku biasa. Mungkin “ kata biasa “ aja
bagi orang lain adalah penampilan mirip yang lebih mirip gembel.hahaha
Bodo lah biar
biarlah orang berkata apa emang beginilah aku, suka ya syukur, enggak yaudah. Simple
Tiba – tiba handphone
berdering. Langsung aku cek siapa yang menghubungi sepagi itu.
Gak mungkin kalo
cewek kan aku memang J O M B L O.
Sudahlah lupain saja kata itu gak
penting kembali ke topic kembali handphone ada di tangan perlahan-lahan aku
buka tombol kuncinya tiba….tiba…..tiba…..
Pesan telah
terbaca dan aku juga baru sadar kalau hari ini janjian ketemuan sama dia di
monas sekalian CFD’an senam pagi. Firasat tak enak kalau bakalan gagal
jalan-jalan menghinggapi. Setelah lama menunggu andrea selesai mandi dan
berpakaian.
Percakapan singkat sebelum keberangkatan kami:
Aku : Dre kita
nanti kemonas dulu ya?
Andrea: Jadi
nemuin pak dhe solikin.
Aku : iya jadi dre makanya kita kesana.
Andrea: yaudah
kita kemonas dulu setelah itu ke kota tua.
Aku : Tapi
masalah dre?
Andrea: Apa?
Aku : Gak tau jalan kesana buat ke monas. Langsung aku
juga menanyakan keteman yang satunya. Di kemaren kemonas naik busway dari mana?
Andi : Kemaren
naik kopaja dulu habis itu turun ke di halte dept. pertanian langsung kepasar
rabu dan baru ngambil monas.
Aku : Perasaaan
was-was masih saja menghinggap langsung sms pak dhe solikin menanyakan cara
cepat buat kesana.
Solikin:
Ke dept pertanian ambil jurusan ragunan - monas/ ragunan ke kampung dukuh atas
baru ke monas.
Aku : Oke dre kita
langsung berangkat saja. Ini sudah mendapat pertimbangan. Tapi?
Andrea: Tapi apa?
Aku : Masalah lagi
dre uangku kayaknya gak cukup deh buat beli kartu e-tiket busway dulu sih 40rb
tapi kagak tau sekarang. Nanti kalau kurang pinjem uangmu ya….
Andrea: Uangku
juga tinggal ini aja gak ada 50rb
Aku : Gpp kok
cukup itu soale kemaren belum ngambil kalo nanti perlu apa tak ngambil keatm.
Andrea: Ayo
berangkat ….
Aku : Oke
Setelah
percakapan selesai mulai berjalan menyusuri jalan raya yang pagi itu amatlah
ramai, mulai melintasi perlimaan karena harus menyebrang jalan dahulu. Mulai
berjalan kembali diatara jalan raya dan jalan tol. Lama berjalan tapi kok lama
belum menemukan halte itu. Hampir membuat putus asa dan tanya kepada bapak
polisi yang ada di seberang jalan, gak ada maksud lain tapi berharap dianter seh
sama bapak polisinya. Sebelum sempat bertanya halte itu mulai menampakkan
wujudnya. Wujud halte iyalah kan memang halte bentuknya seperti itu.
Masuk halte menuju
loket untuk membeli e-tiket terlebih dahulu, dapatlah e-tiket langsung masuk di
ruang tunggu yang telah di sediakan. Sempat membuat bingung untuk jalur ke
monas pakai busway kode yang mana, udah tanya dulu deh ke mbak – mbak yang
penjaga loket.
Gak ada yang
tanya kepada mbak loket akhirnya kuputuskan tanya kepada mas-mas yang ada di
sebelah jurusan ragunan monas itu kode yang mana? Nanti bareng aja kebetulan
juga lewat sana. Akhirnya busway yang di tunggu dateng melanjutkan perjalanan
menuju kemonas.
Singkat cerita
aku sudah tiba di monas langsung bertemu dengan pak dhe solikin. Dia menanyakan
sudah makan semua? Belum pak dhe. Karena berharap untuk makan terlebih dahulu
karena perut ini sudah terasa amat lapar setelah jalan kaki yang begitu
menguras tenaga.
Sebelum ke tempat
makan mengambil uang keatm takut uang tidak cukup, satunya harapan uang yang
ada di andrea, dia sendiri tak yakin kalo uangnya bakal cukup. Setelah mengambil
tibalah di sebuah gerobak soto depan gerbang monas.
Kenyanglah sudah
setalah makan soto tadi dengan harga yang cukup menguras kantong.
Mulailah
perjalanan untuk naik ke monas setelah membeli tiket masuk tibalah di pelataran
monas disana sudah ramai banyak pengunjungnya. Ada yang ngantri untuk bisa naik
keatas, ada orang jualan, ada orang istirahat, ada orang pacaran, ada orang
yang bermain layangan memang kebetulan hari
minggu banyak pengunjung.
Antrian panjang
itu ternyata untuk bisa naik ke puncak monas, panjang antrian itu sikitar 10m.
lamanya menunggu membuat ingat dengan rencana awal untuk ke kota tua, tapi jam
berputar begitu cepat awal ikut ngantri sekitar 3 jam lebih, Akhirnya gagalah
perjalanan untuk kekota tua tapi sebuah kepuasan lain yang di dapat sebuah
keindahan.
Iya memang untuk
mendapatkannya sungguh perjuangan saat itu tak sebanding dengan waktu diatas
pemandangan yang begitu amat indahnya. Subhanaallah
Tapi sayangnya
pemandangan sedikit mendung, eh bukan mendung tetapi asap iya asap kendaraan
yang amat pekat yang mengakibatkan polusi seperti awan mendung.
Puas diatas
langsung menuju ke museum di lantai bawah melihat bukti-bukti sejarah
perjuangan para pahlawan. Tak hanya museum aja di sisi kanan ada sebuah ruangan
kemerdekaan di dalamnya terdapat dasar negara, peta Indonesia dan teks
proklamasi.
Sore pun tiba
mengakhiri sudah perjalanan gagal yang di ganti dengan yang lainnya. Sebelum pulang
menyempatkan melihat karnaval, kebetulan hari minggu berbarengan dengan Jakarta
Fair dalam rangka merayakan hari jadi ibukota.
Tak sia-sia
perjalanan hari minggu itu memang hal walaupun gagal telah ternyata digantikan
kota tua di bawa ke karnaval tersebut.
Ini Foto dokumentasi selama seharian dimonas :
Foto diluar monas
| Andrea dan Pak Dhe Solikin FOTO SAAT NGANTRI PANJANG |
| Aku dan Andrea |
FOTO DIDALAM MOSEUM
| Aku dan sejarah FOTO DIATAS PUNCAK |
| Aku melihat keindahan jakarta FOTO SAAT KARNAVAL |
Pelajaran hari
itu “ kesabaran adalah sebuah jalan untuk yang tak tergantikan”
Malam pun tiba
akhirnya kembali untuk pulang ke kos seharian penuh sudah membuat kebahagiaan
yang tak terlukiskan. Terima kasih
Jakarta, 07 Juni
2015
Tertanda
Oky Taqwin Abadi

0 komentar:
Posting Komentar