Tak terasa sekarang setengah dari bulan Ramdhan..
Dari awal ramadhan sampai sekarang masih berada di ibukota, iya disini segala rasa yang dialami tapi tak seindah rasa di kampung halaman, Jadi keinget kejadian-kejadian masa kecil itu bagi seorang anak kala itu, Ramadhan adalah bulan yang penuh acara bermain. Apalagi di kampung seperti yang saya rasakan semasa kecil dulu, ibadah di bulan Ramadan terasa menyenangkan, nyaris tanpa paksaan, karena dilaksanakan dengan penuh canda. Kadang terasa seperti piknik.
Dari awal ramadhan sampai sekarang masih berada di ibukota, iya disini segala rasa yang dialami tapi tak seindah rasa di kampung halaman, Jadi keinget kejadian-kejadian masa kecil itu bagi seorang anak kala itu, Ramadhan adalah bulan yang penuh acara bermain. Apalagi di kampung seperti yang saya rasakan semasa kecil dulu, ibadah di bulan Ramadan terasa menyenangkan, nyaris tanpa paksaan, karena dilaksanakan dengan penuh canda. Kadang terasa seperti piknik.
Ada banyak toleransi yang dinikmati anak-anak seperti saya dulu selama Ramadan. Waktu bermain praktis lebih panjang dan bahkan kadang tidak dibatasi. Tidak ada jam malam. Kalau memang tetap harus pulang ke rumah, biasanya saya tetap diizinkan bermain lebih larut dari biasa.
Bermain adalah fitur yang melekat selama Ramadan bagi anak-anak. Dari pagi sampai malam, hampir dirayakan dengan bermain. Selepas salat Subuh bisa jalan-jalan. Siangnya bisa pergi memancing. Sorenya bisa ngabuburit dengan naik sepeda, atau bahkan main bola sejam menjelang buka puasa. Selepas Tarawih bisa bermain petak umpet atau bahkan main bola di halaman mesjid. Segala macam petasan pun seperti “dihalalkan”.
Sebelum Ramadan, meriam buatan dari bambu yang diledakkan dengan karbit sudah disiapkan lebih dulu. Mau pagi, siang, sore atau bahkan kadang membangunkan orang untuk sahur pun meriam bambu itu digunakan.
Keramahan Ramadan saya alami benar saat dilaksanakannya salat Tarawih. Secara istimewa, entah bagaimana ceritanya, salat Tarawih mungkin menjadi satu-satunya salat yang, dalam ingatan masa kecil saya, “diperkenankan” untuk dijadikan sarana bergurau dan bercanda.
Dan itu memang hanya terjadi pada Tarawih, tidak pada salat-salat lain. Ketika salat Isya, anak-anak pun beribadah dengan sangat khusyuk. Tapi ketika Tarawih, kekhusyukan itu mendadak berkurang bagi anak-anak. Mungkin karena Tarawih bukan salat wajib. Karena sunah itulah, makanya toleransi terhadap anak-anak pun berbeda.
Saya teringat sebuah kisah tentang bagaimana Nabi Muhammad terpaksa harus bersujud sangat lama karena tiba-tiba cucunya naik ke punggung beliau dan mungkin semacam bermain kuda-kudaan (karena kejadian itu terjadi di Arab, mungkin istilah lebih tepat: main onta-ontaan).
Apa pun itu, bagi saya, kisah itu menunjukkan bagaimana beragama dengan hati yang santai, rileks, dan mustahil kita tak menyebut kisah itu sebagai cerita yang sangat humanis. Kisah itu bagi saya tak ubahnya sebuah alegori tentang bagaimana Tuhan memandang dan memperlakukan anak-anak. Anak-anak di situ bukan dalam kategori sebagai usia atau kata benda, tapi dalam pengertian keunikan dan karenanya lebih tepat disebut sebagai kata sifat: kepolosan, ketulusan, penuh humor, dan nyaris tanpa pretensi dalam memandang hidup, dunia, mungkin juga agama.
Rasanya menyedihkan melihat anak-anak kini sering dibawa-bawa kampanye partai politik. Tidak ada yang lebih miris bagi saya selain melihat anak-anak itu disuruh membawa poster-poster berisi kebencian dan kecaman terhadap mereka yang dianggap bersalah. Kasihan sekali mereka.
Tak seharusnya mereka diajak terlalu serius. Kekayaan anak-anak terletak pada penghayatan mereka terhadap main-main. Mereka, anak-anak kecil yang bercanda saat Tarawih itu, kebanyakan tak memikirkan surga dan neraka. Mereka pergi ke masjid untuk bertemu teman, untuk bercanda, untuk piknik.
Sementara semakin dewasa anak-anak itu, mereka akan semakin serius. Juga semakin berpamrih. Mungkin mereka tak akan masjid jika tak ada surga dan neraka — seperti yang dengan plastis diungkapkan oleh Rabiah al-Adawiyah (versi lain menyebutkan Abu Nawas) dengan pertanyaan: apakah manusia akan menyembah kepada-Nya jika tak ada surga dan tak ada neraka?
Hikmah Anak-anak adalah guru terbaik untuk bagaimana caranya melakoni segala sesuatu dengan rileks, santai, dan tanpa pretensi. Mereka adalah mentor sejati bagaimana caranya agar hidup ini bisa terasa tak ubahnya sebuah piknik.
Cilandak - Jakarta Selatan, 30 Juni 2015
Dariku Merindukanmu,
Oky Taqwin Abadi


0 komentar:
Posting Komentar