Pada awal 400 SM (dan bahkan sebelum masehi) orang telah mendaur ulang barang. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kaca dari zaman kekaisaran Bizantium didaur ulang di kota kuno Sagalassos (sekarang terletak di wilayah Turki). Bukti yang lain yaitu bahwa pada masa awal kekaisaran Romawi, koin perunggu didaur ulang menjadi patung yang bisa dijual dengan nilai moneter lebih tinggi dari koin asli. Juga logam dari segala sesuatu; seperti perhiasan dan koin dilelehkan untuk dibuat senjata atau barang lain yang diperlukan.
Para arkeolog kemudian menyimpulkan–dari sisa-sisa sampah tentang sejarah daur ulang–bahwa daur ulang adalah praktek populer selama masa kesusahan. Misalnya, sisa-sisa limbah yang ditemukan dari masa-masa yang diindikasikan adalah masa-masa kelaparan, perang, dan endemic penyakit jumlahnya lebih sedikit. Selama masa kesusahan, bahan baru mungkin langka, sehingga mendaur ulang limbah lebih memungkinkan. Mantan memang seharusnya di daur ulang bukan untuk terus di ingat dan di harapkan kembali supaya dia bisa lebih berguna.
Emang sebagian orang yang baru sekian bulan putus cinta, aku sungguh paham rasanya sakit hati. Hanya butuh satu kata untuk mengungkapkannya: nyesek. Tidak kurang. Tidak pula lebih. Karena, kurang berarti harus ditambah, dan satu nyesek saja sudah cukup bagi aku. Sudah bikin kewalahan. Sementara, lebih berarti alay, sedangkan aku terlalu tangguh untuk menjadi seperti itu.
Putus cinta memang tak dapat dihindari. Setiap orang yang berani bercinta, harus berani menerimanya. Apapun sebab dan alasannya. Tak perlu kiranya membela diri dengan pelbagai alasan. Tidak juga menyalahkan orang lain. Cukup dirasakan saja nyeseknya.
Memang pada dasarnya untuk bersikap semacam itu tak mudah. Di saat terjatuh dalam kegalauan, setiap orang pasti akan mencari cara untuk segera bangkit. Termasuk dengan melakukan pembelaan diri. Mengutuk dan menyalahkan mantan pacar misalnya. Bahkan, orang-orang di sekitarnya juga.
Aku tidak menyalahkan seorang yang berlaku demikian. Bagi aku itu wajar saja. Mengutuk orang lain, kadangkala menjadi sebuah hal yang perlu juga. Bahkan mengasyikkan. Karena, sebagian kedongkolan akan dapat dilampiaskan. Dikeluarkan!
Lagipula, siapa sih yang bisa mendadak rela kehilangan rutinitas begitu saja. Mendadak kesepian. Tidak ada yang mengucapkan selamat pagi. Memberi pelukan. Ciuman. Atau yang lainnya lah…
Efek lainnya patah hati tentu beragam bagi tiap-tiap orang. Tergantung bagaimana suasana itu disikapi dengan bijak. Sebagaimana kerap orang melanda ketika patah hati seakan langit runtuh. Ada baiknya jika sudah patah hati untuk mencari hal-hal yang positif yang bisa jadikan sebagai tempat untuk mengalihkan suasana hati yang sedang dirundung duka mendalam. Bersyukur atas suasana dan berdamai dengan hati, adalah hal yang penting dalam mengembalikan emosi diri untuk tetap lebih baik. Bayangkan kalau sampai masih bisa patah hati, bayangkan jika saat patah hati kalian biasa saja tanpa merasa gundah gulana. Itu artinya tidak benar benar memiliki hati dan perasaaan.
Rasa sakit hati merupakan sebuah sinyal untuk kita ketahui kalau hati sedang sakit, ada yang terluka dan mesti diobati. Mencari teman dekat untuk mencurahkan hati dan meminta nasihat dari orang lain tentu hal yang penting dilakukan. Berbagi cerita dengan orang lain, untuk mengurangi beban tidak dinikmati sendiri.
Namun, akan lebih mulia bila dapat bersikap ikhlas. Seperti wejangan salah satu penulis sebut saja Puthut EA, ikhlas adalah puncak kedisiplinan. Dan hidup menuntut kedisiplinan, agar terhindar dari kesia-siaan dan penyesalan panjang.
Untuk dapat ikhlas, sudah semestinya kita mencontoh para pensiunan. Mereka adalah orang-orang paling ikhlas di dunia ini. Rela meninggalkan rutinitasnya. Walaupun bersifat paksaan dari pemerintah. Tidak mendapat ucapan selamat pagi. Tidak lagi memberi perintah dan aneka petuah.
Dalam peraturan pensiun di negeri ini, seorang yang sudah berusia 55 tahun dianggap tak lagi produktif. Karenanya mereka harus berhenti bekerja. Apapun jabatannya. Ada juga sih instansi yang sampai 65 tahun. Tetap saja, namanya peraturan ya tak sekena hati.
Padahal, sejarah mencatat bahwa seorang Mantan Presiden Bapak Suharto, pada usia segitu lagi berada pada masa kejayaannya sebagai pemimpin Indonesia. Ia mampu membuat pembangunan yang signifikan.
Para pensiunan ini tak pernah menyalahkan pembuat peraturan. Mereka sadar bahwa itu adalah sebuah konsekuensi dari pilihan hidupnya: menjadi pegawai pemerintahan.
Sebaliknya, mereka malah memanfaatkan masa pensiun mereka untuk bernostalgia, liburan, menimang anak cucu, berkebun dan hal-hal yang lain. Bagi mereka, tak ada yang lebih indah dari mendapat gaji tanpa bekerja. Cukup ongkang-ongkang kaki sambil bersiul di kursi goyang, setiap bulan uang tunjangan datang.
Mungkin, di sinilah perbedaan antara mereka yang Putus Cinta dan Pensiunan. Pada kompensasi atau jatah atau tunjangan. Tak ada kompensasi sesudah putus cinta. Tak ada jatah mantan. Setelah putus, semuanya pupus. Hilang!
Tak ada seorang mantanpun yang memikirkan nasib mereka yang pernah mengisi hatinya. Dibiarkan begitu saja dimakan waktu. Matipun mereka tak mau tahu. Padahal, sewaktu jadian, tak bertemu sehari rasanya sudah mau mati.
Sudahlah waktu terus berputar tak akan bisa kembali untuk mengulanginya tataplah masa depanmu untuk meraih bahagia itu perlu. Sangat perlu. Chuck Palahniuk, novelis asal Amerika Serikat mengatakan, bahwa kebahagiaan adalah cara terbaik untuk balas dendam. Jadi jika patah hati, ingin balas dendam kepada mantan pacar atau mantan gebetan, yang perlu lakukan adalah cukup dengan satu kata saja: bahagia.!
Jakarta, 17 Juni 2015
Dariku Untukmu, Untuk kita semua
Oky Taqwin Abadi

0 komentar:
Posting Komentar