Rabu, 20 Mei 2015

Refleksi Gerakan UMengajar


Mahasiswa adalah sebagai pambuat pembaharuan yang ada dalam polemik baik dalam kalangan kebangsaan dan kebudayaan, baik pula dalam aspek positif dan aspek negatif tetapi kenapa polemik yang ada dalamnya tak bisa teratasi, Karena mahasiswa tidak punya pegangan untuk bergantung,kepada siapa mahasiswa untuk bertanya dan  minta dukungan. Maka hal ini yang selalu yang dipertanyakan oleh mahasiswa, karena mahasiswa yang menegak kan kebenaran dikatakan untuk menentang peraturan yang ada, memang sebagai mahasiswa ada peraturan yang harus dijalanakan.
Max webers mengatakan dalam bukunya

  1. jika itu benar, maka ungkapkanlah kebenaran itu, walau pun itu menentang.
  2. kalau tau isi jurang jangan lihat dari atas tetapi masuklah dalamnya walau pun itu susah

Dilihat dari sejarahnya mahasiswa bukan hanya kritis dikampus tapi juga kritisnya diatas segala hal, baik pendidikan, agama, social, politik, ekonomi maupun budaya. Di atas dunia kebenaran ditentang, buktinya Negara arab ditentang dinegara kafir bahkan petinggi islam pun telah terpengruh oleh petinggi kafir. Maka hal ini bisa di pelajari sebagai mahasiswa untuk menegakan kebenaran, walau pun itu menentang, karna kalau hal yang salah itu jika berlanjut kapan kebenaran akan terungkap. Ingat mahasiswa dan ingat lagi apa fungsi kita sebagai mahasiswa. Tegakkan keadilan di daerah sekitar mu, terutama kampus mu jangan tunggu orang berbuat, kapan lagi kita yang berbuat. Mahasiswa sebagai Membuat pembaharuan dan pembangunan.

Gerakan atau movement mengandung beragam pemaknaan baik itu tentang perubahan, hijrah, dinamika, dan pergeseran yang mengacu arah ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan, kegagalan menuju keberhasilan, keburukan menuju kebaikan melalui beragam usaha keras dan proses yang matang.


Organisasi/ komunitas/ Gerakan UMengajar (Universitas Negeri Malang Mengajar) yang berdiri sejak 03 Januari 2014 bertepatan dengan era reformasi, tentu mengalami berbagai tranformasi arah pergerakan dalam perjalanannya hingga saat ini. Kebutuhan akan ide dan gagasan pemikiran, perkembangan zaman, warna-warni perpolitikan kampus adalah beragam faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Secara mutakhir menuju disnatalis ke – 2 ini UMengajar memiliki peranan penting sebagai organisasi sosial yang nyata yang berada di lingkup kampus Universitas Negeri Malang, bukan semata-mata mahasiswa sekarang hanya cuman diam tidak melakukan aksi konteks mutkahir UMengajar saat ini adalah tentang bagaimana mengejawantahkan proses transformasi pengkaderan dalam memberikan wujud nyata dalam dunia pendidikan khususnya di tingkat mahasiswa itu sendiri .


UMengajar juga turut serta mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dan mengalami beragam transformasi seperti apa yang tertulis di atas, bukan berarti memudarkan atau bahkan meninggalkan akar rumput pergerakan yang identik dengan konteks ideologi dan idealisme, di UMengajar sendiri ideologi yang dipegang adalah Tridharma Perguruan Tinggi.

Tri dharma perguruan tinggi diambil dari bahasa sansekerta. “Tri” yang artinya tiga dan “Dharma” yang artinya kewajiban. Jika dijabarkan secara istilah tri dharma perguruan tinggi adalah suatu asas yang dipegang oleh setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia.
Setiap mahasiswa wajib dan bertanggung jawab dalam mewujudkan tri dharma tersebut. Tidak hanya mahasiswa saja, tetapi dosen-dosen yang mengajar pun wajib menjalankannya.

Yang pertama adalah pendidikan dan pengajaran. Selama mahasiswa belajar di perguruan tinggi, mahasiswa mendapatkan berbagai macam ilmu. Ilmu yang didapat berasal dari sumber yang berbeda, mulai dari apa yang diajarkan oleh dosen maupun berdasarkan pengalaman masing-masing. Tapi dalam kehidupan sosial harus ada yang namanya proses give and take.Karena itu, mahasiswa yang telah menjalankan masa studinya di perguruan tinggi dituntut untuk mentransfer ilmu-ilmunya kepada masyarakat.

Yang kedua adalah penelitian dan pengembangan. Sebuah artikel tidak akan menjadi artikel jika kita hanya mengarangnya saja dan tidak menulisnya dalam bentuk kalimat. Begitu juga dengan ilmu. Sebuah ilmu tidak akan terpakai jika tidak diaplikasikan dalam wujud nyata. Mahasiswa yang telah melakukan penelitian diharuskan untuk mengembangkan dan menerapkannya dengan harapan akan berguna bagi masyarakat di kemudian hari.

Yang ketiga adalah pengabdian pada masyarakat. Pengabdian masyarakat adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk masyarakat dan langsung dapat dirasakan manfaatnya. Mahasiswa-mahasiswa lulusan perguruan tinggi sengaja dipersiapkan untuk mengabdi pada masyarakat dengan dibekali ilmu-ilmu yang cukup. Hal itu dilakukan agar terjadi kontribusi antara perguruan tinggi dengan masyarakat. Dari sini diharapkan masyarakat akan memberikan imbalan pada perguruan tinggi yang dapat membantu perguruan tinggi dalam mengembangkan dunia pendidikan dan teknologi.

Namun masih banyak mahasiswa yang belum menyadari tentang pentingnya tri dharma perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka menganggap tri dharma tidak penting. Padahal kita bukan lagi seorang “siswa” tetapi sudah menjadi seorang “mahasiswa” yang merupakan generasi penerus bangsa. Tri dharma perguruan tinggi ada bukan hanya untuk dimaknai saja. Sebagai mahasiswa yang baik, kita juga harus melaksanakannya dengan sepenuh hati. 



UMengajar sebagai wadah gerakan mengajar seluruh mahasiswa Universitas Negeri Malang sejatinya memiliki pola-pola ideologi gerakan pada umumnya yang identik dengan advokasi dan pemberian inspirasi nyata kepada anak-anak yang kurang beruntung dalam bentuk mengajar, dan lainnya, hal ini memang sudah mendarah daging di setiap gerakan mengajar mahasiswa selaku pemilik legitimasi agent of change, UMengajar sebagai salah satu gerakan yang hidup di antara lainnya pun memiliki pola yang sama yakni “gerakan moral dan gerakan sosial” sehingga condong akan nilai-nilai sosialisme yang kontra akan kapitalisme maupun feodalisme. Dalam gerakan mengajar, ideologi ataupun sikap idealisme adalah kesakaralan yang luar biasa, namun demikian idealisme yang utopis akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kader yang ada di tengah tuntutan realistis kehidupan kedepan, tuntutan realisitis yang dimaksud tentu bukan merujuk ataupun bertendensi terhadap sikap pragmatis melainkan bagaimana seorang kader UMengajar mampu menunjukkan jati dirinya yang idealis tersebut dalam segi aplikatif di tengah-tengah runtuhnya moral bangsa saat ini. Bukankah mereka yang duduk di kursi kekuasaan saat ini banyak yang pernah menjadi aktifis seperti kita, menjatuhkan rezim, dan berorasi di depan parlemen pada masa lampau tetapi banyak diantara mereka yang lupa akan idealisme yang sepatutnya tetap terjaga di tengah godaan pragmatisme kekuasaan saat mereka menjadi wakil rakyat. Oleh karena hal yang terbesar dalam hidup bukanlah memiliki idealisme yang utopis tetapi bagaimana bisa membawa nilai-nalai idealisme yang kita pegang bukan sekedar wacana belaka melainkan aplikatif  dan melihat konteks realistis kehidupan. Hal ini juga berkenaan dengan persaingan global tadi yang menuntut adanya pola pengkaderan yang lebih berkualitas di tubuh UMengajar agar tidak pasrah dengan keadaan ketika “badai” perubahan datang. 


Seperti apa yang diungkpakan oleh Jose Rizal “Bukanlah pengecut orang yang tiarap menghindarkan peluru mendesing, namun bodohlah orang yang menantang peluru hanya untuk jatuh dan tidak kuasa bangkit kembali”, setidaknya memberi pencerahan pada kita bahwa menjadi mahasiswa dalam gerakan mengajar bukan semata-mata mencari momen heroisme seperti turun ke jalan dan gerakan lainnya tetapi bagiamana kita sadar bahwa kondisi sekitar yang ada menuntut mahasiswa gerakan mengajar memiliki porsi yang lebih luas dalam memahami peta gerakan di tengah-tengah perubahan zaman yang tidak bisa ditampik lagi “tidak menunggu badai”.


Dan pula UMengajar sebagai bagian dari mahasiswa dan generasi muda penerus bangsa harus merasa terpanggil untuk membela kepentingan rakyat untuk ikut andil dalam melunasi janji kemerdekaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena melihat Kurangnya kesadaran dari civitas akademik dan seluruh lapisan ORMAWA kampus tidak mampu menjalankan peran dan fungsinya serta tersumbatnya saluran dialog dengan KAMPUS. Maka sepatutnya menjadi pijakan atau landasan dasar bagi para Anggota dan kader UMengajar. Saat ini para Anggota dan kader UMengajar Universitas Negeri Malang harus memprioritaskan perbaikan kaderisasi, baik secara konstitusi maupun sistematikanya. Sistem kaderisasi UMengajar kurang berjalan maksimal sehingga tidak menghasilkan dampak yang sistemik bagi organisasi maupun kader secara individu atau sosial. Saat ini para pengurus UMengajar terelupa akan langkah follow up para anggota yang telah lama hilang dari belantikan gerakan mengajar.


UMengajar bukanlah organisasi yang antinya menjadi pabrik penghasil bibit-bibit baru parpol atau dll. Akan tetapi, UMengajar adalah salah satu organisasi kepemudaan yang independen secara pikiran dan gerakan yang mengaplikasikan nilai-nilai kolaboratif antara Tri dharma Perguruan Tinggi dan pancasila.

Semoga ini menjadi aksi nyata bagi pengurus UMengajar sehingga mendapatkan kembali jiwa jiwa kritis transformatif. Karena Semangat kritis yang terbangun adalah “ruh” dari gerakan UMengajar  yang membutuhkan suatu pemahaman yang utuh dan kecerdasan dalam membaca dan menangkap fenomena yang terjadi.


Karenanya varian gerakan  mengajar menjadi penting yang diimbangi dengan kajian-kajian yang mendalam baik pada tingkatan paradigmatic, teoritis manapun aplikasi praksisnya. Dengan demikian, UMengajar tidak akan mengalami keterjebakan dalam romantisme sejarah.




Jakarta, 20 MEI 2015
Salam Gerakan Mengajar




Oky Taqwin Abadi

2 komentar:

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa