Kiai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak
Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” disana, setiap hari
sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang
diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan
Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kiai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk
memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau
lupakan:
يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن
إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا
“Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S’yapa datang mengancammu
‘Kan binasa dibawah dulimu!”
Kiai
Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung,
seorang satri dan khadam Kiai Ma’shoem Lasem, meriwayatkan dhawuh
gurunya (Mbah Ma’shoem),
“Pada lambang NU itu ada tali yang
tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas,
Indonesia akan meleleh seperti gelali!”
Bagi pesantren dan NU,
Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan kemerdekaan
Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri.
Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat
kemanusiaan.
Kiai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah “Ongko
Loro” (“Angka Dua”, Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun
dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada
seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya ke HIS
(Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda
untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kiai Kholil Harun, yang
lantas mencegah,
“Jangan sampai kamu jadi londo!” kata beliau, “ayo ikut aku saja!”
Sejak
saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kiai Bisri)
belajar di pesantren Kiai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung
dengan “bahasa aslinya”, Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni
seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama
secara otentik. Belakangan, sesudah diambil menantu, Kiai Kholil Harun
mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru
kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kiai
Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia
tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.
Aku masih
kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar
tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya
ucapan: “…Induuniisiyyaa… Induuniisiyyaa…”
“Brakk!!” aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.
“Orang
Arab ini sombongnya mintak ampun!” Mbah Kung bersungut-sungut, “kenapa
harus ‘in-duu-nii-siy-yaa’? Masak ngomong ‘In-do-ne-sia’ saja nggak
bisa? Dasar sombong!”
Catatan:
“Gelali” adalah gula jawa yang dipanasi hingga meleleh.
Syair di atas sebenarnya oleh Kiai Maimoen diriwayatkan beserta
lagunya. Tapi karena penerima riwayat tidak memiliki cita-rasa nada sama
sekali, riwayat lagunya jadi kacau-balau. Setelah ijtihad melodi yang
susah-payah, dibantu para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP
Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung
(10 – 14 Januari 2013), saya sampai pada rangkaian nada yang semoga
tidak terlalu jauh melenceng dari aslinya.
Jumat, 22 Agustus 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar