Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap
santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul
Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan
mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu,
tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan
akhirat.
Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis
berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam
kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.
Rabu
itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan
seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan
mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab
kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna
dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi
asupan untuk akal dan hatinya.
Namun, usahanya menyimak
penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu
konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak
terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di
otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke
pikirannya.
“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati
ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang
mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali
karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang
mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau
memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah
Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.
“Bahkan
dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut
ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai
keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru,
orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan
dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim
Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya
tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya.
Sosok
itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain
dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan
Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak
kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang
kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat
giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad
yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa
mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.
Setiap
orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti
memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak
terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya
bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran
dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah
rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas
Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan
kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati
halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di
sudut itu.
Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti
pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga
membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.
Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.
Ternyata
Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim
Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari
Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan
kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.
Tidak
berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas
dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad
senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika
merasa wudhunya batal.
Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak
Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian
muncul mengenai Mas Ahmad.
“Imam Zarkhasi pernah sakit perut,
namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai
tujuh belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar
kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya.
Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”,
penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas
Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.
Mas Ahmad putra
sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong.
Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah
membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai
yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas
Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat
rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji.
Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji
para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri
mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya
sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan
dengan ilmu.
Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap
ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi
terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu
mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian
kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya
sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.
Dan kini... Mas Ahmad sedang
melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu
prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan
banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an,
menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad
yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.
Fatimah
percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada
Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim
Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah
tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan
Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok
Lelaki Ta’lim Muta’allim.
Jumat, 22 Agustus 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar