Ide dan pemikiran ente itu bener-bener cemerlang nif…andai saja kamu
hidup dizaman Imam Syafi’I, Imam Hambali atau Imam Malik dan Imam
Khanafi tentu kamu akan menjadi fuqoha terkenal yang kedudukannya gak
jauh beda dengan mereka” Begitulah temanku mencoba bercanda pagi itu.
Saat aku selesai memakai sepatu dan merapikan bajuku, dua madah
pelajaran pagi ini sudah kupersiapkan didalam tasku, Hadits sohehi
muslim dan kitab Bidayatul Mujtahid. Kitab Bidayatul Mujtahid adalah
salah satu kitab favoritku, begitu juga dengan syekh Muhammad Romli
pengajar kitab tersebut adalah salah satu dosen yang aku segani. Hampir
semua penjelasannya aku catat rapi dalam bukuku dan ku abadikan, beliau
betul-betul mengusai isinya sehingga ketika beliau menjelaskan begitu
lues seolah yang berbicara di hadapan mahasiswa bukanlah Syekh Muhammad
Romli lagi melainkan salah satu dari empat madzhab yang hadir di
tengah-tengah mahasiswa.
Didalam kitab tersebut pembahasannya terfokus pada seputar hukum fiqih
yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Perbedaan pendapat di
tengah-tengah para ulama adalah suata hal yang biasa dan tidak asing
lagi bagi para pelajar yang memperdalam kajian kitab tersebut. Meski
mereka berbeda pendapat dalam suatu pokok permasalahan namun mereka
tetap berjalan beriringan dan bergandengan di atas ajaran kitab suci al
quran dan sunah RasulNya. Sungguh suatu rahmat yang sangat besar bagi
saya bisa mengkaji dan memeprdalamnya. Minimal kita faham terhadap hujah
atau dalil yang dijadikan landasan mereka dalam menentukan ijtihadnya
sehingga kita tidak mudah menyalahkan perbedaan pendapat orang lain
ketika sudah kembali di tengah masyarakat yang semakin kompleks. Setelah
semuanya siap kamipun segera turun dari asrama menuju kampus, sesekali
kami saling melempar tanya jawab mengenai pelajaran yang sudah
dipelajari.
"Apa hukumnya wali nikah menurut Imam Maliki?" Andi teman sekelasku
mengawali tanya jawab itu dengan memberikan pertanyan yang simple
kepadaku.
Setiap langkah terukir indah bersama lembaran cerita bersama
teman-temanku di tanah para wali yang penuh sejarah nan sejuk dan tenang
ini. Keindahan pagi dengan kehangatan cahaya mentari yang tak bisa ku
ungkapkan dengan kata-kata semakain menambah kenikmatan perbincangan
kita. Subhanallah maha suci Allah kuasa sang pencipta yang maha indah,
seniman yang maha agung, raja dari segala raja.
Setiap hari aktivitasku disibukan dengan sebatang pena dan berkelahi
dengan buku-buku pelajaranku, belajar berorganisasi adalah salah satu
kegiatan yang kutekuni untuk mengisi kekosongan waktu sembari sesekali
bersilaturrahmi dengan para asatidz mahgriby untuk mempererat tali
sillaturrahmi antara pelajar dan pengajar. Disisi lain untuk menjaga
keharuman nama pelajar Indonesia di mata mereka. Saya, teman-teman dan
semua pelajar Indonesia yang menghabiskan waktunya untuk menggali ilmu
di negeri para wali ini terkenal dengan kepintaran, kecerdasan, kebaikan
dan kesopan santunannya, hampir semua pelajar disini bisa dikatakan
unggul dan berpretasi sehingga semua dosen sangat bangga. Seiring
berputarnya waktu tanpa terasa teman-temanku telah menyelesaikan program
master dan doktornya, karena merasa sudah mendapatkan modal yang cukup,
banyak diantara kamii yang pulang ketanah air mengabdikan dirinya di
tengah masyarakatnya dengan meninggalkan keharuman jejak-jejak langkah
kakinya yang mulia.
Tibalah saatnya para generasi baru menggantikan kedudukan selanjutnya,
meneruskan perjuangan kakak-kakak kelasnya, sementara aku masih betah
disitu meneruskan program masterku bersama teman-teman baru. Jumlah
pelajar Indonesia tahun ini mengalami penurunan 10 persen, tahun
sebelumnya mencapai 80 pelajar dan sekarang hanya 72 pelajar. Sementara
pelajar baru yang menempuh master ada 10 semuanya sepakat dan satu
tujuan untuk mendaftar di fakultas yang sama pula yaitu di ‘’Universitas
Oranggenah’’ Tetuan. sebuah kampus impian dan kebanggan bagi para
pelajar yang ingin melanjutkan program masternya, disamping terkenal
juga telah teruji mampu mencetak sarjana-sarjana yang handal,
berkualitas dan siap di terjunkan di tengah masyarakat. Aku adalah salah
satu dari 10 pelajar tersebut. Alhamdulillah beasiswa yang kami
dapatkan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kami memiliki sebuah asrama
di kota ini, tepatnya di Martil. Orang-orang disini sangat ramah.
Tetangga-tetangga satu komplek biasanya berkumpul sore-sore. Selalu ada
aja hal menarik yang dibahas.
Sore itu, ada seorang tetanggaku, namanya Mr. Robert, lelaki setengah
baya yang masih giat dalam lembaga social, Ia juga salah satu dosen
bahasa prancis di kampus kami. Ia adalah seorang yang alim. Selalu
menenteng kitab sucinya kemana pun ia pergi. Berkata seperti Nabi,
hampir tak ada cacat dalam setiap perkataannya. Apapun masalah yang
menimpanya Ia tetap sabar.
Sore itu cuaca masih menyisakan panas. Jalanan berdebu, Mr. Robert
berjalan disekitar halaman rumahnya. Diantara ratusan anak didiknya Ia
memiliki dua mahasiswa kesayangan. Keduanya berasal dari Negara yang
berbeda, Ahmad Nurhuda adalah salah satu pelajar yang baik nasibnya
meski kecerdasan berfikirnya lambat dan minimnya nilai prestasi yang
diraihnya namun Ia sangat di perhatikan dan disayangi oleh Mr.Robert
karena perangainya yang baik dan memiliki ahlak yang terpuji. Satunya
lagi adalah seorang pemuda berkulit putih dan berambut lurus berbadan
tinggi namanya Abdullah, disamping mendapatkan beasiswa tinggi dari
negaranya Malaysia dia juga mendapatkan beasiswa dari Maroko yang sama
tingginya. Itu semua berkat kecerdasan dan keunggulan prestasinya selama
belajar di Maroko, namun ada yang disayangkan dibalik kepandaiannya, ia
sering acuh tak acuh dengan temannya, sombong di depan dosen dan
meremehkan teman. Meski keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan yang
berbeda namun Mr. Robert sangat menyangi mereka, ia tidak pernah
membeda-bedakan dan membanding-bandingkan di antara mereka semuanya
mendapatkan kasih sayang dan perhatian yan sama oleh Mr. Robert.
Rutinitas sehari-harinya mengajar dikampus dan malamnya memberikan
pelajaran bahasa prancis secara cuma-cuma kepada dua pemuda tersebut
karena masih sulitnya mereka berdua untuk berbica prancis dan seminggu
sekali ia pergi ke gereja untuk beribadah.
Tapi alangkah kagetnya dia sore itu mendapat kabar kalau salah satu dari
murid kesayangannya telah pergi meningalkan kampus entah kemana
perginya, tanpa memberikan pesan ataupun kabar sebelumnya.
"Bagaimana dengan kuliahnya, bagaimana dengan kursus bahasa prancisnya
dan bagaimana dengan tanggung jawabnya terhadap pelajaran yang Ia
tinggalkan’’ gumamnya dalam hati dengan penuh ke khawatiran.
Sambil mengusap air matanya ia mendekatiku yang dari tadi memperhatikannya dan tiba-tiba ia berkata.
"Bersabarlah terhadap ujian Tuhan yang datang menimpa kita karena ujian
Tuhan bukan hanya berupa kesedihan, kekurangan ataupun penyakitan namun
kesenangan, kepintaran dan kemegahan juga merupakan ujian dari Tuhan,
mampukah kita menghadapinya, mengembannya dan menggunakan
kelebihan-kelebihan yang Tuhan berikan kepada kita kepada jalan yang
semestinya.’’ Jelasnya kepadaku..
Melihat keadaan itu tak terasa mataku mendung ingin menitikkan air mata,
ditengah-tengah keheningan tiba-tiba datanglah Abdullah mahasiswa
kesaynagnnya asal Malaysia. Ia mendekati dosennya dengan terburu-buru
dan mencoba menanyakan peristiwa yang tengah terjadi.
“Ada apa Pak?”
“Ahmad telah pergi”
“pergi kemana pak?”
“Aku juga tak tahu pastinya, tiba-tiba aku di telfon oleh teman yang sekampus dengannya dan memberitahukanku tentang keadaanya”
Matanya tak henti menitikkan air mata. Sesekali ia batuk karena memang
Mr. Robert sudah lama mengidap penyakit batuk dan ashma. Ia tampak sedih
sore itu.
“Apakah tuan mau mencoba untuk menjelaskan peristiwa ini ke pihak
kampus?” Aku mencoba menawarinya solusi supaya tidak terjadi salah paham
antara Ahmad Nurhuda dengan pihak kampus. Ia kemudian menatapku dan
perlahan beranjak berdiri. Ia memegang pundakku.
“Mr.Anif, segala sesuatu kejadian sudah ada dalam fikiran Tuhan. Ia
telah lama merancang segalanya. Tuhan itu penyayang. Tuhan itu penyabar.
Ia mungkin sedang menguji kesabaranku, kesabaranmu dan kesabarannya
jua. Yakinlah, Tuhan selalu memberi yang terbaik. Tuhan tak pernah
salah. Akan ada rancangan terbaik untuk kita. Termasuk pula untuk
mahasiswa kesayanganku. Namun satu hal yang perlu kau tahu bahwa Ahmad
adalah seorang yang baik budinya, baik ahlaknya dan terpuji sifatnya.
Sebelumnya Ia juga tidak pernah melakukan hal semacam ini dan aku yakin
kepergiannya itu pasti mempunyai alasan tersendiri, alasan yang terbaik
baginya. Namun sebaik-baik alasannya tetap saja ini adalah sebuah aib di
mata para dosennya karena telah meninggalkan kampus tanpa izin dan
secara otomatis bisa berdampak pada teman-teman lainnya khususnya yang
dari Indonesia. Aku berharap semuanya kan baik-baik saja, semoga program
mastermu cepet selesai dengan hasil yang memuaskan minimal bisa
menutupi kekhilafan temanmu” jelasnya panjang lebar
"ya Pak" tanpa jeda waktu yang lama kujawab perbincangan itu dengan simpel
Begitulah Mr. Robert, betapa Ia adalah seorang yang baik, dia selalu
membantu kami, selama sepengetahuanku sekalipun Ia tak pernah membuat
orang sakit hati. Ia sangat rukun dalam bertetangga. Segala sesuatu yang
terjadi selalu Ia yakini adalah keinginan Tuhan. Sehingga dengan itu ia
bisa ikhlas dan selalu tersenyum.
Begitu pula dengan tetangga-tetangga yang lain. Semua baik-baik saja,
semua sangat ramah dan tak pernah menggunjing kami ataupun Mr.Robert.
Meskipun kami adalah pendatang mereka tak pernah menyinggung dan
menyepelekan kami.
Tapi seketika itu semua berubah. Para dosen dikampusku tak lagi ramah
kepada kami. Pelajar pribumi juga mulai mengernyitkan dahi setiap
melihat pelajar Indonesia. Orang di sini mulai enggan berteman dan
menjauh dari kami. Semua berawal dari tragedi kepergiannya Ahmad yang
menghilang tanpa jejak. Para dosen beranggapan bahwa Ia manusia yang
tidak tau terimakasih dan tidak mau menggunakan waktu sebaik-baiknya,
semua dosen paham betul bahwa Ahmad adalah pelajar yang prestasinya
rendah namun mereka telah memberinya sesuatu yang terbaik baginya agar
belajarnya terus semangat. Namun sebagai balasannya Ia malah kabur dari
kampus seolah tidak punya tanggungan dan beban. Perbuatannya telah
mengecewakan hati para dosennya karena telah menyepelekan perhatiannya
kepada Ahmad.
Semenjak itulah para dosen sakit hati karena merasa kampusnya telah
dibuat mainan oleh pelajar yang kurang sungguh-sungguh.. Bagaikan kilat
berita tersebut menyebar begitu cepat ke berbagai kampus ternama di
Maroko. Imbasnya para pelajar Indonesia kini tak lagi mendapatkan
perhatian dan kepedulian dari mereka dan kampusnya.
Waktu yang terus berputer seperti boneka yang telah menina bobokanku
tanpa terasa 1 tahun telah berlalu. Sore itu matahari menyingsing di
ufuk barat membuat bayangan semu memantul melewati celah-celah jendela
asramaku, angin berhembus syahdu memberikan seribu makna, sesekali
ranting-ranting pohon dibelakang asramaku saling menyentuh karena
belaian angin yang malu-malu, aku tertunduk seorang diri di kamar
asramaku menyelami kata demi kata kitab yang aku baca, Al Hikam kariya
Ibnu Ato`ilah adalah kitab yang selalu menemani hari-hari sepiku.
Meski ribuan doa telah kupanjatkan namun hasilnya tetap aja nihil,
disana sini pelajar Indonesia menjadi buah bibir di tengah kalangan para
dosen, setiap kali ada mahasiswa baru yang ingin mendaftar ke
universitas oranggenah prosesnya selalu di persulit dan menyebalkan.
Seolah mereka sedang membalas kekecewaannya tentang peristiwa 1 tahun
yang silam. Aku sendiri tak tahu kenapa orang yang beriman, memiliki
pendidikan dan beragama Islam sifatnya kurang bisa toleran, sulitnya
memaafkan dan dengan mudahnya mengklaim orang lain.
"Jika sudah ketahuan jeleknya maka semua juga pasti jelek, sudah mending
gak usah menerima pelajar Indonesia lagi yang hobynya bermalas-malasan
dan tidak mau menggunakan kesempatannya dengan sebaik-baiknya’’ cetus
salah satu dosen di depan dosen lainnya.
Karena sulitnya memasuki kampus tersebut, banyak dari teman-temanku yang
putus asa hingga ahirnya mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk
mendaftar ke kampus lain yang tentunya lebih aman dan nyaman. Sementara
teman-temanku yang satu kampus denganku di universitas orangenah juga
mulai merasakan kejenuhan karena nilai yang didapat selalu kurang dari
targetnya padahal mereka sudah belajar semaksimal mungkin dan yakin
seyakin-yakinnya kalau jawaban yang ditulis sesuai dengan soalnya. Di
antara merekapu ahirnya banyak yang memilih untuk pindah ke kampus
lainnya kecuali Slamet ia memutuskan pulang ke tanah air karena ibunya
sakit-sakitan dan tidak ada yang merawatnya karena dialah anak semata
wayang di keluarganya.
Besoknya Slamet sudah bersiap-siap menuju bandara dengan menenteng koper
hitamnya, aku dan Zainal mebawakan bungkusan dan tas gendongnya
mengantarkannya ke Bandara Casablanca. Di bandara, izin dan passport
semuanya sudah beres tibalah detik-detik perpisahan kami dengan Slamet.
"Met hati-hati dan salam buat ibu dan bapakmu dirumah’’ ucapku sambil memeluk tubuhnya yang kurus dan tinggi
"Kalo ada salah yang disengaja atau tidak tolong di maafin yah Met,
hati-hati dijalan’’ susul Zainal setelah ku melepaskan pelukannya.
Kami berdua mengucapkan salam perpisahan dan melambai-lambaikan tanagan
kepadanya sampai bayangan Slamet menghilang dari pandangan mata kami.
"Duduk dulu nif ane mau minum’’ ujar Zainal yang dari tadi bibirnya
kering menahan haus untungnya Ia membawa minuman yang di beli sebelum
berangkat. Sambil menunggu Ia minum akupun duduk disebelahnya. Sebuah
kursi terbuat dari aluminium yang panjangnya memuat lima orang
berjejer. Beberapa kemudian seorang perempuan duduk disampingku.
Perempuan kulit putih dengan tinggi sedikit lebih dari badanku.
Rambutnya berwarna hitam tebal, matanya lebar dan bibirnya agak tipis.
Aku seksama memperhatikannya karena Ia duduk hanya beberapa senti saja
disebelahku. Ia tersenyum tatkala pandangan kami tepat berhadapan.
Senyumnya manis sekali.
“Hello” Ia menyapaku. Aku pun tersenyum dan membalas “Hello”. Kami pun
mulai berbincang-bincang dengan bahasa Inggris. Ia orang Mongol dan
nampaknya juga masih belum bisa berbahasa Inggris dengan baik.
“Mau kemana Tuan?”
“Mau kembali ke Tetuan, baru saja kami berdua mengantarkan temeanku balik ketanah air Indonesia”
“Ow, kenapa harus balik?”
“Mungkin sudah saatnya Ia harus balik Non, masalahnya hanya gara-gara
merasa kesulitan dan dipersulit belajarnya akhirnya ia memutuskan pulang
melanjutkan kuliahnya di Indonesia sekalian merawat Ibunya yang sedang
sakit. Kalo Nona mau kemana?” aku mencoba bertanya.
“Saya mau balik ke Mongol. Saya seorang pelajar juga disini, tapi saya
mengambil jurusan Koki alias masak memasak dan sekarang sudah selesai”
Ucapnya sambil tersenyum.
“kamu temannya Arif?” Ucapnya lagi sambil memandang wajahku
Aku bingung kenapa ia tahu Arif
“Arif yang mana?” Aku pura2 tidak tahu.
“Arif yang badannya tinggi agak gemuk, mukanya bundar, Ia orang Indonesia” Ia nampak polos dalam berbicara.
Namun aku kaget kenapa ia bisa tahu nama temenku? Sepengetahuanku Arif
itu kuper, suka berdiam diri dikamar dan paling ogah berteman dengan
cewek non muslim kenapa Arif bisa kenal?. Penasaranku terjawab setelah
ia menyatakan dirinya kalau dia itu muslim.
“Memang aku sebelumnya beragama Kristen namun semenjak mengenal Arif banyak sekali perubahan pada diriku terutama pada agamaku ”
Aku kaget mendengar penjelasannya, tak menyangka kalau Arif bisa menunjukan jalan hidupnya ke arah yang benar.
“Meski Arif keliatan kuper dan pendiam tapi Ia sangat baik padaku. Dia
sering membantuku membayarkan tagihan listrik dan mengajariku cara
menawar ketika belanja dipasar kebetulan asramaku juga dekat dengan
asrama kalian hanya saja kita baru kali ini bertemu. Akupun tahu kalau
sekarang dia juga berhenti kuliah lantaran dosennya yang killer dan
kurang toleransi, makanya Ia memilih pindah ke kampus lain. Ternyata Ia
pindah karena menjadi korban kekecewaan akibat ulah kakak kelasnya yang
dulu pernah meninggalkan kampus tanpa sepengetahuan dosennya. Tentunya
bukan hanya Arif yang jadi korban semua ini tapi aku yakin kamu dan
temen2mu juga termasuk bagian dari korban kekecewaan tersebut.. iya
kan?” Jelasnya panjang lebar.Sambil meyakinkan pembicaraanya bahwa apa
yang dikatakannya adalah benar.
‘’ Dan begitulah orang di sini. Terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dan
mudah mengklaim orang lain. Apakah hanya gara-gara satu murid jelek
terus semuanya juga jelek? Apakah setiap orang yang datang dari Negara
yang sama juga sudah pasti kelakuannya sama?. Kalau memang benar
bukankah memaafkan adalah hal yang lebih mulia? Bukankah sesama muslim
itu saudara dan harus saling hormat menghormati? Namun kenapa mereka
tetap saja menyimpan rasa kebencian dan kekecewaan dalam hatinya? Aku
selalu bertanya seperti itu. Bahkan aku pernah membuat artikel seperti
itu di koran. Aku dikritik oleh banyak pihak. Tapi sesungguhnya aku
hanya mencari sebuah kebenaran. Kebenaran yang sulit sekali disini.
Kebenaran yang mungkin hanya dimiliki Tuhan. Itulah sebabnya aku memilih
kembali ke Mongol setelah aku selesai belajar dari pada membuka
restorant disini.’’ Tuturnya lagi dengan nada emosi.
Aku hanya tertegun mendengar penjelasannya. Matanya berkaca-kaca. Ia
nampak sedih harus meninggalkan kekasihnya dan cita-citanya yang
berencana ingin membangun restorant di tengah kota ini setelah
selesainya dari kuliah..
Ia pun melanjutkan pembicaraannya, “Buat apa agama dipertaruhkan kalo
toh pada akhirnya perpecahan terjadi karena agama. Apa lebih baik tidak
ada saja agama tersebut. Cukup kita meletakkan tuhan dihati kita dan
berdo’a dalam kamar sendiri. Mengunci pintu rapat-rapat ?, meski aku
baru masuk Islam kemaren tapi aku selalu mendapatkan pelajaran agama
dari semenjak kecil. Kebetulan ayah saya adalah seorang pendeta yang
taat. Ia selalu menjunjung tinggi Tuhan. Ia selalu mengajarkan bahwa
Tuhan itu baik, Tuhan itu selalu tersenyum dan Tuhan tak pernah diam.
Lantas apakah dengan ada kejadian seperti ini kita lantas menyalahkan
semuanya. Karena saya pun sekarang begitu tau tentang Islam. Saya banyak
belajar membaca di buku-buku. Islam itu agama yang baik. Semua agama
juga baik.’’
Matanya berkaca-kaca, waktu pun harus memisahkan kami. Sebelum
meninggalkan kami dia memberikan kartu identitasnya kepadaku. Sungguh
sosok yang begitu tegar dan berpandangan luas. Seandainya setiap orang
berfikiran seperti Nona ini dan berkelakuan seperti Mr. Robert tentunya
dunia ini akan damai, tak ada kekecewaan dan tak ada tangis yang
akhirnya merobek hati. Semua saling rangkul, mendukung dan melengkapi
antara satu dengan yang lainnya.Hiduppun pasti terasa indah dan bahagia.
Aku pun berjalan meninggalkan Nona itu dan berharap semoga usahanya tak
ada yang sia-sia. Dan semoga ia baik-baik saja.
*SELESAI*
Minggu, 22 Desember 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar