"Tulisanmu jelek. Enggak mutu. Aneh. Enggak masuk akal."Apa yang akan kamu lakukan bila tulisan kamu dikatakan seperti itu?
Marah?
Terus kalau marah mau berhenti nulis? Memusuhi yang menjelekkan?
Terus efeknya apa untuk tulisan dan kreativitas kamu?
Mundur dari dunia penulisan?
Ah lembek sekali mental kamu kalau hanya serangan seperti itu, sampai harus mengubur impian dan hasrat menulis kamu.
Bayangkan saja ketika kamu sedang suka sekali membuat teh, lalu teh yang menjadi kesukaan kamu dibilang orang teh yang paling memuakkan. Apa kamu jadi berhenti membuat teh? Dan berhenti meminum teh juga?
Menulis sama seperti bergaul. Ada yang suka ada yang tidak suka. Bahkan sebaik apapun kamu, selalu akan ada orang yang tidak suka.
Kalau untuk saya, sebuah kritikan yang tidak masuk akal, yang asal main serang itu seperti angin yang berembus kencang. Angin tidak menetap. Angin akan berlalu.
Yang menetap adalah diri kita.
Maka terus saja menulis. Meningkatkan kualitas tulisan kita.
Tidak semua orang harus suka dengan tulisan kamu karena kamu dan pembaca berbeda. Ada pembaca yang phobia dengan kecoa lalu kamu cerita tentang persahabatanmu dan kecoa. Dia pasti akan bilang karya kamu sampah.
Perbanyak baca buku bagus. Kenali, menulis bagus seperti apa. Kenali ciri khas dan karakter menulis kamu itu seperti apa.
Abaikan apa kata orang lain.
Dengarkan apa kata redaktur media, jika karya itu kamu kirim untuk media.
Dan ketika semakin marak persaingan menulis di FB, sadarilah bahwa dalam menulis yang paling penting adalah kualitas tulisan kamu. Bukan kualitas hujatan kamu pada orang lain. Masuklah komunitas yang berisi orang-orang positif sehingga energi positif itu bisa kamu dapatkan.
Jadi kalau suatu saat ada karyamu yang sudah muncul di media dibilang jelek, jangan berhenti menulis. Yang bilang jelek belum tentu bisa berkarya lebih bagus darimu. Percayalah.

0 komentar:
Posting Komentar