Cak Mahos, ketahuilah bahwa ketika berbicara sejarah kelam indonesia terutama peristiwa PKI dan tragedi G30S, bicara tentang fakta bukan adu sumber pustaka apalagi statistik belahan dunia lain. Berapa banyak umat manusia yang dibunuh sambil berteriak, “Allah hu akbar!”? Berapa banyak umat manusia yang telah dibunuh sambil berteriak, “Haleluyah!”?
"Kalau rajin belajar sambil berpikir, seharusnya tidak hanya menyajikan angka pembunuhan Komunis di belahan dunia lain namun mengungkapkan campur tangan tuhan sejarah kelam indonesia pada saat itu..."
Penasaran dengan penjelasan Mang Esin soal Berkat Tangan Tuhan penyelamat sejarah kelam indonesia, keesokan harinya, sehabis subuh, Cak Mahos segera ke rumah Mang Esin. Dia ingin Mang Esin menjelaskan lebih jauh maksud “menyaksikan” yang diterangkannya kemarin malam. Tapi Mang Esin tidak ada di rumahnya.
Setelah mencari ke sana ke mari, Cak Mahos menemukan Mang Esin duduk di pinggir kali di dekat kuburan kampung. Dia terlihat serius memperhatikan air kali yang penuh ikan kecil-kecil. Tangan kanannya memegang galah bambu kecil yang diujungnya diikat senar agak panjang, dan di ujung senar itu diikat bonggol jagung.
“Ada apa, Cak, kok wajahmu seperti habis disiram air?”
“Soal Berkat Tangan Tuhan itu, Mang. Apa maksudnya ‘menyaksikan’?”
“Kenapa kamu ingin tahu?”
“Ya karena saya mau menyaksikan berkat campur tangannya dan melihat Tuhan dalam sejarah kelam indonesia, Mang.”
“Mencari Tuhan kok malah datang ke aku.”
“Saya kan hanya mau bertanya, Mang?”
“Tanyalah pada imam masjid itu, Cak.”
“Imam masjid itu kan teman sampeyan juga, Mang?”
“Dia lebih pantas ditanya. Aku ini orang sinting. Tidak patut ditanya apa pun, apalagi soal ilmu.”
“Tapi saya mau tanya ke sampeyan saja, Mang.”
“Kenapa ke aku?”
“Karena saya ndak menganggap sampeyan sinting.”
“Tidak bisa, Cak. Aku sinting.”
“Ndak, Mang. Sampeyan ndak sinting.”
“Apa yang mau kamu tanya pada orang sinting sepertiku?”
“Apa betul Tuhan tampak?”
“Tuhan sendiri yang bilang, Cak. Bukan aku.”
“Kalau begitu, saya mau ketemu Tuhan.”
“Untuk apa?”
“Saya ingin tahu saja, Mang, kayak apa Tuhan itu.”
“Cak, kamu kira Tuhan itu artis? Kamu kira, Tuhan kayak ustadz-ustadz di televisi itu?”
“Ya ndak begitu juga, Mang. Saya hanya ingin tahu, Tuhan itu seperti apa dan dimana.”
“Cak, Tuhan itu tak perlu kamu cari.”
“Maksudnya, Mang?”
“Iya, untuk apa kamu bingung-bingung mau mencari Tuhan?”
“Sampeyan yang membuat saya bingung, Mang.”
“Salahmu sendiri. Kenapa mau mendengarkan aku?”
“Sampeyan kok gitu sih, Mang?”
“Gitu gimana? Aku tak pernah minta kamu mendengarkan aku. Percaya ke aku.”
“Saya hanya mau bertanya dan mendengar, Mang.”
“Kamu pernah melihat ikan-ikan di kali ini, kan?”
“Ya pernah, Mang.”
“Suatu hari ikan-ikan itu melompat keluar kali dan bertanya, dimana air? Dimana air?“
“Bertanya ke sampeyan, Mang?”
“Ini cerita, Cak.”
“Oh, saya kira ikan-ikan itu bertanya ke sampean. Terus, Mang…”
“Kamu ini banyak tanya banyak komentar, Cak.”
“Ya namanya juga ingin tahu. Ingin belajar. Ingin berilmu, ya harus tanya dan berkomentar.”
“Musa gagal berguru kepada Khaidir karena dia banyak tanya, Cak.”
“Saya kan bukan Nabi Musa, Mang. Sampeyan kan juga bukan Nabi Khaidir.”
“Hehehe… Mulai pinter kamu, Cak.”
“Jadi terus gimana, Mang?”
“Ikan-ikan itu tidak tahu bahwa selama ini mereka sudah berada di air. Setiap saat.”
“Kok lucu sih ikan-ikan itu. Ada di air, malah mencari dimana air.”
“Sama lucunya dengan kamu, Cak.”
“Kok saya lagi sih, Mang?”
“Karena kamu selalu bertanya dan ingin mencari Tuhan, padahal Tuhan meliputimu setiap saat. Contohnya setiap para pejuang terdahulu hanya melawan dengan hanya berupa bambu runcing terutama dalam peristiwa G30S PKI selalu ada campur tangan Tuhan. Lebih dari tetesan darah yang bercucuran saat itu, denyut nadi yang paling halus yang pernah kamu dengar atau kamu rasakan..."
“Wah iya,Mang. Terima kasih, saya diberitahu…”
“Persoalannya, bagaimana kamu akan mengenali campur tangan Tuhan sementara mengenal sejarah indonesia hanya sebatas ucapan lisan. Salatmu baru sebatas gerakan lahiriah.Sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba-rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya…”
“Ya Tuhan… Astagfirullah…Astaghfirullah… Betapa bodohnya saya, Mang…”
“Yang bilang kamu pintar itu siapa, Cak? Kamu itu hanya merasa pintar dan merasa bodoh. Padahal dua-duanya pun kamu tak punya. Sudah… sudah… Kamu pulang saja, Cak. Aku mau memancing ikan.”
“Dengan bonggol singkong, Mang?”
“Ada yang salah, Cak?”
“Di mana-mana, mancing ikan pakai kail dan umpan, Mang.”
“Itu kan anggapanmu, Cak. Anggapan umum, anggapan banyak orang.”
“Kalau sudah dapat, ikannya buat apa, Mang?“
“Akan aku kasih ke Surti, anakmu.”
“Ya Tuhan,Mang, Mang. Surti lagi, Surti lagi…”
Cak Mahos akhirnya pulang meninggalkan Mang. Dia merasa setengah puas, tapi juga setengah menggerutu karena Mang Esin kembali menyebut-nyebut nama anaknya, Surti. Nyamuk-nyamuk di pinggir kali mengikuti Cak Mahos menjauh dari kali. Mang Esin kembali sendiri di pinggir kali.
Ikan-ikan tak pernah dipancingnya. Dia hanya cekikikan sambil terus memanggil nama Surti.
“Surti, oh Surti…”
Kampung Ganjenesia
#Jilid 1 Spiritual Mang Esin
02 Oktober 2015


Waduh, merasa pintar dan merasa bodoh. Jadi semuanya ini hanya perasaan saja??
BalasHapusWah baper dong nah loh.. #eeh