" Mari anak negeri bangun kembali sadarkan diri dari tidur lelap untuk bangun negeri indah ini Agar proklamasi kembali bermakna."
Makna Pentingnya Proklamasi Indonesia adalah sesuatu yang harusnya kita sebagai rakyat indonesia harus paham benar bagaimana vitalnya peran dari proklamasi untuk mendukung kemajuan negeri ini saat ini.
Deklarasi adalah starting point, darimana panah dilepaskan, melesat lurus, mencong ke kiri atau ke kanan tergantung koordinat titik panah dilepaskan. Deklarasi adalah juga entry point, pintu gerbang; hendak kemana bahtera dilayarkan, ke barat, timur, utara atau ke selatan, tergantung political will para awak kapal.
Deklarasi adalah starting point, darimana panah dilepaskan, melesat lurus, mencong ke kiri atau ke kanan tergantung koordinat titik panah dilepaskan. Deklarasi adalah juga entry point, pintu gerbang; hendak kemana bahtera dilayarkan, ke barat, timur, utara atau ke selatan, tergantung political will para awak kapal.
Deklarasi atau proklamasi adalah pengumuman atau pernyataan (statement) atau itikad (commitment). Atau juga iklan, bahwa sesuatu telah ada atau muncul dengan segala visi dan misinya. Maka, produk baru diiklankan, anak lahir dibesarkan, berkeluarga diakad-nikahkan, merintis bekerja disumpah jabatan, atau negara berdiri, diproklamasikan. Begitulah, kehidupan mesti dimulai, sayap mesti dikepakkan, layar mesti dibentangkan, langkah mesti diayunkan, segala sesuatu mesti diniatkan.
Perayaan 17-an sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Dari pemerintah pusat hingga daerah, dari kelompok darma wanita pusat hingga ibu-ibu di lingkungan RT/RW. Mereka merayakannya dengan hiburan, sukacita dan bersenang-senang melalui permainan dan lomba seperti balap karung, makan kerupuk, dan panjat pinang. Bahkan ada yang membuat karnaval mobil hias, sepeda hias dan karnaval anak-anak dengan hiasan baju adat tradisional, dan lain sebagainya. Nampaknya proklamasi masih menjadi momen penting bagi bangsa yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa ini.
Namun, pertanyaannya, masih pantaskah perayaan Proklamasi kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini hanya dengan merayakannya seperti itu? Apakah tidak ada cara lain yang lebih arif dan mendidik demi pembangunan karakter dan generasi yang lebih baik nantinya? Atau memang kita nggak perduli? Ingat, perayaan-perayaan semacam itu telah menghasilkan generasi yang pragmatis, individualis, hedonis dan materialis akut.
Kita sudah sangat lama mengkaitkan, bahkan mensinyalir kata kemerdekaan (kebebasan-red) dengan proklamasi. Jika proklamasi diartikan kebebasan maka yang terjadi adalah liberalisme yang bermuara jungle law dengan jargon-jargonnya yang seram, semisal homo homini lupusnya Thomas Hobes atau struggle for life dan survival the fittest-nya Darwin. Luqman Hadibroto, kandidat doctor pada Universitas California, Berkeley USA mengulas fenomena ini dengan sangat lugas dalam sebuah esei kemerdekaan dengan judul: “menentang penjajah, berjiwa penjajah”.
Proklamasi adalah sebuah niat, statemen atau komitmen yang secara vertikal harus syahih, valid menurut syara’ dan secara horizontal diterima secara ilmiah dan empirik oleh logika akal sehat sosial kemasyarakatan yang universal. Maka proklamasi secara vertikal adalah sebuah permakluman untuk ibadah kepada Allah dan secara horizontal merupakan kontrak sosial (social contract).
Meminjam istilah John Locke : untuk tunduk dan taat kepada kaidah-kaidah negara sebagai manifestasi ibadah kepada Allah.
Seandainya proklamasi adalah niat ibadah kepada Allah, otomatis negara yang lahir adalah sebuah reference group atau in group, sebuah negara tempat mengabdi dan bernaung tempat menggantungkan seluruh harapan dan cita-citannya tanpa takut dimurkai Allah. Oleh karena abdinya, negara tersebut akan dijunjung tinggi: dipikul duwur dipendem jero, ditimang-timang bagai menimang kuning telur, tidak mungkin mereka berani mengkhianatinya.
Lantas, kesalahan berasal dari mana?
The sin of legislative adalah sebuah idiom yang popular dalam teori politik. Sebelum republik berdiri, legislator adalah konseptor, para founding father. Ketika menghadapi tekanan dari berbagai kelompok kepentingan, mereka gamang, sehingga ragu untuk tengadah ke langit.
Akhirnya konsepnya melenceng dari kehendak Ilahiah yang berakibat kehancuran hari ini. Walaupun konsepnya diamandemenkan berulangkali, paling banter seperti Amerika maju terus tapi despot dan arogan.
Kita tidak usah berandai-andai,
karena nun di alam sana ada founding father yang yakin: kumandangnya kalam ilahi ditunggu dan didukung oleh jutaan nurani yang bersih yang mendambakan negeri rahmatan lil alamin.
Bunyi teks proklamasi 1945:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia, Soekarna-Hatta.”


0 komentar:
Posting Komentar