Senin, 15 Juni 2015

Surat Sesosok Suara Khas


Assallamuallaikum wr.wb

Bagaimana harimu disana? Masihkah akrab dengan kesibukan itu? Hidupku disini berusaha berdamai dengan cuaca yang tak menentu dan kondisi yang kadang teramat sulit untuk dirasakan.

Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Bahkan, aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kulakukan saat ini. Yang aku tahu hanya satu, bahwa aku menuliskan surat ini karena beberapa hari yang lalu aku seperti melihat sosok hadir dalam mimpi, ingin rasanya mendengarkan suara yang khas itu.

Aku tidak tahu kenapa diri jadi begini. Yang jelas aku selalu bahagia setiap kali ada di dekatmu. Awalnya aku tak pernah percaya dengan ungkapan bahwa bahagia itu sederhana. Namun, setelah aku merasakannya sendiri, aku pun percaya.

Ya, bahagia itu sederhana. Hanya dengan mendengarmu memanggil, itu sudah cukup membuat penyemangat baru untuk melewati hari. Mungkin kamu menilai aku berlebihan, tapi itulah yang kurasakan. 

Sudah tak terhitung aku meliwati hari demi hari jauh dari rutinitas itu, rutinitas yang membuat mata selalu bisa menatap tanpa sekat dari kedekatan lewat rutinitas. 

Mata yang selalu menatap dalam sebuah kediaman, ingin sekali mulut ini untuk berbicara sesuatu tetapi terhalang dengan mereka, mereka yang selalu  di sekitarmu.

Mungkin memang hari itu untuk mendengarkan sesosok suara yang khas itu, pada awalnya hati masih meragu untuk bisa mendengar, entah kenapa tangan tidak bisa diam langsung mengambil handphone dan mencari daftar riwayat kontak.

Pencarian terhenti pada sesosok nama yang telah muncul sempat terdiam sejenak untuk berfikir setelah sedikit lama berfikir tetap saja melanjutkan untuk menekan tombol panggil.

Setelah lama mendengar suara yang khas itu dari kejauhan, Andai aku bisa mendengar itu sedikit lebih lama. Tetapi kondisi yang tak mendukung aku sudahi hari itu untuk mendengarkan suara yang khas itu, terasa cepat waktu berlalu.

Terima kasih semoga dilain kesempatan aku diizinkan bisa mendengarkan sesosok suara yang khas lagi walaupun mata tidak bisa saling menatap.

Jakarta, 15 Juni 2015
Dariku yang mendengarkan,




Oky Taqwin Abadi

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa