Jumat, 19 Juni 2015

Jejak Ramadhan #2 Dzikir Cinta





Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... 

Dzikir Cinta …

Mengingat-Nya di kala suka dan duka ..

Mengingat-Nya di kala rindu yang membuncah ..

Mengingat-Nya di kala hening, hanya berdua …

Mengingat-Nya di kala nurani dipermainkan oleh logika ....


Basah bibir ini menyebut nama-Nya ..

Bukan tiba-tiba …

Di sana, rasa malas ditanggalkan ..

Di sana, rindu dan cinta dipupuk dan di siram ..

Luangkan waktu yang tak bisa diulang ..



Dalam sombong, Dzikir cinta mengingatkan ..

Bahwa air yang hina, membentuk segumpal darah ..

Bahwa tanah tempat bersemayam setelah keranda ..

Datang dan kembali tanpa harta

Di antara sisi gelap dan terang, masih ada sisi biru yang menyertainya. Sebab hidup adalah merupakan rahasia Tuhan yang menjelma warna-warni, menyerupakan dalam bentuk isyarat alam, menjelma sesuatu yang harus disibak, dipahami, ditafsir dan diungkapkan, meski hanya sebatas isyarat yang belum menjadi kemutlakan.

Sebuah perjalanan cinta justru akan menjadi momok ketika harus terkalahkan oleh rasa hormat, takdzim, dan juga rasa takut akan kutukan. 

Namun bila cinta itu tumbuh atas benih cinta, tak ayal jika kemanisan anggur syurga, atas nama cintalah, yang akan tereguk tatkala dahaga atas cinta tak mampu entaskan perih, nyeri, pilu, serta luka hati atas penghianatan cinta.

Betapa teramat sakit ketika cinta harus pupus dan kandas oleh sebab ketakberdayaan, sebuah pengingkaran terhadap kodrat cinta yang suci dan agung atas anugerahNya; kedzaliman yang tak pernah disadari, atas fitrah cinta itu sendiri. 

Fitrah sebagai manusia yang diberi sesuatu tentang keseluruhan cinta. Padahal sedikitpun cinta tak mengajarkan pada siapa pun untuk memaksa dicinta maupun mencinta, karena cinta itu adalah kebebasan itu sendiri. Sebuah kesalahan yang selama ini tak pernah kita sadari dan kita pahami adalah usaha kita menafsir Cinta dengan sebuah keterbatasan.


Salah kapra dalam memaknai cinta akhir-akhir ini sering kali terjadi pada kalangan remaja. Hamil di luar nikah, aborsi, dan sebagainya, selalu saja mengatas namakan cinta. Padahal jika cinta tidak dipahami sepotong-sepotong, maka seperti yang dikatakan Gibran bahwa, cinta akan menjadi mahkota yang akan membawa sang pencinta naik pada hakekat cinta itu sendiri (1997).


Dengan cinta akan tercipta kedamaian, keharmunisan dan kesantunan. Namun cinta bukan kata-kata, juga bukan pertautan raga dengan jejalan birahi. Memasuki dunia cinta, berati kita akan tenggalam dalam lautan rasa, bukan raga.

Namun para remaja saat ini telah membawa "cinta" jauh dari hakikatnya. Hingga orang-orang yang telah mengukir sejarah cinta selalu dibelokkan.

Sehingga timbul sebuah pertanyaan klasik yang sering diungkapkan banyak orang, adakah cinta yang murni di dunia ini? 

Ataukah cinta yang ada di dunia hanya sebatas medium menuju pada sejatinya sebuah cinta? 

Abu Hurairah r.a bahwa Nabi SAW bersabda:
sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat yang selalu mengelilingi bumi. Mereka senantiasa memperhatikan dzikir. Mereka berseru {kepada penghuni bumi}, “sebutkanlah kebutuhan kalian.”

Lalu, kepada para malaikat—padahal Allah mengetahui perihal mereka—Allah SWT bertanya, “ Apa yang dikatakan oleh para Hamba-Ku?”

Mereka menjawab. “ Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan berdo’a memohon kepada-Mu.”

Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat-Ku?”

Para malaikat menjawab, “Tidak, demi Allah, mereka tidak mampu melihat-Mu.”

Lalu Allah bertanya lagu, “ Bagaimana seandainya mereka bisa melihat-Ku?”

Mereka menjawab,  “Seandainya mereka bisa melihat-Mu, mereka akan giat mengabdi kepada-Mu, makin sering bertahlil, bertahmid, dan bertasbih.”

Allah bertanya lagi, “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?”

Para malaikat menjawab, “Tidak, mereka belum pernah melihatnya.”
Allah bertanya. “Bagaimanakah akan terjadi seandainya mereka pernah melihat surga-Ku?”

Mereka menjawab, “Seandainya mereka sudah pernah melihatnya, maka keinginan mereka untuk mendapatkannya makin besar, makin sering meminta kepada-Mu.”

Allah bertanya lagi, “ Dan mereka mohon perlindunganku apa?”

Para malaikat menjawab, “ Dari neraka-Mu.”

Allah bertanya, “Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?”

Para malaikat menjawab, “Tidak, mereka belum pernah melihatnya.”

Allah bertanya. “Bagaimanakah akan terjadi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku?”

Mereka menjawab, “Mereka akan makin takut dan makin berusaha menghindarinya.”

Allah bertanya, “Saksikanlah bahwa Aku mengampuni mereka.”

Lalu, salah satu Malaikat berkata lagi, “Wahai Tuha  kami, di antara mereka terdapat seorang hamba-Mu yang bukan dari golongan mereka. Sebenarnya dia hanya datang karena suatu keperluan.”

Allah berfirman:”Mereka semua duduk bersama dalam suatu majelis. Mereka semua tidak akan dicelakakan oleh teman duduknya itu.” ( HR Bukhori )

Langkah - langkah untuk berdzikir cinta:

Untuk Bersyukur Saat si Dia “Takluk”
Nikmat-Nya di kancah asmara yang mungkin paling patut Anda syukuri adalah kejadian saat si Dia “takluk” (menerima kita “apa adanya”). Dalam kesempatan yang melambungkan jiwa ini, 

kita dapat berdzikir:

 Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa hadzaa wa ma kunna lahuu muqriniin”. Maha suci {Tuhan} yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. ( Q.S az-Zukhruf {43}:13)

Supaya penyesalan tidak sia-sia
Penyesalan kita mungkin biasanya kita wujudkan dengan memohon ampun 
kepada Allah dalam  bentuk istighfar: Astaghfirullah (aku memohon ampun
kepada Allah) dan sebagainya. Sebenarnya, disamping dzikir semacam ini,
masih ada dzikir alternatif lain yang juga menunjukkan penyesalan yang
mendalam.

Jadi, kalau kita mau selamat dari kedukaan, termasuk dikancah cinta, maka
ketika merasakan penyesalan, silahkan ucapkan dzikir:

“Laa ilaaha illa anta, subhaanaka innii kuntun minadh dhaalimiin”
Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah
termasuk orang-orang yang zalim. ( Q.S al-Anbiyaa’ [21]:87)

Supaya berani dan percaya diri
Langkah menuju hidup baru seringkali mendebarkan. Jangankan ketika
menyongsong “malam pertama” di hari pernikahan. Saat jumpa pertama
sewaktu ta’aruf (perkenalan) pun kita mungkin sudah merasa takut, cemas,
grogi, atau pun kurang percaya diri. 

Untuk mengatasinya, kita dapat memanfaatkan dzikir:
“ Hasbunallahhu wa ni’mal wakiil”
Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung. 
(Q.S Ali Imron {3}:173)

Supaya dipilihkan Allah jodoh terbaik
Allah telah menyediakan jodoh-jodoh bagi kita masing-masing. Namun sering
kali memilih jodoh tidaklah mudah. Tak jarang, kita kebingungan, “Diakah jodoh
yang terbaik bagi saya?”

Untuk mengatasi kebingungan ini, Islam menawarkan solusi ynag unik berupa
doa istikharah. 

Doa istikharah itu bermakna “memohon kepada Allah agar memilihkan dan
menentukan yang terbaik serta memudahkannya”. 

Istikharah juga berarti memohon pula agar dijauhkan dari apa yang diinginkan
apabila di alamnya terdapat keburukan.

Menurut sebuah hadits riwayat Bukhari, Ahmad, dan lain-lain, dari Jabir bin
Abdullah r.a., teks do’a istikharah yang dituntunkan oleh Rasulullah adalah
sebagai berikut:

“ Allahhumma innii astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika”

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan (yang terbaik) kepada Engkau
dengan ilmu (yang ada pada)-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu (untuk
menyelesaikan urusanku) dengan kodrat-Mu.
     
Supaya rela si Dia untuk orang lain
Tak jarang, kita menjadi cemburu lantaran sikap kita yang berlebihan dalam hal
“merasa memiliki”. Kita tak rela orang lain mengambil manfaat dari si dia. 

Kita memperlakukan si dia sebagai barang milik kita pribadi yang tak boleh
diusik sediki pun oleh orang lain, padahal, “sesungguhnya kita semua adalah
milik Allah”. ( Q.S al-Baqarah {2}:156)

Dengan memperlakukan si dia sebagai barang milik kita pribadi, kita menjadi
sok tahu. Kita berlagak bahwa kitalah satu-satunya orang yang tahu apa yang
baik dan apa yang buruk bagi si dia. Bila si dia melakukan sesuatu yang tak kita
kehendaki, maka kita tak rela sama sekali.

Padahal, benarkah Anda merupakan “satu-satunya orang yang tahu apa yang
baik dan apa yang buruk bagi si dia?”Tidak!” Dan Allah mengetahui, sedangkan
kamu tidak mengetahui”. ( Q.S al-Baqarah{2}:232)

Dengan demikian, supaya kita bersikap ridha (rela) terhadap si dia, kita dapat
mengucap dzikir, berkata kepada diri sendiri:

“ Wallahhu ya’lamu wa antum iaa ta’lamuun”                    
Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. ( Q.S al-Baqarah
{2}:232)


Supaya kekasih kita tidak selingkuh
Di samping meredam api burahi diri sendiri, sehingga tidak selingkuh, dzikir kita
dapat pula meredam gejolak seksual si dia, sehingga juga tidak berbuat serong.

Dengan kata lain, dzikir kita bisa mencegah berselingkuhnya kekasih
kita. Untuk itu, kita sering-sering mengucap dzikir:

“ Fa innallahha kaana bimaa ta’lamuuna khabiiraa”
Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan
( Q.S an-Nisa’ {4}:128)

Supaya janjinya dia terpenuhi
kita ingin si dia menetapi janji setianya kepada kita bukan? Kalau memang iya,
silahkan sering-sering ucapkan dzikir berupa sepotong kalimat dari al Qur’an
berikut ini:

“ Yadullahhi fawqa aydiihim”

Tangan Allah diatas tangan mereka. ( Q.S al-Fath {48}:10)

Maksud kalimat dalam dzikir tersebut adalah “bahwasanya orang-orang yang
berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.(
Q.S al-Fath {48}:10). 

Dengan demikian, kita menyertakan Allah untuk tutut “menagih” janjinya,
sehingga janjinya terpenuhi.

Supaya mendapat kebenaran bila mendengar gosip

Gosip merupakan berita yang tidak jelas atau tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Supaya kita lebih dekat dengan berita yang benar, kita dapat berdzikir:

“ ‘Asa ay yahdiyani rabbii la aqraba min hadaa rasyadaa”
Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.( Q.S al-Kahfi {18}:24)

Supaya tabah bila menjadi sasaran gosip

Menjadi sasaran gosip, apalagi mengenai perzinaan yang membuat kita hina di
mata masyarakat, cenderung menyakitkan. Tak heran bila kita menjadi sedih.
Untuk itu, supaya kita tabah ketika menjadi sasaran gosip. 

Kita dapat mengucapkan:

“ Wallahhul musta’aanu ‘ala maa tashifuun”

Dan kepada Allah sajalah aku memohon pertolongan terhadap apa yang kalian
beritakan. (Q.S al-Yusuf {12}:18)




Jakarta, 19 Juni 2015
Dariku keheningan,





Oky Taqwin Abadi

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa