![]() |
Sore nawak- nawak...
Pada sehat semua yak hari ini...
Hari ini aku akan berbagi mengenai keseharian di ibukota, iya ibukota adalah tempat perantauanku yang kedua setelah kota Malang tempat menimba ilmu. Sudah hampir lebih satu bulan lamanya aku disini terhitung dari bulan mei berapa Indomie Goreng yang telah aku makan.
iya disini Indomie Gorenglah yang selalu peka menemani hariku untuk menjalani hari, memang dialah tau bagaimana kondisiku saat itu, perjuangan untuk melewati hari terus aku lalui bersamamu.
Indomi goreng bukan sekadar makanan instan, Ia adalah mesias. Ia menjadi saksi betapa beribu-ribu perjuangan di ibukota menjalani sebuah tugas PI sebuah keprihatin karena kiriman telat di kala itu hanyalah bisa meratapmu Indomie Goreng. Bayangkan berapa ribu yang aku telah keluarkan agar bisa menjumpaimu di ibukota. Aku yang terselamatkan dari jurang kelaparan, karena mengecangkan ikat pinggang tidak makan nasi hanya untuk menunggu kirimiman yang tak kunjung datang. Indomie, aku kira, punya jasa besar bagian perjalanan hidupku.
Indomie Goreng bukan sekadar makanan pengganti. Ia adalah nyawa, ia adalah penghidupan beribu-ribu penjual indomie yang berjejer di tengah ibukota , mereka mengadu nasib di kota-kota besar.
Apa jadinya Ibukota jika tidak ada penjual indomie?
Dimana para mahasiswa sepertiku mesti mencari makanan murah ketika warung makan yang di jualkan mahal?
Berapa ribu penjual yang hidup dan mencari nafkah dari Indomie?
Ini bukan perkara nasionalisme gandum melawan ubi, ini masalah pemenuhan kebutuhan.Ia adalah sakramen, sebuah kesadaran filosofis akan hidup yang tersublimasi dalam bentuk makanan Instan.
Sebagai duta besar tidak resmi dari Indomie Goreng, aku merasa perlu memberi tahu kepada semuanya, tentang visi dan misi keberadaan Indomie Goreng. Ia bukan sekedar makanan, tapi sebuah realitas dari betapa negeri ini sebenarnya gagal dikelola.
bukan salah Indomie jika sebungkus Indomie lebih murah daripada sekilo beras. Selama negara ini tidak mencanangkan diversifikasi pangan dan melulu bergantung pada beras, selamanya Indomie akan dijadikan kambing hitam atas pola konsumsi yang tidak beraturan. Ketidakadilan yang berawal dari perut akan melahirkan insureksi yang perih. Ingat lebih baik ditolak balikan daripada kelaparan.
Terima kasih Indomie Goreng atas jasamulah aku bisa bertahan di ibukota sampai saat ini tanpa sesuatu kekurangan apapun. Semoga jasa - jasamu di terbalaskan
Jakarta, 16 Juni 2015
Dariku yang penuh syukur
Oky Taqwin Abadi


0 komentar:
Posting Komentar