Aku kisahkan sedikit perjalanan hidupku dalam pengabdianku kepada-Mu. Sore itu seperti biasanya, aku melangkahkan kakiku ke gudang belakang rumah, aku melihat sepeda gunung yang menggantung ditempatnya, ku ambil dan ku bersihkan dari debu, benar-benar debu, yang terlihat kotor, namun sesungguhnya mampu untuk mensucikan.
Sore yang sejuk, matahari begitu bersahabat dengan bumi, perpaduan yang begitu serasi. aku fikir matahari dan bumi itu berjodoh, bumi tanpa matahari tiada kehidupan, matahari tanpa bumi tiada berarti, Keduanya saling membutuhkan, mungkin ini salah satu romantisme Tuhan, memadukan dua hal yang berbeda untuk saling melengkapi.
Ngomong-ngomong soal romantisme, kurang romantis apa tiap sore memandang sunset disudut pojok jalan, tempatku tinggal memang nyaman, aku masih bisa melihat sunset, sesuatu yang memberikanku inspirasi untuk menuliskan kegelisahan hati, untuk sekedar dalam hati mengingat, bahwa aku begitu kecil dihadap-Mu, aku begitu lemah, kadang terombang-ambingkan oleh gejolak hati, iya, itu memang manusiawi, aku masih terus berproses, masih terus belajar, belajar mengenal-Mu, mengenal karya tak ternilai yang Kau cipta, Maestro kehidupan, pemilik diri dan dunia ini.
Kegelisahan Generasi muda
Sungguh , Negara ini sangat membutuhkan pemuda-pemudi yang bertindak tenang dan berfikir untuk masa depan bangsanya. Dewasa ini, kita menghadapi problematika yang sangat besar, Dimana begitu sulit mencari pemimpin yang bisa diteladani, tidak ada rasa saling menghargai, toleransi hanya menjadi kata-kata yang tidak berarti lagi. Bila ditanya tentang masalah yang menimpa negeri ini, rasanya tak kuat hati untuk menjawabnya. Menyaksikan musibah yang berkepanjangan, para pemimpin yang berebut kekuasaan, masyarakat yang rindu akan keadilan dan kesejahteraan. Musibah yang sering dialami negeri ini, seolah tak memiliki pembelajaran dan makna, mungkinkah rasa saling peduli hilang dari dalam diri, atau mungkin kita tidak mampu mengambil hikmah dari sang Ilahi.
Kita semua mengetahui bahwa pemuda adalah harapan bangsa. Namun tumpuan dan harapan yang besar itu, belum mampu membuat kita berfikir sejak dini tentang masa depan bangsa ini. Layaknya kapal yang terperangkap dalam luasnya samudra. Apakah kita akan membiarkan bangsa ini untuk berlayar tanpa nahkoda yang tangguh ? tanpa generasi muda yang peduli dan cinta akan bangsanya ? pemimpi dan pemimpin, jika pemimpi hanya berangan, berencana, dan berkhayal saja, maka, pemimpin itu memiliki angan, rencana dan berani untuk melakukakannya. Secara kodrat manusia adalah seorang pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Pemimpin bukan soal ia lahir dengan keturunan bangsawan atau saudagar sukses lantas ia akan jadi pemimpin hebat, pemimpin adalah soal keberlanjutan, proses memantaskan diri, dimana pengalaman hidup akan menempanya menjadi seorang sutradara sekaligus aktor besar dalam merangkai dan menyusun sebuah cerita yang berakhir bahagia.
Akhir-akhir ini kita sering memperdebatkan sosok pemimpin yang seperti apakah yang dibutuhkan oleh negara kita. Kita bisa menemukan berbagai referensi sosok pemimpin dari jutaan buku yang tersedia ditoko, dari jutaan pandangan ahli dan pakar kepemimpinan. Namun, sosok seperti apakah yang benar-benar dibutuhkan oleh negeri ini ? Mari sejenak kita menjernihkan pikiran bahwa negeri ini tak ada habisnya memproduksi orang-orang yang berkualitas dan teruji. Dari sabang sampai merauke tak pernah habis anak bangsa hadir menawarkan gagasan terbaik untuk mengelola negeri ini. Namun mengapa kita masih tak bisa berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka ? sebagai bangsa yang berdaulat ? sebagai bangsa yang adil dan makmur. Ternyata kita tidak sadar, bahwa kita sedang terlena akan semua pencapaian fisik dan raga. Kita lupa bahwa mental dan karakter rakyat Indonesia adalah hal yang tak kalah penting untuk dimiliki. Banyak permasalahan terjadi di negeri ini bukan karena kurangnya ilmu pengetahuan dan kemampuan, namun karena runtuhnya fondasi karakter, Keseimbangan antara spiritual, emosional dan intelektual lambat laun ditinggalkan.
Mentransformasi Karakter adalah sebuah gagasan yang beberapa kali dituangkan, betapa pentingnya membangun jiwa dan karakter rakyat Indonesia itu sendiri. Kata mentransformasi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, membutuhkan proses dan keberlanjutan, bahwa kita ingin bersama-sama menyelesaikan satu per satu masalah yang ada di negeri ini. Kita membutuhkan lebih banyak pemuda untuk ikut berperan dan bertindak. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik melawan kemiskinan dan untuk mengubah nasib, pendidikan yang benar-benar tersistematis dan konstruktif. Pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai agama dan pancasila. Pancasila harus menjadi darah daging dan keseharian kita, lihatlah bagaimana keadaan pemimpin kita saat ini, para elite politik meninggalkan nilai-nilai pancasila yang merupakan spirit pemersatu dan ideologi bangsa, kita sering kepagian mendahului zaman, tapi kemudian terkejar oleh bangsa lain karena elite kita menjadi Brahma pada awalnya, tapi langsung dihancurkan oleh Qiwa kedengkian dan kebencian terhadap kinerja elite lawan politik yang lebih hebat. Tidak ada sportivitas atau jiwa ksatria untuk mengakui kelebihan lawan secara jantan. Sportivitas dalam politik entah hilang kemana, agaknya menjadi sebuah permasalahan yang turun – temurun menghinggapi para elite. Secara populer, elite Indonesia belum lepas dari hierarki Maslow tentang kebutuhan manusia. Elite yang seharusnya menjadi negarawan besar setelah jadi politisi sukses masih terjebak dalam hierarki paling rendah Maslow, masih berkutat soal eksistensi, survival, sesuap nasi, harta, material, dan berbagai hal duniawi. Sedangkan negarawan harus mempunyai kepentingan menyukseskan idealisme, cita- cita, visi dan misinya tentang bagaimana suatu nation state dapat maju sebagai suatu kesatuan yang tidak mudah kalah dalam persaingan dan percaturan global. Elite yang baik adalah yang memberdayakan dan menjadikan rakyat belajar dari masa lalu untuk mengawasi pemimpinnya agar tidak mengulangi kesalahan yang lalu berulang kali karena tidak pernah mendalami sejarah. Apa yang bisa kita ambil hikmah dari perang Pangeran Diponegoro ? seorang pemberontak biasa yang terdorong oleh nafsu meraih untung atau ambisi ? Apakah fanatisme tak beralasan yang membuatnya mengibarkan panji-panji pemberontakan ? Ada tugas mulia yang ia yakini harus dilakukan. Dia merasa ditakdirkan untuk melaksanakan tugas itu, dengan energi dan kegigihan yang luar biasa, ia mengikuti arah takdirnya. Ia memang gagal, tapi, aku fikir kita tidak boleh menilai kerja orang semata karena keberhasilannya. Disamping itu, memang bukan maksudku menilai ketangguhan pangeran Diponegoro. aku hanya menunjukkan bahwa kebalikan dengan apa yang di percaya beberapa orang, orang Indonesia itu sebenarnya punya dasar etika yang dalam, suatu dasar untuk membangun sumber moral yang mestinya membuat kita jadi optimis akan kemungkinan bangkitnya. zaman keemasan kita. Masyarakat baru yang kita sedang susun itu, tak mungkin kekal kalau kita tidak mencapai kemenangan akhir, karena itu marilah kita taruhkan perjuangan ini sampai ke ujung-ujungnya, tahanlah menderita, tahanlah kesukaran. kemenangan kita tidak dapat kita capai diatas kasur bantalnya kesenangan, kemenangan kita itu hanyalah bisa dicapai didalam api unggunya perjuangan yang terus-menerus. kitalah pemimpin – pemimpin muda yang harus ikut berperan dan bergerak, melunasi janji dari para pahlawan yang dengan bersimpah darah mengorbankan jiwa dan raga untuk Indonesia.
Politik dan Cinta
“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)
Entah apa yang ada dibenak para generasi muda saat ini, mungkin saat Bung Karno melihat penerusnya seperti ini, beliau akan berteriak dengan lantang dan berkata : “ Kau apakan negeri ini wahai generasi penerus ? sampai dimana perjuangan dari kami kau lanjutkan ? “.
Negeri ini dibangun dengan marwah persatuan dan kesatuan, cinta serta rasa kebanggaan terhadap negeri inilah yang masih menjadi tumpuan atas perbedaan dan keberagaman. Boleh jadi generasi muda saat ini tidak suka dengan politik, namun, generasi muda harus peduli dengan politik, sebab politik adalah keseharian kita, politik menjadi hal yang sangat penting karena berkaitan dengan segala macam kebijakan yang akan diambil untuk kehidupan kita dalam bernegara. Mungkin banyak yang berpandangan bahwa politik itu kotor, politik itu licik. Namun bagiku, politik itu cinta. Politik sesungguhnya adalah kerja berbasis akal, sementara cinta bekerja berbasis hati. Politik identik dengan kekuasaan lahiriah, sementara cinta identik dengan kekayaan batiniah. Ibarat kita hendak berpergian jauh, politik adalah kendarannya sedangkan cinta yang mengemudikannya. Politik memang medan yang kerap mendatangkan lawan, namun cinta akan membuatnya jadi kawan.Politik cinta sejatinya akan dapat menyatukan dua kubu yang saling berhadapan. Dengan politik cinta, perbedaan di antara kedua individu atau kelompok justru dapat menjadi energi untuk membangun bangsa ini.
Marilah kita renungkan bersama, bukankah kita punya rencana-rencana atau tahapan yang kita fikir itu sempurna dan kita berharap dapat tercapai, bukan hidup jika tak ada tantangan dan rintangan datang menghadang, memberikan kita peringatan, memberikan kita nasehat, bahwa jangan sesekali kita merasa besar diri, keras hati, kadang kit butuh sedikit modifikasi, meski jalannya agak bergelombang, asal tetap sampai tujuan. Dengan berjalannya waktu, aku agaknya mengerti dan belajar bagaimana untuk bisa memahami tujuan dari kehidupan ini. Semakin mendalami makna hidup, semakin besar niatku untuk menjadikan hidup ini lebih baik, agar semakin banyak jawaban-jawaban yang bisa aku dapatkan.
Aku ingin mengajakmu menari wahai mimpi-mimpi, meski aku bukan seorang ahli tari, aku ingin mengajakmu terbang setinggi mungkin wahai mimpi, meski aku tak punya alat untuk membawamu melewati jutaan kilometer batas bumi. Aku ingin mengajakmu untuk duduk bersama, untuk mendengar pula kisahku, untuk memberitahumu bahwa engkau bukan hanya sekedar sesuatu yang aku kejar, namun menjadi sahabat, hanya kepada Alloh, aku letakkan alasan-alasan aku masih disini.

0 komentar:
Posting Komentar