Rabu, 13 Agustus 2014

Tujuan Pendidikan Digerogoti



             Pendidikan menjadi objek perasa dari percepatan di era yang sangat liberal sekarang ini, mulai dari input dan output pendidikan. Dapat kita lihat sendiri, mulai dari kerangka kurikulum, aturan yang sangat kaku dengan membatasi kreatifitas lalu memberikan sekat antara si-cerdas dan si-bodoh. Pertanyaan yang harus dijawab adalah “Apakah itu tujuan dasar pendidikan yang sesungguhnya?”

Untuk menjawab itu, saya coba mengutip tujuan dasar dari tokoh besar pendidikan kita Ki Hajar Dewantara  “educate the head, the heart, and the hand !” yaitu menciptakan insan yang memiliki daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Adapun tujuan yang sangat umum kita ketahui adalah memanusiakan manusia. Kedua tujuan pendidikan di atas sudah sangat jelas apabila kita maknai, bahwa pendidikan itu bukan hal yang kaku, menguasai serta menjajah tetapi humanis. Tetapi kita harus menyadari bahwa ada dua kekuatan yang perlahan mengikis tujuan dasar pendidikan ini:


           Kekuatan rezim-rezim otoriter (authoritarian regimes) yang mendesain manusia-manusia yang harus tunduk serta patuh (docile human) pada ideologi yang ditanamkan oleh rezim-rezim otoriter tersebut. Contoh kecil, pemerintahan mengatasnamakam agama untuk membungkam malah melenyapkan kebebesan manusia untuk mengkritik pemerintah yang zalim. Yang terjadi hanya menciptakan manusia-manusia yang patuh pada doktrin-doktrin religius, yang hanya sabar, berdoa dan tak melakukan apa-apa walaupun tahu bahwa pemerintah yang mereka itu telah menzalimi rakyatnya (religious totalitariansm).

Free market capitalism, kekuatan ini mencoba menggerogoti konsep warga negara (citizenship) yang bebas menjadi konsep konsumen (consumer) yang bebas, yang pikirannya hanya terfokus pada konsumsi tanpa batas. Kekuatan yang kedua ini sangat dekat dalam kehidupan kita sekarang, di mana sebagian masyarakat kehilangan kesadaran akan konsep warga Negara yang bebas dan malah menyalah artikan konsep ini. Mereka menganggap bahwa warga Negara yang bebas itu adalah mereka bebas untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya serta membeli barang yang mereka inginkan walaupun tidak tahu apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak, dengan kata lain hanya untuk gengsi atau mengikuti trend yang ada (consumo ergo sum= aku membeli maka aku ada). Dengan kata lain bahwa uang dan daya beli menjadi ukuran kemanusiaan seseorang.


            Walaupun kedua kekuatan ini terlihat sangat berseberangan jauh, namun akibat yang ditimbulkan sangatlah menjajah kebebasan dan menciptakan penderitaan dalam kehidupan manusia. Maka kita sebagai insan pendidikan haruslah menyadari hal ini dan segera mungkin membendung dengan sikap kritis terhadap kedua gelombang yang semakin membesar dan menghempaskan masyarakat kejurang penjajahan pendidikan. Kita harus mengembalikan pendidikan ke tujuan dasar pendidikan itu sendiri yaitu menghasilkan manusia yang bebas untuk mengolah daya cipta, daya rasa dan daya karsa yang mampu memberikan makna dari suatu proses bukan malah menguasainya. LONG LIFE EDUCATION !

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa