Pendidikan
menjadi objek perasa dari percepatan di era yang sangat liberal sekarang
ini, mulai dari input dan output pendidikan. Dapat kita lihat sendiri,
mulai dari kerangka kurikulum, aturan yang sangat kaku dengan membatasi
kreatifitas lalu memberikan sekat antara si-cerdas dan si-bodoh.
Pertanyaan yang harus dijawab adalah “Apakah itu tujuan dasar pendidikan
yang sesungguhnya?”
Untuk menjawab itu, saya coba mengutip tujuan dasar dari tokoh besar pendidikan kita Ki Hajar Dewantara “educate the head, the heart, and the hand
!” yaitu menciptakan insan yang memiliki daya cipta (kognitif), daya
rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Adapun tujuan yang sangat umum
kita ketahui adalah memanusiakan manusia. Kedua tujuan pendidikan di
atas sudah sangat jelas apabila kita maknai, bahwa pendidikan itu bukan
hal yang kaku, menguasai serta menjajah tetapi humanis. Tetapi kita
harus menyadari bahwa ada dua kekuatan yang perlahan mengikis tujuan
dasar pendidikan ini:
Kekuatan rezim-rezim otoriter (authoritarian regimes) yang mendesain manusia-manusia yang harus tunduk serta patuh (docile human)
pada ideologi yang ditanamkan oleh rezim-rezim otoriter tersebut.
Contoh kecil, pemerintahan mengatasnamakam agama untuk membungkam malah
melenyapkan kebebesan manusia untuk mengkritik pemerintah yang zalim.
Yang terjadi hanya menciptakan manusia-manusia yang patuh pada
doktrin-doktrin religius, yang hanya sabar, berdoa dan tak melakukan
apa-apa walaupun tahu bahwa pemerintah yang mereka itu telah menzalimi
rakyatnya (religious totalitariansm).
Free market capitalism, kekuatan ini mencoba menggerogoti konsep warga negara (citizenship) yang bebas menjadi konsep konsumen (consumer)
yang bebas, yang pikirannya hanya terfokus pada konsumsi tanpa batas.
Kekuatan yang kedua ini sangat dekat dalam kehidupan kita sekarang, di
mana sebagian masyarakat kehilangan kesadaran akan konsep warga Negara
yang bebas dan malah menyalah artikan konsep ini. Mereka menganggap
bahwa warga Negara yang bebas itu adalah mereka bebas untuk mengumpulkan
uang sebanyak-banyaknya serta membeli barang yang mereka inginkan
walaupun tidak tahu apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak, dengan
kata lain hanya untuk gengsi atau mengikuti trend yang ada (consumo ergo sum= aku membeli maka aku ada). Dengan kata lain bahwa uang dan daya beli menjadi ukuran kemanusiaan seseorang.
Walaupun
kedua kekuatan ini terlihat sangat berseberangan jauh, namun akibat yang
ditimbulkan sangatlah menjajah kebebasan dan menciptakan penderitaan
dalam kehidupan manusia. Maka kita sebagai insan pendidikan haruslah
menyadari hal ini dan segera mungkin membendung dengan sikap kritis
terhadap kedua gelombang yang semakin membesar dan menghempaskan
masyarakat kejurang penjajahan pendidikan. Kita harus mengembalikan
pendidikan ke tujuan dasar pendidikan itu sendiri yaitu menghasilkan
manusia yang bebas untuk mengolah daya cipta, daya rasa dan daya karsa
yang mampu memberikan makna dari suatu proses bukan malah menguasainya.
LONG LIFE EDUCATION !


0 komentar:
Posting Komentar