"All men dream: but not equally. Those who dream by night in the
dusty recesses of their minds wake in the day to find that it was
vanity: but the dreamers of the day are dangerous men, for they may act
their dreams with open eyes, to make it possible."
Pernah datang ke acara diskusi/seminar/konferensi tentang apapun?
Apapun topiknya, biasanya acara-acara seperti ini akan menghadirkan
pihak-pihak yang dirasa berkompeten untuk sharing mengenai pengalaman
mereka. Kredibilitas para pihak yang diundang sebagai pembicara tentu
(biasanya) sangat bagus, dan bisa diakui sebagai ahli di bidangnya.
Bahkan, diundang sebagai pembicara adalah salah satu pengakuan dari
publik bahwa Anda memang dianggap ahli di bidang Anda. Keahlian ini bisa
datang dari hasil mempelajari bidang itu secara akademis, ataupun
menjalani bidang itu sebagai praktisi, walaupun terkadang mungkin tidak
punya latar belakang akademis di sana.
Terus terang, biasanya tujuan gue hadir ke acara-acara seperti ini
utamanya adalah untuk memperluas jaringan. Mungkin ini agak berbeda
dengan kebanyakan orang yang datang ke acara-acara seperti ini untuk
menambah ilmu atau mendapatkan inspirasi atau minimumnya, mendapat
'motivasi' - entah apa artinya. Buat gue, kesempatan bertemu dengan
banyak orang di satu tempat sangat berharga. Sering gue mendapatkan ilmu
lebih dari orang-orang yang berkenalan di sesi berjejaring daripada
mendengarkan pembicara. Tentu ada beberapa pengeculian, karena beberapa
pembicara di seminar/konferensi yang pernah gue hadiri benar-benar
menempel di ingatan. Beberapa di antaranya adalah Charly Kleissner dan
Prof. Muhammad Yunus, untuk contoh pembicara dari luar negeri. Pembicara
dalam negeri yang berkesan buat gue ada pak Anies Baswedan dan bu Tri
Mumpuni. Ada alasan kenapa mereka sangat berkesan buat gue. Walaupun
berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, ada sebuah benang merah
dari mereka.
Kutipan di awal artikel ini datang dari T.E. Lawrence atau lebih dikenal
sebagai Lawrence of Arabia. Gue tidak akan menceritakan siapa dia,
silahkan baca sendiri di link Wikipedia ini. Gue
menemukan kutipan ini secara tidak sengaja, bukan membaca bukunya yang
legendaris "Seven Pillars Of Wisdom". Tetapi gue sekali kutipan ini
karena sangat cocok dengan cara pandang gue tentang idealisme.
Di sebuah acara diskusi yang baru-baru ini gue hadiri, gue baru tersadar
betapa 'mahal'nya sebuah idealisme. Banyak orang punya mimpi yang ideal
tentang sesuatu hal, tetapi tidak banyak yang mau atau lebih keren
lagi, SUDAH langsung terjun melakukan hal-hal untuk menjadikan mimpi dan
idealisme itu nyata. Satu hal yang gue sadari dari acara itu, adalah
banyaknya pembicara dan penanya yang menggunakan kata-kata "seharusnya",
"bagusnya", "seandainya", dan tentunya "idealnya" ditambah padanan kata
lain yang berarti sama. Semua membicarakan tentang sebuah situasi
ideal, kondisi terbaik, situasi sempurna.
Sayangnya, tidak banyak dari para hadirin saat itu yang sudah melakukan
sesuatu, bahkan seorang penanya seakan 'menyerang' seorang pembicara
yang kebetulan berasal dari sebuah lembaga pemerintah. Gue tidak
sepenuhnya menyalahkan sang penanya, karena tentu kita semua merasakan
bahwa pemerintah kita masih jauh dari sempurna, bahkan lebih sering
menghambat daripada memfasilitasi. Tetapi apakah lalu karena pemerintah
tidak mendukung, maka tidak ada kemajuan yang bisa dilakukan? Bahkan
dengan keadaan seperti ini saja pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk
salah satu yang paling tinggi di dunia!
Bagi pelaku bisnis, tentu tidak bisa berhenti karena hal ini. Bahkan
yang harus dicari adalah, bagaimana bisnis tetap bisa berjalan dengan
segala kesulitan yang dihadapi. Istilah salah satu mentor gue, pebisnis
selalu mencari pilihan terbaik jika bertemu dengan tembok di depannya:
memanjatnya, menghancurkannya dengan palu, atau berjalan memutari tembok
itu? Yang pasti, setinggi atau setebal apapun tembok itu tidak bisa
menghentikan kemajuan.
Seperti pemimpi di kutipan T.E. Lawrence di atas, mereka bermimpi di
malam hari sehingga ketika terbangun di pagi hari, mimpi itu sudah
hilang tidak berbekas. Berhenti sebagai mimpi. Berbeda dengan para
'pemimpi di siang hari' yang bermimpi dengan mata terbuka, sehingga
mereka memulai aksi untuk mewujudkan mimpi mereka. Entah kenapa,
etimologi bahasa Indonesia justru memberikan konotasi negatif untuk
istilah 'mimpi di siang bolong'. Seakan mimpi adalah sebuah hal yang
sia-sia. Padahal sering sekali gue bertemu dengan orang-orang yang
berkesan putus asa karena segala macam kesulitan di hidup mereka, seakan
tidak ada harapan, dan biasanya ini adalah orang-orang yang tidak lagi
punya mimpi.
Keempat pembicara yang berkesan untuk gue di atas memiliki kesamaan:
mereka semua memiliki mimpi besar untuk dunia di sekitarnya. Tetapi
mereka semua memulai sesuatu hal untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka,
hal yang di awalnya berkesan melawan arus.
Prof. Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank untuk memberikan akses pinjaman untuk wanita miskin di Bangladesh, di saat semua bank tidak mau memberikan pinjaman ke mereka karena dianggap beresiko tinggiIbu Tri Mumpuni menggalang banyak komunitas di daerah yang tidak punya akses listrik untuk memiliki pembangkit listrik sendiri (tenaga mikrohidro), di saat PLN menganggap investasi di daerah-daerah tersebut terlalu sulit.Pak Anies Baswedan menginspirasi dan menggerakkan sarjana-sarjana terbaik bangsa ini untuk menyumbangkan setahun dari hidup mereka mengabdi sebagai pengajar SD di seluruh pelosok Indonesia, di saat Kementerian tidak mampu menyediakan tenaga pengajar untuk para siswa yang selalu disebut sebagai 'penerus bangsa' ini.Charly Kleissner, mungkin tidak banyak yang kenal, tetapi sangat menginspirasi untuk gue karena dia dan istrinya termasuk salah satu orang yang berhasil mengubah pola pikir filantropi dari 'sumbangan' menjadi 'investasi yang bermakna' dengan tidak mengorbankan dampak positifnya.
Mereka MEMULAI sesuatu, bukan sekedar berbicara idealisme. Fokus kepada
perbuatan, bukan retorisme. Walaupun harus diakui, mereka semua adalah
pembicara yang sangat menginspirasi di atas panggung. Mungkin yang
menginspirasi bagi gue bukanlah pidato mereka, tetapi mengetahui apa
yang sudah mereka kerjakan.
Salah satu nasihat Prof. Yunus adalah: perubahan sebesar apapun dimulai
dari hal kecil. Mulai dengan satu-dua orang di sekitarmu. Lihat
keberhasilannya dan lakukan perubahan yang diperlukan. Saat sudah
menemukan formula yang dibutuhkan untuk berhasil, lakukan duplikasi dan
replikasi hingga perubahan akan dirasakan oleh lebih banyak lagi orang.
Hingga akhirnya Grameen Bank sekarang sudah membantu lebih dari 8 juta
perempuan miskin Bangladesh untuk mendapatkan kredit mikro. Beliau
memulai eksperimennya dengan meminjamkan $27 kepada sekelompok perempuan
di sebuah desa.
Pada akhirnya gue lebih suka berdiskusi dengan orang-orang yang
menggunakan kata, "Gue bisa begini dan begini, kira-kira loe bisa begitu
nggak? Kalau nggak, kira-kira siapa ya yang bisa?" Spirit diskusi
seperti ini sangat positif: penuh dengan rencana aksi, bukan bualan, dan
kolaborasi. Karena setiap orang sadar bahwa mereka bukan Superman yang
bisa menyelamatkan dunia seorang diri. Lebih baik berkolaborasi seperti
The Avengers dan X-Men.
Seperti sebuah kalimat klise yang sering sekali dipakai, "Kalau bukan
kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" Mari bermimpi,
dengan mata terbuka lebar

0 komentar:
Posting Komentar