Kamis, 29 Mei 2014

Mimpi Siang Hari

"All men dream: but not equally. Those who dream by night in the dusty recesses of their minds wake in the day to find that it was vanity: but the dreamers of the day are dangerous men, for they may act their dreams with open eyes, to make it possible."
Pernah datang ke acara diskusi/seminar/konferensi tentang apapun?
Apapun topiknya, biasanya acara-acara seperti ini akan menghadirkan pihak-pihak yang dirasa berkompeten untuk sharing mengenai pengalaman mereka. Kredibilitas para pihak yang diundang sebagai pembicara tentu (biasanya) sangat bagus, dan bisa diakui sebagai ahli di bidangnya. 
Bahkan, diundang sebagai pembicara adalah salah satu pengakuan dari publik bahwa Anda memang dianggap ahli di bidang Anda. Keahlian ini bisa datang dari hasil mempelajari bidang itu secara akademis, ataupun menjalani bidang itu sebagai praktisi, walaupun terkadang mungkin tidak punya latar belakang akademis di sana. 
Terus terang, biasanya tujuan gue hadir ke acara-acara seperti ini utamanya adalah untuk memperluas jaringan. Mungkin ini agak berbeda dengan kebanyakan orang yang datang ke acara-acara seperti ini untuk menambah ilmu atau mendapatkan inspirasi atau minimumnya, mendapat 'motivasi' - entah apa artinya. Buat gue, kesempatan bertemu dengan banyak orang di satu tempat sangat berharga. Sering gue mendapatkan ilmu lebih dari orang-orang yang berkenalan di sesi berjejaring daripada mendengarkan pembicara. Tentu ada beberapa pengeculian, karena beberapa pembicara di seminar/konferensi yang pernah gue hadiri benar-benar menempel di ingatan. Beberapa di antaranya adalah Charly Kleissner dan Prof. Muhammad Yunus, untuk contoh pembicara dari luar negeri. Pembicara dalam negeri yang berkesan buat gue ada pak Anies Baswedan dan bu Tri Mumpuni. Ada alasan kenapa mereka sangat berkesan buat gue. Walaupun berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, ada sebuah benang merah dari mereka.
Kutipan di awal artikel ini datang dari T.E. Lawrence atau lebih dikenal sebagai Lawrence of Arabia. Gue tidak akan menceritakan siapa dia, silahkan baca sendiri di link Wikipedia ini. Gue menemukan kutipan ini secara tidak sengaja, bukan membaca bukunya yang legendaris "Seven Pillars Of Wisdom". Tetapi gue sekali kutipan ini karena sangat cocok dengan cara pandang gue tentang idealisme.
Di sebuah acara diskusi yang baru-baru ini gue hadiri, gue baru tersadar betapa 'mahal'nya sebuah idealisme. Banyak orang punya mimpi yang ideal tentang sesuatu hal, tetapi tidak banyak yang mau atau lebih keren lagi, SUDAH langsung terjun melakukan hal-hal untuk menjadikan mimpi dan idealisme itu nyata. Satu hal yang gue sadari dari acara itu, adalah banyaknya pembicara dan penanya yang menggunakan kata-kata "seharusnya", "bagusnya", "seandainya", dan tentunya "idealnya" ditambah padanan kata lain yang berarti sama. Semua membicarakan tentang sebuah situasi ideal, kondisi terbaik, situasi sempurna.
Sayangnya, tidak banyak dari para hadirin saat itu yang sudah melakukan sesuatu, bahkan seorang penanya seakan 'menyerang' seorang pembicara yang kebetulan berasal dari sebuah lembaga pemerintah. Gue tidak sepenuhnya menyalahkan sang penanya, karena tentu kita semua merasakan bahwa pemerintah kita masih jauh dari sempurna, bahkan lebih sering menghambat daripada memfasilitasi. Tetapi apakah lalu karena pemerintah tidak mendukung, maka tidak ada kemajuan yang bisa dilakukan? Bahkan dengan keadaan seperti ini saja pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di dunia!
Bagi pelaku bisnis, tentu tidak bisa berhenti karena hal ini. Bahkan yang harus dicari adalah, bagaimana bisnis tetap bisa berjalan dengan segala kesulitan yang dihadapi. Istilah salah satu mentor gue, pebisnis selalu mencari pilihan terbaik jika bertemu dengan tembok di depannya: memanjatnya, menghancurkannya dengan palu, atau berjalan memutari tembok itu? Yang pasti, setinggi atau setebal apapun tembok itu tidak bisa menghentikan kemajuan.
Seperti pemimpi di kutipan T.E. Lawrence di atas, mereka bermimpi di malam hari sehingga ketika terbangun di pagi hari, mimpi itu sudah hilang tidak berbekas. Berhenti sebagai mimpi. Berbeda dengan para 'pemimpi di siang hari' yang bermimpi dengan mata terbuka, sehingga mereka memulai aksi untuk mewujudkan mimpi mereka. Entah kenapa, etimologi bahasa Indonesia justru memberikan konotasi negatif untuk istilah 'mimpi di siang bolong'. Seakan mimpi adalah sebuah hal yang sia-sia. Padahal sering sekali gue bertemu dengan orang-orang yang berkesan putus asa karena segala macam kesulitan di hidup mereka, seakan tidak ada harapan, dan biasanya ini adalah orang-orang yang tidak lagi punya mimpi.
Keempat pembicara yang berkesan untuk gue di atas memiliki kesamaan: mereka semua memiliki mimpi besar untuk dunia di sekitarnya. Tetapi mereka semua   memulai sesuatu hal untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka, hal yang di awalnya berkesan melawan arus.
Prof. Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank untuk memberikan akses pinjaman untuk wanita miskin di Bangladesh, di saat semua bank tidak mau memberikan pinjaman ke mereka karena dianggap beresiko tinggi
Ibu Tri Mumpuni menggalang banyak komunitas di daerah yang tidak punya akses listrik untuk memiliki pembangkit listrik sendiri (tenaga mikrohidro), di saat PLN menganggap investasi di daerah-daerah tersebut terlalu sulit.
Pak Anies Baswedan menginspirasi dan menggerakkan sarjana-sarjana terbaik bangsa ini untuk menyumbangkan setahun dari hidup mereka mengabdi sebagai pengajar SD di seluruh pelosok Indonesia, di saat Kementerian tidak mampu menyediakan tenaga pengajar untuk para siswa yang selalu disebut sebagai 'penerus bangsa' ini.
Charly Kleissner, mungkin tidak banyak yang kenal, tetapi sangat menginspirasi untuk gue karena dia dan istrinya termasuk salah satu orang yang berhasil mengubah pola pikir filantropi dari 'sumbangan' menjadi 'investasi yang bermakna' dengan tidak mengorbankan dampak positifnya.
Mereka MEMULAI sesuatu, bukan sekedar berbicara idealisme. Fokus kepada perbuatan, bukan retorisme. Walaupun harus diakui, mereka semua adalah pembicara yang sangat menginspirasi di atas panggung. Mungkin yang menginspirasi bagi gue bukanlah pidato mereka, tetapi mengetahui apa yang sudah mereka kerjakan.
Salah satu nasihat Prof. Yunus adalah: perubahan sebesar apapun dimulai dari hal kecil. Mulai dengan satu-dua orang di sekitarmu. Lihat keberhasilannya dan lakukan perubahan yang diperlukan. Saat sudah menemukan formula yang dibutuhkan untuk berhasil, lakukan duplikasi dan replikasi hingga perubahan akan dirasakan oleh lebih banyak lagi orang. Hingga akhirnya Grameen Bank sekarang sudah membantu lebih dari 8 juta perempuan miskin Bangladesh untuk mendapatkan kredit mikro. Beliau memulai eksperimennya dengan meminjamkan $27 kepada sekelompok perempuan di sebuah desa.
Pada akhirnya gue lebih suka berdiskusi dengan orang-orang yang menggunakan kata, "Gue bisa begini dan begini, kira-kira loe bisa begitu nggak? Kalau nggak, kira-kira siapa ya yang bisa?" Spirit diskusi seperti ini sangat positif: penuh dengan rencana aksi, bukan bualan, dan kolaborasi. Karena setiap orang sadar bahwa mereka bukan Superman yang bisa menyelamatkan dunia seorang diri. Lebih baik berkolaborasi seperti The Avengers dan X-Men.
Seperti sebuah kalimat klise yang sering sekali dipakai, "Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" Mari bermimpi, dengan mata terbuka lebar

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa