Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi mengenai tantangan yang akan
dihadapi oleh anak dalam mengikuti keterampilan membaca. Kegiatan
membaca seperti halnya kita belajar memasak, terdapat beberapa tahap
yang perlu dilalui juga terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan,
hingga pada akhirnya, kita dapat melakukan kegiatan memasak dengan baik.
Kembali, mengenai kegiatan membaca, terdapat beberapa teori mengenai
membaca.
Berdasarkan ilustrasi singkat di atas, kegiatan membaca pada anak
merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental
(Abdurrahman, 2012). Lebih lanjut, Abdurrahman (2012) mengungkapkan
bahwa aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan
ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman.
Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan
jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat symbol-simboll
bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami
bacaan.
Abdurrahman (2012) menyebutkan terdapat berbagai kesalahan dalam
membaca. Saya memiliki pendapat bahwa kesalahan membaca yang dialami
oleh anak adalah merupakan proses belajar anak. Sehingga, dalam proses
tersebut anak mengalami tantangan bahwa ia perlu berusaha keras untuk
melatih diri hingga lancar membaca. Berikut kesalahan dalam membaca
(Abdurrahman, 2012) yang perlu diperhatikan yakni:
1. Penghilangan kata atau huruf;
2. Penyelipan kata;
3. Penggatian kata;
4. Pengucapan kata salah dan makna berbeda. Sebagai contoh: Kalimat “Baju bibi baru” dibaca “Baju bibi biru.”;
5. Pengucapan kata salah tetapi makna sama. Sebagai contoh: Kalimat “Kakak pergi ke sekolah” dibaca “Kakak pigi ke sekolah.”;
6. Pengucapan kata salah dan tidak bermakna. Sebagai contoh: Bapak beli duren” dibaca “Bapak beli buren.”;
7. Pengucapan kata dengan bantuan guru. Kegiatan tersebut terjadi ketika
anak sudah ditunggu oleh guru, namun anak belum melafalkan kata-kata
yang diharapkan. Sehingga, anak memerlukan bantuan yang biasanya karena
adanya kekurangan dalam mengenal huruf atau karena takut risiko jika
terjadi kesalahan.;
8. Pengulangan. Pengulangan dapat terjadi pada kata, suku kata, atau
kalimat. Contoh: pengulangan adalah “Bap-ba-ba Bapak menulis su-su-rat.”
Pengulangan terjadi mungkin karena kurang mengenal huruf sehingga harus
memperlambat membaca sambil mengingat-ingat nama huruf yang dikenal
tersebut. Kadang-kadang anak sengaja mengulang kalimat untuk lebih
memahami arti kalimat tersebut.;
9. Pembalikan kata.;
10. Pembalikan huruf. Pembalikan huruf terjadi terutama pada huruf-huruf
yang hampir sama seperti d dengan b; p dengan q atau h, m dengan n atau
w.;
11. Kurang memperhatikan tanda baca;
12. Pembetulan sendiri. Pembetulan dilakukan oleh anak jika ia menyadari
adanya kesalahan. Karena kesadaran akan adanya kesalahan, anak lalu
mencoba membetulkan sendiri bacaannya. ;
13. Ragu-ragu. Anak yang ragu-ragu terhadap kemampuannya sering membaca
dengan tersendat-sendat. Murid yang ragu-ragu dalam membaca sering
dianggap bukan sebagai kesalahan. Meskipun demikian guru umumnya
berupaya untuk memperbaiki karena dianggap sebagai kebiasaan yang tidak
baik. Keraguan dalam membaca juga sering disebabkan anak kurang mengenal
huruf atau karena kekurangan pemahaman.
14. Tersendat-sendat.
Berdasarkan dari 14 kesalahan membaca di atas maka guru, orang tua dan
pendidik anak perlu memperhatikan kesalahan membaca yang dilakukan anak.
Perhatian tersebut dapat dilakukan melalui observasi dan mencatat hasil
membaca anak atau merekam kegiatan membaca anak. Sehingga dapat
diperoleh pada 14 kesalahan membaca manakah tantangan yang paling sulit,
sulit, mudah, sangat mudah bagi anak.
Berikutnya, setelah guru orang tua dan pendidik anak menemukan level
tantangan yang dihadapi anak maka harapannya adalah anak dapat dilatih
keterampilan membaca tertentu. Khususnya, keterampilan membaca yang
dibutuhkan. Sebagai contoh: Berdasarkan 5-6 kali pengamatan, anak
terlihat lebih dominan ragu-ragu dalam membaca. Kemudian, saran yang
perlu dilakukan adalah anak diberi dukungan dan rasa percaya diri dalam
kegiatan membaca dimunculkan seperti “tidak apa-apa salah, mari kita
belajar lagi.” Anak juga ditunjukkan kemajuan yang telah dilakukan
melalui hasil rekaman video, atau dari rekaman suara saat anak membaca.
Berikan pujian apabila anak mengalami kemajuan. Harapan terakhir adalah
anak mengalami kemajuan dan keterampilan membaca lancarpun dimiliki oleh
anak.
Selamat membimbing anak & Salam hangat!
Jumat, 18 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar