Sebentar lagi tepat tanggal 2 Mei bangsa ini akan merayakan hari
Pendidikan Nasional, seremonial yang selalu diadakan tiap tahun. Tetapi
masih banyak yang belum tahu apa makna di balik peringatan ini dan
bagaimana perkembangan pendidikan di negeri tercinta ini hingga tahun
2014 ini.
Mengintip Masa Lalu
Berbicara mengenai pendidikan saat ini, kita juga harus melihat
pendidikan generasi terdahulu. Bagaimana Soekarno, Hatta, Ki Hadjar
Dewantara, St. Syahrir, Agus Salim, Cipto Mangun Kusumo dan masih banyak
lagi tokoh-tokoh bangsa ini yang besar dan dikenal tak hanya di negeri
sendiri tapi juga di luar sana, tak lain karena pendidikan. Pendidikan
yang mencetak mereka menjadi manusia-manusia yang cerdas hingga
Belandapun kerepotan dibuatnya. Pendidikan yang pada awalnya hanya
bertujuan untuk mempermudah Belanda dalam hal penyedian tenaga kerja
murah dengan membuat pendidikan yang berjenjang yaitu tidak berlaku
untuk semua kalangan dan berdasarkan tingkat.
Adanya batasan-batasan dalam pendidikan masa itu, tak membuat
anak-anak ini lemah. Kesempatan yang ada tidak disia-siakan, walaupun
mereka diperlakukan berbeda dengan anak-anak Belanda tetapi mereka masih
tetap semangat untuk belajar. Sehingga banyak diantara merekapun bisa
melanjutkan kuliah hingga ke negeri Belanda. Kondisi yang tak pernah
dibayangkan oleh belanda, bagaikan ”senjata makan tuan”
pendidikan yang mereka berikan yang mencetak manusia-manusia cerdas ini
malah membuat goyah kedudukan Belanda. Bagaimana tidak, beberapa tokoh
inipun membagikan pendidikan yang mereka dapat dengan mendirikan
sekolah – sekolah agar anak-anak bangsanya bisa maju.
Salah satunya Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan
pendidikan di Indonesia ini bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat.
Aktivitasnya dimulai sebagai jurnalis pada beberapa surat kabar dan
bersama EFE Douwes Dekker, mengelola De Expres. Ki Hadjar pun aktif
menjadi pengurus Boedi Oetomo dan Sarikat Islam. Selanjutnya bersama
Cipto Mangun Kusumo dan EFE Douwes Dekker — dijuluki ”Tiga Serangkai” —
ia mendirikan Indische Partij, sebuah organisasi politik pertama di
Indonesia yang dengan tegas menuntut Indonesia merdeka. Pada zaman
Jepang, peran Ki Hadjar tetap menonjol. Bersama Soekarno, Hatta, dan Mas
Mansur, mereka dijuluki “Empat Serangkai”, memimpin organisasi Putera.
Ketika merdeka, Ki Hadjar menjadi Menteri Pengajaran Pertama.
Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Maknanya Di depan anak didik memberi contoh teladan, ditengah-tengah
atau bersama anak didik membangun semangat dan harapan, dan menjadi
pendorong dan pendamping anak didik untuk selalu terus maju meraih
cita-cita. Untuk mengenang jasa beliau, maka tanggal 2 Mei yang
merupakan hari lahirnya Ki Hadjar Dewantara diperingati sebagai Hari
Pendidikan Nasional.
Hari ini
Mendapatkan pendidikan tak lagi seberat dahulu, sekolah terbuka bagi
umum dan semua kalangan. Walaupun sedikit berbeda ketika masuk di
sekolah kota dan desa tetapi semua punya kesempatan untuk sekolah
sekalipun perempuan. Tetapi tak tahu kenapa kemudahan ini bukannya
membuat mereka lebih giat dan semangat lagi malah membuat mereka menjadi
terlena dan malas belajar. Ketika dulu, mereka harus berjalan
berkilo-kilo untuk menempuh sekolah sekarang tinggal naik motor sampai,
harus mengingat pelajaran yang diberikan guru karena tidak ada buku
untuk menulis, tak ada kalkulator untuk menghitung apalagi komputer.
Sekarang dengan segala kemajuan teknologi dan fasilitas yang lengkap
malah kemauan sekolah apalagi belajar yang semakin turun.
Tak tahu siapa yang harus disalahkan, apakah pemerintah yang hanya
diam di kursi empuk mereka tanpa melihat kondisi lapangan. Sehingga tak
pernah tahu beberapa daerah kekurangan guru, jadi mana yang gurunya
harus ditambah dan daerah mana yang gurunya tak usah ditambah. Atau
malah mereka sebenarnya sudah tahu tapi seakan tutup mata dengan kondisi
ini karena itu mereka yang lakukan. Pemerintah juga sudah mencoba
membantu dengan program BOS. Tetapi bukannya tertolong program ini malah
membuat pihak sekolah kerepotan, mereka tak hanya mengurus siswa
sekarang juga harus mengurus uang yang “dipaksakan” untuk dibelanjakan
sampai habis. Sehingga laporan-laporan BOS banyak terjadi rekayasa.
Kedua, guru yang selalu kita sanjung sebagai Pahlawan Tanpa Jasa
sekarang malah minta “balasan jasa”. Tak mau lagi diganggu waktunya
diluar jam sekolah untuk sekedar membantu belajar siswa-siswanya,
sekarang hanya sebatas bahan pelajaran selesai mereka sampaikan di kelas
walaupun anak-anak belum paham. Guru marah ketika siswanya datang
telat, dan tetap “arogan” ketika dianya datang telat. Dia membuat aturan
buat siswa-siswanya tetapi merekanya sendiri tak punya aturan. Mereka
mengajarkan kejujuran kepada anak-anak tetapi mereka juga yang
memberikan contoh berbohong pada anak-anak. Ironis, guru tak bisa
dijadikan contoh lagi sebagaimana amanat dari bapak pendidikan kita Ki
Hadjar Dewantara yang selalu lekat dengan semboyan “Ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso, dan tutwuri handayani”. Itulah sosok guru yang diharapkan oleh Ki Hajar Dewantara.
Ketiga, mungkin kesalahan orang tua yang tak memberi perhatian
pendidikan anak-anaknya, pendidikan dijadikan tanggung jawab pihak
sekolah. Sehingga tak pernah mau tahu dengan perkembangan pendidikan
anak-anaknya. Tapi apa boleh buat karena orang tua mereka juga tak
berpendidikan jadi mereka juga tak mengerti dengan perkembangan
pendidikan anak-anak mereka.
Tak tahu siapa yang harus disalahkan sekarang, dan tak ada gunanya
juga untuk saling menyalahkan. Yang diperlukan sekarang bagaimana
perbaikan untuk kedepannya agar tujuan pendidikan itu benar-benar
tercapai.
Kita Butuh Guru Berkualitas
Ini adalah salah satu cara yang harus kita perbaiki, mencari guru
yang berkualitas tak hanya dalam pengetahuan saja tetapi juga dalam
perilaku supaya apa yang dicita-citakan bahwa guru adalah pengajar dan
pendidik yang menjadi panutan bisa tercapai. Guru-guru sekarang bisa
bercermin bagaimana guru-guru dahulu dengan segala keterbatasan dapat
mengajar dengan baik. Tanpa ruangan, buku, spidol, kalkulator, komputer
dan fasilitas mewah lainnya mereka bisa mencetak generasi terbaik
bangsa. Sedangkan kemewahan malah membuat kita terpesona dan lengah
bukannya menjadi kreatif dan inovatif masih semakin mandek.

0 komentar:
Posting Komentar