SANTRI JADI PENULIS
Pesantren
adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Ia telah ada jauh
sebelumn Indonesia meraih status merdeka dan diakui sebagai sebuah
negara oleh dunia. Bahkan pesantren pun turut menjadi motor penggerak
kemerdekaan melalui para kiai dan santrinya.
Hingga kini
pesantren masih eksis di negara yang mayoritas penduduknya beragama
Islam ini. Baik yang amat identik dengan kesalafannya maupun yang sudah
memasukkan unsur-unsur modern ke dalam proses pembelajarannya. Yang
jelas pesantren sangat berjasa dalam pembentukan moral dan karakter
bangsa Indonesaia. Tak sedikit santri yang menduduki posisi sebagai
pemuka agama dalam kehidupan bermasyarakat. Tentunya hal itu disebabkan
oleh kemampuan intelektual santri yang tak diragukan lagi.
Mencetak
manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak karimah adalah misi utama
pesantren. Misi mulia tersebut tak akan terealisasi tanpa melibatkan
kiai dan santri itu sendiri. Sebagai pengasuh pesantren, kiai harus
memiliki ketelatenan, kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing dan
mengarahkan santrinya ke arah yang diridhai oleh Allah. Demikian pula
dengan santri yang seyogianya menancapkan niat dan kesadaran dalam hati
untuk selalu mentatati perintah sang kiai selama tidak menyalahi koridor
syariat. Hubungan yang harmonis di antara keduanya akan menimbulkan
suasana yang damai di pesantren dan sekitarnya.
Untuk
meningkatkan kualitas output pesantren ada beberapa hal yang harus
dicanangkan sejak dini, antara lain baca dan tulis. Minat baca harus
terus ditumbuhkembangkan dalam diri setiap santri agar wawasan agama
mereka semakin kaya. Kitab dan buku hendaknya menjadi makanan pokok yang
wajib dikonsumsi tiap hari. Book is window of knowledge. Nampaknya
statement ini sangat tepat sebab realitanya dengan banyak membaca
seseorang akan memperoleh pengetahuan yang lebih. Kualitas keilmuan
seseorang biasanya bisa dilihat dari seberapa banyak buku yang ia baca
dan pahami.
Hal lain yang perlu diperhatikan jika ingin menyabet
gelar a good santri adalah dengan menulis. Ya, tradisi tulis menulis
harus ditanam dan dilestarikan di lingkungan pesantren. Bukankah
pesantren ada dalam rangka mengkaji kitab-kitab warisan ulama terdahulu?
Sedangkan kitab-kitab itu adalah buah pikiran ulama yang tertuangkan
dalam bentuk tulisan. Bukankah al Qur’an masih bisa kita nikmati
bacaannya hingga detik ini berkat jasa para sahabat yang tergabung dalam
kepanitiaan kodifikasi al Qur’an? Andaikan kala itu tidak ada inisiatif
untuk membukukan al Qur’an mungkin umat Islam sekarang tak akan pernah
mengenal kitab sucinya. Oleh karena itu, sebagai generasi muda
selayaknya santri menstimulus dirinya untuk mencintai dunia kepenulisan.
Menulis
adalah hal yang penting, menyehatkan dan mengasyikkan. Dikatakan
penting karena dengan aktivitan menulis suatu ilmu pengetahuan bisa
terabadikan sehingga manfaaatnya bisa menjalar ke generasi berikutnya.
Dengan menulis sekaligus dapat mengasah dan menyehatkan otak. Otak
ibarat pisau yang akan berkarat manakala tidak diasah. Dan salah satu
cara pengasahan otak adalah dengan menorehkan ide dan gagasan ke dalam
bahasa tulisan. Di samping itu, menulis juga merupakan aktiviatas yang
mengasyikkan bagi mereka yang terbiasa menulis dan tahu rahasia di balik
sebuah tulisan.
Ala bisa karena biasa. Kepintaran/kepandaian
seseorang bisa kalah oleh latihan yang rajin dilakukan oleh orang yang
sebenarnya kurang pandai. Pepatah ini patut dijadikan motivasi bagi
santri untuk tetap semangat menulis. Sebetulnya modal utama menulis
yaitu kemauan, keberanian, ketelatenan, kesabaran dan mau berlatih.
Adapun bakat bukanlah prioritas utama. Sekali lagi, bakat akan terkalah
oleh kebiasaan dari orang yang sebenarnya tak memiliki bakat.
Hampir
tiap orang yang tak buta informasi tahu bahwa Imam Syafi’i adalah
seorang pakar Fiqih pemilik madzhab Syafi’i. Kang Abik dengan Ayat-ayat
Cinta dan Ketika Cinta Bertasbihnya mampu mengguncang dunia perfilman
Indonesia maupun luar negeri. Mbak Asma melalui cerpen Emak Ingin Naik
Hajinya telah berhasil mengantarkannya ke berbegai kota di dalam negeri
maupun manca negara dalm rangka promosi film yang disadur dari cerpennya
itu. Santri mana yang tak ingin mendulang manfaat seperti mereka?
Rata-rata jawabannya pasti ingin menjadi orang sehebat mereka. Lalu
bagaimana caranya? Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan tersebut
adalah dengan menulis, menulis dan menulis. Tentunya tanpa
mengesampingkan kegiatan membaca.
Membaca dan menulis adalah
kolaborasi yang pas. Keduanya harus dijalankan oleh santri jika ingin
predikat a good santri disematkan di atas pundaknya. Baca dan tulis
tidak bisa dipisahkan satu sama lain sebab menulis tanpa membaca ibarat
orang buta yang berjalan dan membaca tanpa menulis ibarat orang pincang.
Tak ada satu pun santri yang mengharapkan kebutaan dan kepincangan ada
dalam dirinya. Oleh karena itu, membaca dan menulis harus diupayakan
semaksimal mungkin agar kelak menjadi tradisi khas pesantren.
Dengan
membaca dan menulis diharapkan pesantren akan berhasil mencetak output
yang berkualitas tinggi. Alumni pesantren yang bermutu dan berkualitas
tinggi diharapkan mampu mengubah kondisi bangsa Indonesia ke arah yang
lebih baik. Let’s read and write..... Let’s be smart writers.... Keep
writing.....
Sabtu, 23 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar