Sabtu, 23 November 2013

SANTRI JADI PENULIS? WHY NOT?

SANTRI JADI PENULIS


Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Ia telah ada jauh sebelumn Indonesia meraih status merdeka dan diakui sebagai sebuah negara oleh dunia. Bahkan pesantren pun turut menjadi motor penggerak kemerdekaan melalui para kiai dan santrinya.

Hingga kini pesantren masih eksis di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Baik yang amat identik dengan kesalafannya maupun yang sudah memasukkan unsur-unsur modern ke dalam proses pembelajarannya. Yang jelas pesantren sangat berjasa dalam pembentukan moral dan karakter bangsa Indonesaia. Tak sedikit santri yang menduduki posisi sebagai pemuka agama dalam kehidupan bermasyarakat. Tentunya hal itu disebabkan oleh kemampuan intelektual santri yang tak diragukan lagi.

Mencetak manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak karimah adalah misi utama pesantren. Misi mulia tersebut tak akan terealisasi tanpa melibatkan kiai dan santri itu sendiri. Sebagai pengasuh pesantren, kiai harus memiliki ketelatenan, kesabaran dan keikhlasan dalam membimbing dan mengarahkan santrinya ke arah yang diridhai oleh Allah. Demikian pula dengan santri yang seyogianya menancapkan niat dan kesadaran dalam hati untuk selalu mentatati perintah sang kiai selama tidak menyalahi koridor syariat. Hubungan yang harmonis di antara keduanya akan menimbulkan suasana yang damai di pesantren dan sekitarnya.

Untuk meningkatkan kualitas output pesantren ada beberapa hal yang harus dicanangkan sejak dini, antara lain baca dan tulis. Minat baca harus terus ditumbuhkembangkan dalam diri setiap santri agar wawasan agama mereka semakin kaya. Kitab dan buku hendaknya menjadi makanan pokok yang wajib dikonsumsi tiap hari. Book is window of knowledge. Nampaknya statement ini sangat tepat sebab realitanya dengan banyak membaca seseorang akan memperoleh pengetahuan yang lebih. Kualitas keilmuan seseorang biasanya bisa dilihat dari seberapa banyak buku yang ia baca dan pahami.

Hal lain yang perlu diperhatikan jika ingin menyabet gelar a good santri adalah dengan menulis. Ya, tradisi tulis menulis harus ditanam dan dilestarikan di lingkungan pesantren. Bukankah pesantren ada dalam rangka mengkaji kitab-kitab warisan ulama terdahulu? Sedangkan kitab-kitab itu adalah buah pikiran ulama yang tertuangkan dalam bentuk tulisan. Bukankah al Qur’an masih bisa kita nikmati bacaannya hingga detik ini berkat jasa para sahabat yang tergabung dalam kepanitiaan kodifikasi al Qur’an? Andaikan kala itu tidak ada inisiatif untuk membukukan al Qur’an mungkin umat Islam sekarang tak akan pernah mengenal kitab sucinya. Oleh karena itu, sebagai generasi muda selayaknya santri menstimulus dirinya untuk mencintai dunia kepenulisan.

Menulis adalah hal yang penting, menyehatkan dan mengasyikkan. Dikatakan penting karena dengan aktivitan menulis suatu ilmu pengetahuan bisa terabadikan sehingga manfaaatnya bisa menjalar ke generasi berikutnya. Dengan menulis sekaligus dapat mengasah dan menyehatkan otak. Otak ibarat pisau yang akan berkarat manakala tidak diasah. Dan salah satu cara pengasahan otak adalah dengan menorehkan ide dan gagasan ke dalam bahasa tulisan. Di samping itu, menulis juga merupakan aktiviatas yang mengasyikkan bagi mereka yang terbiasa menulis dan tahu rahasia di balik sebuah tulisan.

Ala bisa karena biasa. Kepintaran/kepandaian seseorang bisa kalah oleh latihan yang rajin dilakukan oleh orang yang sebenarnya kurang pandai. Pepatah ini patut dijadikan motivasi bagi santri untuk tetap semangat menulis. Sebetulnya modal utama menulis yaitu kemauan, keberanian, ketelatenan, kesabaran dan mau berlatih. Adapun bakat bukanlah prioritas utama. Sekali lagi, bakat akan terkalah oleh kebiasaan dari orang yang sebenarnya tak memiliki bakat.

Hampir tiap orang yang tak buta informasi tahu bahwa Imam Syafi’i adalah seorang pakar Fiqih pemilik madzhab Syafi’i. Kang Abik dengan Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbihnya mampu mengguncang dunia perfilman Indonesia maupun luar negeri. Mbak Asma melalui cerpen Emak Ingin Naik Hajinya telah berhasil mengantarkannya ke berbegai kota di dalam negeri maupun manca negara dalm rangka promosi film yang disadur dari cerpennya itu. Santri mana yang tak ingin mendulang manfaat seperti mereka? Rata-rata jawabannya pasti ingin menjadi orang sehebat mereka. Lalu bagaimana caranya? Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menulis, menulis dan menulis. Tentunya tanpa mengesampingkan kegiatan membaca.

Membaca dan menulis adalah kolaborasi yang pas. Keduanya harus dijalankan oleh santri jika ingin predikat a good santri disematkan di atas pundaknya. Baca dan tulis tidak bisa dipisahkan satu sama lain sebab menulis tanpa membaca ibarat orang buta yang berjalan dan membaca tanpa menulis ibarat orang pincang. Tak ada satu pun santri yang mengharapkan kebutaan dan kepincangan ada dalam dirinya. Oleh karena itu, membaca dan menulis harus diupayakan semaksimal mungkin agar kelak menjadi tradisi khas pesantren.

Dengan membaca dan menulis diharapkan pesantren akan berhasil mencetak output yang berkualitas tinggi. Alumni pesantren yang bermutu dan berkualitas tinggi diharapkan mampu mengubah kondisi bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Let’s read and write..... Let’s be smart writers.... Keep writing.....

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa