Rabu, 05 Juni 2013

Renungan Malam

Ketahuilah wahai saudaraku,,nasihat yang kedengarannya baik namun terkadang tidak sesuai dengan AL-Qur'an dan Sunnah maka kita harus tetap mengikuti nash-nash yang sudah menjelaskan.


Sebagai contoh :Jika seorang Ibu mewasiatkan kepada anaknya, "Nak kejarlah cita-citamu setinggi langit, mau jadi pengusaha, pejabat, dll, silakan, tapi JANGAN LUPA SHOLAT."


Nasihat seorang ibu kepada anaknya seperti ini di zaman ini sudah dianggang sangat bagus sekali, padahal sangat bertolak belakang dengan Al-Qur'an. Allah ta'ala berfirman,


"Dan KEJARLAH apa-apa yang Allah siapkan untukmu di negeri akhirat, dan jangan kamu LUPAKAN bagianmu dari (kenikmatan) dunia." [Al-Qoshoh: 77]


Maka akhirat yang seharusnya dikejar, yaitu semua bentuk ibadah kepada Allah ta'ala, adapun kenikmatan-kenikmatan dunia, sekedar jangan dilupakan, bukan dikejar. Kalau begitu salah juga yang mengatakan, "Harus menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat." Padahal dunia ini begitu rendah dibanding akhirat.


Maka seorang muslim itu cita-citanya begitu tinggi, adapaun orang kafir cita-citanya sangat rendah, karena dunia itu rendah.


-- saya kutip dari tulisan Ustadz Sofyan Chalid Ruray dan faedahnya dari Ustadz Khidir Muhammad Sunusi -hafidzahumullah-.


Jadi kembalikan semua urusan di kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah (pendahulu umat ini, yakni para sahabat dan orang2 yang mengikuti dengan baik)

 Saya tekankan bahwa grup ini bagi yang ingin mendalami Ahlussunnah wal Jamaah dengan pemahaman as-salaf (yakni sahabat, tabi'in, tabiut tabi'in dan orang-orang yang istiqomah mengikuti mereka)

Ketahuilah bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai Ahlussunnah apabila ada pada dirinya adanya keyakinan :


1. Iman kepada takdir yang baik dan buruk, membenarkan hadits-hadits tentang masalah ini, beriman kepadanya, tidak mengatakan “mengapa?”, dan tidak pula mengatakan: ”Bagaimana?”, akan tetapi kita hanya membenarkan dan beriman dengannya.


2. Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, janganlah dia merasa risih untuk mengatakan: ”Dia bukan makhluk”. Sesungguhnya kalamullah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari Dzat Allah, dan sesuatu yang berasal dari dzatnya itu bukanlah makhluk.


3. Beriman dengan ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah) pada hari kiamat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih


4.  Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah melihat Rabbnya, hal ini telah ma’tsur dari Rasulullah di riwayatkan oleh Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Al Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, diriwayatkan pula oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihram dari Ibnu Abbas, dan kita memahami hadits ini sesuai dengan dhahirnya sebagaimana datangnya dari Rasulullahdan berbicara (tanpa ilmu) dalam hal ini adalah bid’ah, akan tetapi kita wajib beriman dengannya sebagaimana dhahirnya dan kita tidak berdebat dengan seorangpun dalam masalah ini.


5. Beriman dengan mizan (timbangan amal) pada hari kiamat


6. Sesungguhnya para hamba akan berbicara dengan Allah pada hari kiamat tanpa adanya penerjemah antara mereka dengan Allah dan kita wajib mengimaninya.


7. Beriman kepada haudh (telaga) yang dimiliki oleh Rasulullah pada hari kiamat, yang akan didatangi oleh umatnya, lebarnya sama seperti panjangnya yaitu selama perjalanan satu bulan, bejana-bejananya seperti banyaknya bintang-bintang di langit, hal ini sebagaimana diberitakan dalam khabar-khabar yang benar dari banyak jalan.


8. Beriman dengan adanya adzab kubur.


9. Sesungguhnya umat ini akan diuji dan ditanya dalam kuburnya tentang Iman, Islam, siapa Rabbnya dan siapa Nabinya.


10. Beriman kepada syafa`at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan kepada suatu kaum yang akan keluar dari neraka setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian mereka akan diperintahkan menuju sungai di depan pintu syurga


11.  Beriman bahwa Al-Masih Ad-Dajjal akan keluar, tertulis diantara kedua matanya (Kafir/bahasa Arab) dan beriman dengan hadits-hadits yang datang tentang masalah ini beriman bahwa ini akan terjadi.


12. Beriman bahwa Isa bin Maryam akan turun dan membunuh dajjal di pintu Ludh.


13. Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang, sebagaimana telah diberitakan dalam hadits


14. Sebaik-baik umat setelah NabiNya adalah Abu bakar As Shidiq, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, kita mengutamakan tiga shahabat ini sebagaimana Rasulullah mengutamakan mereka, para shahabat tidak berselisih dalam masalah ini, kemudian setelah tiga orang ini orang yang paling utama adalah ashabus syura (Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad dan [Thalhah]*) seluruhnya berhak untuk menjadi khalifah dan imam.


15. Mendengar dan taat pada Imam dan Amirul mukminin yang baik ataupun yang fajir.


16. Jihad terus berlangsung bersama Imam hingga hari kiamat dengan imam yang baik ataupun fajir tidak boleh ditinggalkan.


17. Pembagian harta fa’i (harta rampasan yang diambil tanpa melalui peperangan terlebih dahulu) dan pelaksanaan hukum-hukum had dilakukan oleh imam, dan hal ini terus berlangsung tidak boleh seorangpun mencela mereka dan tidak boleh pula membantah mereka.


18. Memberikan zakat (shadaqah) kepada mereka dibolehkan dan teranggap, Barangsiapa yang yang memberikannya kepada mereka maka sudah cukup baginya, Imamnya baik ataupun fajir.


19. Shalat Jum’at di belakang Imam dan di belakang orang yang dipilih oleh Imam sudah cukup dan sempurna dan dilakukan dengan dua rakaat, Barangsiapa yang mengulang shalatnya maka dia adalah seorang ahlul bidah yang meninggalkan atsar dan menyelisihi Sunnah.


20. Barangsiapa yang memberontak kepada Imam kaum muslimin setelah mereka berkumpul dan mengakuinya sebagai khalifah, dengan cara apapun dengan ridha maupun dengan paksa, maka pemberontak itu telah memecahkan persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar dari Rasulullah, kalau dia mati dalam keadaan memberontak maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.


21. Tidak dihalalkan atas seorangpun memerangi sulthan atau memberontaknya, Barangsiapa yang melakukannya maka dia adalah mubtadi’ (Ahlul bid’ah), sudah tidak diatas Sunnah dan jalan yang lurus.


22. Memerangi para pencuri dan khawarij diperbolehkan jika mereka mengancam jiwa dan harta seseorang.


23. Kami tidak mempersaksikan (memastikan) seorang ahlu qiblah (muslim) dengan amalannya akan masuk syurga atau neraka.


24. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dengan membawa dosa yang bisa memasukkannya dalam neraka- tapi dia taubat tidak terus menerus melakukan dosanya- maka sesungguhnya Allah menerima taubat hambanya serta mema’afkan kejelekannya.


25. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan telah ditegakkan atasnya hukum had di dunia maka itulah penghapus dosa baginya


26. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan terus menerus melakukan dosa, dan tidak bertaubat dari dosa-dosa yang mengharuskan ia dihukum oleh Allah, maka urusannya dikembalikan kepada Allah, kalau Allah menghendaki Dia akan mengadzab orang tersebut dan jika tidak Allah akan mengampuninya.


27. Barangsiapa yang bertemu dengan Allah – dalam keadaan kafir – Allah akan mengadzabnya dan tidak ada ampunan baginya.


28.  Rajam itu adalah haq (wajib) atas orang yang zina dan telah menikah, jika dia mengaku atau telah ada bukti yang kuat


29. Barangsiapa yang menghina seorang saja dari shahabat Rasulullahatau membencinya karena ada sesuatu yang dia perbuat, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya maka dia adalah ahlul bid’ah sampai dia bertarahum (mendoakan semoga Allah merahmati) kepada mereka semua dan hatinyapun selamat dari perasaan jelek kepada mereka.


30. Nifak adalah kufur, kufur kepada Allah dan menyembah selainnya.


31. [pembahasan ciri-ciri orang munafik]


32. Sorga dan neraka sudah diciptakan (sudah ada)


33. Barangsiapa yang mati dari ahlul kiblat (muslim) dalam keadaan muwahid (bertauhid), dishalati jenazahnya dan dimintakan ampun untuknya

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa