Jumat, 25 September 2015

Spiritual Mang Esin #Jilid 1: Merindukan Qurban benarkah



Tiga hari yang lalu menjelang hari raya idhul adha, Cak Mahos dan beberapa orang di kampungnya terlihat sibuk bersih-bersih di masjid. Karpet-karpet dijemur, lampu-lampu diganti baru, halaman disapu, pagar tembok dilabur, dan sebagainya. Itu kebiasaan baik yang sudah berlangsung bertahun-tahun di kampungnya. Kaum ibu juga bergotong-royong, menyediakan pisang dan tape goreng lengkap dengan kopi dan teh manis hangat. Anak-anak membantu membersihkan mushaf-mushaf Al-Quran yang berdebu lalu menyusunnya kembali di rak-rak.

Mereka menyambut hari qurban penuh suka cita. Tapi Mang Esin, yang dianggap kurang waras oleh orang-orang di kampungnya, hanya berdiri di depan pagar tembok masjid. Dia memperhatikan spanduk yang dibentangkan di pagar masjid. Tulisan “Selamat datang ya Qurban. Kami rindu padamu” yang ada di spanduk, dibacanya berulang-ulang dengan suara agak kencang.

Orang-orang maklum. Anak-anak tertawa. Mereka semua menganggap Mang Esin sedang kumat, dan tak mempedulikannya, kecuali Cak Mahos. Hanya dia yang sejauh ini menganggap Mang Esin sebagai orang istimewa. Dia karena itu mendatangi Mang Esin karena menduga dengan kelakuannya itu, pasti ada sesuatu yang telah mengusiknya, dan Cak Mahos ingin tahu.

“Belajar membaca, Mang?”
“Siapa yang pasang spanduk itu, Cak?”
“Anak-anak masjid, Mang. Idenya dari saya.”
“Nanti menjelang hari raya qurban, tulisan spanduknya ganti lagi?”
“Ya diganti, Mang. Diganti: ‘Qurban kami masih merindukanmu ’.”
“Apa benar kamu merindukan hari qurban, Cak?”
“Ya… Benar, Mang.”
“Kamu senang berpuasa sunnah?”
“Senang, Mang”
“Benar, kamu senang puasa sunnah, Cak?”
“Maksudnya, Mang?”
“Menurutmu, kenapa orang Islam diwajibkan berpuasa sunnah hari raya qurban?”
“Supaya bertakwa, Mang.”
“Itu tujuannya, Cak.”
“Jadi kenapa ada puasa sunnah , Mang?”
“Menurutmu kenapa ada hukum puasa sunnah hari raya qurban? Kenapa puasa sunnah diturunkan oleh Allah?”
“Lah saya kan yang bertanya, Mang?”
“Cak, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya untuk apa disunnahkan?”
“Ya… Tapi kan tetap sunnah berpuasa, Mang?”
“Tentu saja, Cak. Masalahnya: benar, kamu suka puasa sunnah?”
“Insya Alllah benar, Mang.”
“Kalau begitu, ayo kita usulkan kepada Allah agar puasa sunnah hari raya Qurban tidak usah dilakukan—apalagi hanya sebulan dalam dua hari. Sebab manusia, termasuk kamu, sudah suka.”
“Ya ndak gitu juga kali, Mang?”
“Lah terus gimana? Kamu suka atau tidak suka puasa? Aslinya loh ya, Cak?”
“Sebetulnya sih agak ndak suka, Mang…”
“Terus salat, apa kamu juga suka salat? Lima kali sehari, suka? Nanti sepertiga malam ada tahajjud, benar kamu suka mengerjakannya?”
“Iya sih, agak ndak suka juga…”
“Agak tidak suka atau tidak suka, Cak?”
“Agak… Agak tidak… Tidak suka, Mang.”
“Lalu kenapa kamu berpura-pura merindukan hari raya Qurban?”
“Ya gimana lagi, Mang, setiap tahunnya memang begitu.”
“Dan kamu ikut-ikutan, padahal kamu tidak suka puasa sunnah, tidak suka salat?”
“Siapa juga yang berani, Mang…”
“Itulah masalahmu. Mestinya kamu berterusterang dengan Allah bahwa kamu tidak suka salat dan tidak suka puasa sunnah, tapi kamu siap dan ikhlas melakukan sesuatu yang kamu tidak suka itu sehingga derajatmu tinggi di hadapan Allah. Kalau kamu suka, ya tidak tinggi derajatmu, Mang.”
“Waduh, Mang…”
“Waduh kenapa? Aku tanya ke kamu: orang suka, orang senang, terus melakukan atau menjalani yang disenangi atau disukai, apa hebatnya?”
“Ya ndak ada, Mang. Biasa saja.”
“Jadi, benar kamu suka puasa sunnah?”
“Ya sudah, saya akan berterusterang sama Allah bahwa saya tidak suka tapi saya akan menaati perintahnya dan akan melakukannya dengan ikhlas.”
“Begitu dong. Jangan pura-pura terus.”
“Sampeyan besok puasa sunnah kan, Mang?”
“Apa aku harus bilang dan pamer kalau aku akan berpuasa sunnah?”
“Yah, salah lagi… Saya mau melanjutkan menyapu dulu ya, Mang…”
Cak Mahos meninggalkan Mang Esin yang tetap berdiri di depan pagar masjid. Lalu, sambil bersedekap, Mang Esin kembali membaca tulisan di spanduk yang dipasang di pagar masjid. Suaranya lebih kencang. Persis seperti anak-anak yang gembira karena baru bisa membaca, dan membaca tulisan apa saja yang ditemuinya dengan keras-keras.
“Selamat datang ya Qurban. Kami rindu padamu… Selamat datang ya Qurban. Kami rindu padamu…”
Orang-orang dan anak-anak yang sibuk membersihkan masjid terus menertawatakan Mang Esin.

Kampung Ganjenesia
#Jilid 1 Spiritual Mang Esin
25 September 2015





8 komentar:

  1. Sebenernya aku juga kurang suka, tapi akan tetap berusaha melakukan perintah Allah :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantab dah. Suka atau tidak memang sudah perintahnya. Manusia sebagai makhluknya ya wajib melaksanakan itu syariatnya.

      Hapus
  2. Apa yang ada dipikiranran mang ehos pasti diluar perkiraan orang disekitar nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maqamnya Mang Esin sudah berbeda, masyarakat sekitar sudah salah menafsirkan untung tidak dikira kafir.

      Hapus
  3. Kalau memang sudah Perintah Yang Maha Kuasa, suka gak suka mau gak mau. kerjakan saja, itu kewajiban. mungkin begitu baiknya ya mas,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dek. Memang kodratnya manusia seperti itu.

      Hapus

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa