Rabu, 22 April 2015

Oky Taqwin #41: Jomblo Merayakan Hari Kartini

 ''1 April adalah salah satu hari yang penting di Indonesia, terutama kaum wanita, karena hari ini adalah hari untuk mengingat perjuangan Ibu Kartini untuk emansipasi wanita. Sekarang mari kita rayakan emansipasi wanita ini dengan melihat apa itu emansipasi dari sisi yang sedikit berbeda….''




Kalau  menghabiskan masa kecil di Indonesia, tanggal 21 April menjadi momen yang spesial setiap tahunnya. Di hari ini dan teman-temanmu akan berdandan  baju adat yang lainnya. Tapi di usia kita yang sekarang, momen Hari Kartini jadi menarik karena jadi ada banyak diskon di mall teman-teman selalu ribut di media sosial. Siapa sih Kartini yang sebenarnya? 

Banyak yang bilang bahwa Kartini sebenarnya overrated, dan masih banyak pahlawan wanita lainnya yang sebenarnya pantas dijadikan teladan. Ada juga yang bilang bahwa beliau dipengaruhi dan sebenarnya adalah ciptaan Barat. Terlepas dari itu, sebenarnya Kartini sebagai manusia adalah sosok yang bisa memberi kita inspirasi. Sungguh, beliau adalah putri yang layak diteladani oleh kita: generasi yang hidup di Indonesia 13 dekade untuk  setelahnya. Kartini masih seumuran kita saat beliau mulai mengungkapkan rencana besar untuk membuka sekolah bagi perempuan dan para pengukir kayu di Jepara. Ini sebenarnya bukan rencana awal beliau. Aslinya, Kartini berkeinginan pergi ke STOVIA atau sekolah untuk dokter Jawa. Namun, sang ayah tak memberi permisi karena khawatir Kartini akan menjadi satu-satunya murid perempuan di sana nanti.
“Teman-temanku di sini pun tidak setuju. Mereka takut aku tak tahan dengan kondisi lingkungan seperti itu.”
Tapi digagalkan lingkungannya, Kartini tak lantas patah hati. Ia menumbuhkan rencana baru: mendirikan sekolah dan menjadi guru. Dua adiknya diajak turut membantu. Tak hanya mengajar berhitung dan berbahasa saja, Kartini ingin murid-muridnya bisa menjahit dan mengerjakan keterampilan rumahan — supaya tak hanya cerdas di kepala, namun juga cekatan dengan tangannya.
“Kalau sudah punya kemampuan sendiri, tentu kualitas hidup mereka akan bisa lebih baik lagi.”
Sekolah ini memang tidak sampai terealisasi. Kartini harus meninggal di usia muda, belum genap 25 tahun tepatnya. Namun semangatnya tetap menyala dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Buktinya, mulai tahun 1912 Keluarga Van Deventer dari Belanda untuk membuka sekolah-sekolah Kartini di seluruh penjuru Jawa.
Jika kamu selama ini menilai Kartini tak layak jadi pahlawan, simak sendiri apa yang kamu lakukan di umurmu sekarang. Sudahkah lebih megah dari apa yang Kartini perjuangkan?


“Kalau Kartini pendekar sejati, kenapa nggak mendirikan organisasi aja? Kalau cuma nulis surat mah kita juga bisa kali~”
Jangan lupa, keadaan kita dan Kartini jauh berbeda. Jangan menjadikan kemudahan berdiskusi dan berorganisasi yang kita punya sekarang ini sebagai patokan untuk menilai cara beliau mewujudkan cita-citanya. Jangankan membuat organisasi, Raden Adjeng Kartini bahkan tak diizinkan keluar dari rumah besarnya di Jepara. Saat ayahnya berbaik hati membawa Kartini pergi ke pesta perayaan ultah Ratu Wilhelmina di Batavia saja, para tamu heboh sendiri melihat Kartini yang belum menikah tampil di hadapan umum.
Karena beliau “dikondisikan” untuk tinggal di rumah, Kartini pun lebih banyak menghabiskan waktu menulis surat pada teman-temannya di Eropa serta membaca buku. Bacaannya luas sekali: dari novel-novel sastra hingga majalah lifestyle wanita, dari koran ternama sampai Max Havelaar. Bahasa Belanda, Prancis, dan Jerman dipelajarinya. Mungkin jika saat itu sudah ada bahasa pemrograman, Kartini akan menjadi ahli C++ dan Python terbaik yang pernah ada.
Jika kamu yang pernah dihukum tak boleh ke luar rumah, bagaimana saat itu dirimu menghabiskan waktu? Jika hanya menonton film di layar laptopmu, mungkin seharusnya kamu malu…

“I have longed to make the acquaintance of the modern girl, that proud, independent woman who has all my sympathy! She who, happy and self-reliant, lightly and alertly steps on her way through life, full of enthusiasm and warm feeling; working not only for her own well-being and happiness, but for the greater good of humanity as a whole.”
– Kartini, 20 tahun
Pernahkah kita membaca Door Duisternis Tot Licht — yang dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang — di perpustakaan sekolah? Pastilah kita sepakat bahwa kumpulan surat itu terbaca bagai candu. Di sana, Kartini tak hanya menceritakan impian dan rencana-rencana besarnya saja. Ia pun menceritakan tradisi di Hindia Belanda sambil memprotes praktik penjajahan yang ada. Opium, agama, hingga sastra tak luput dibahasnya.
Kartini pun sadar bahwa apa yang dicita-citakannya tak akan datang jika ia hanya bermalas-malasan.
“Oh, the pain of caring for nothing. We must have something; work, that is just it. It is scary to feel the will to work, the longing to work, and yet be condemned to idleness.”
Kita benar-benar kehilangan ketika Kartini meninggalkan kita di usia yang begitu muda. Bayangkan apa yang bisa ia ciptakan andai Tuhan memberinya umur yang lebih panjang.

Tahukah  bahwa kami para putri Jawa tak diizinkan membuka mulut saat tertawa? Aku sih tak peduli: jika aku ingin tertawa, aku mengakak saja.”
Sama seperti kita, Kartini lahir di keluarga yang merawat dan menyayanginya. Ia dekat dengan ayah dan kakak laki-lakinya, yang terhitung berpikiran lebih terbuka daripada masyarakat Jawa pada masa itu. Namun sebagai perempuan, tentu ia diharapkan untuk tetap menjaga tradisi. Padahal Kartini juga punya mimpi-mimpinya sendiri.
“Tegakah aku mengkhianati mereka yang mencintaiku selama ini? Di sisi lain, bukankah aku berhutang janji pada diriku sendiri untuk mewujudkan mimpi?”
Kartini adalah sama seperti anak muda pada umumnya. Setiap hari, ia berjuang menyeimbangkan keinginan pribadi dan tuntutan lingkungannya. Kartini bisa menjadi teladanmu, bagaimana kepatuhan tak berarti kamu tak bisa jadi pemberani. Sementara, sikap hormat pada tradisi bukan berarti kamu tak boleh mengejar mimpi.

Kartini memang menaruh perhatian besar pada nasib kaum perempuan. Wajar, tentu, karena ia sendiri perempuan sejati. Namun, kita yang laki-laki sebenarnya punya hutang yang sama besarnya.
Dalam surat-suratnya, Kartini tak hanya berbicara soal nasib kaum perempuan saja. Ia juga memberikan perhatian yang sama pada nasib rakyat jelata yang tersiksa di bawah penjajahan Belanda. Ia pun bercerita betapa lucunya tingkah laku pegawai pemerintah Hindia Belanda jika pergi ke kota-kota di luar Batavia dan mengobrol dengan rakyat Jawa.
“Oh, mereka tak sudi jika kami yang berkulit cokelat ini melafalkan kata dalam bahasa Belanda!”
Lama setelah wafatnya, Kartini menginspirasi perjuangan putra-putri Indonesia. Beasiswa yang awalnya disediakan untuk beliau belajar direlakannya untuk Agus Salim, yang kemudian menjadi salah satu menteri paling berpengaruh di masa awal kemerdekaan negeri kita. Dan tahukah kamu bahwa Reformasi di tahun 1998 juga berhasil karena para demonstran memanfaatkan momentum Hari Kartini?

“Kok cuma Kartini aja sih yang punya hari sendiri? Lah, terus Cut Nyak Dien? Christina Martha Tiahahu?”
Mungkin kita juga sering mendengar pertanyaan ini dari teman-teman. Kenapa sih yang diperingati jasanya seolah-olah cuma Kartini saja? Padahal banyak juga pahlawan-pahlawan wanita lainnya yang Indonesia punya. Jasa-jasa mereka tak kalah hebatnya, kok. Christina Martha Tiahahu, misalnya, meninggal saat berperang melawan Belanda waktu usianya baru 17 tahun. Cut Nyak Dien memimpin langsung perjuangan rakyat Aceh termasuk saat gerilya di hutan. Belum lagi ada Dewi Sartika, Rasuna Said, dan Cut Nyak Meutia. Namun seperti yang sudah disebutkan, apa maknanya membanding-bandingkan perjuangan?
Kartini jadi lebih terkenal, mungkin, karena beliau bisa diterima lebih banyak kalangan. Walau ia perempuan ningrat Jawa, ia pun menarik bagi masyarakat Belanda, penulis legendaris Pramoedya, sampai kaum Muslim di Indonesia. 

“Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap, alangkah baiknya, jika tidak pernah ada agama. Sebab, agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri.
Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang Esa dan yang sama. Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra, dengan sedihnya bercerai-berai. Perbedaan gereja, tempat menyeru kepada Tuhan yang sama, juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan.
Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia? Agama yang harus menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru berapa banyaknya dosa yang diperbuat atas nama agama itu!
(Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)


Meskipun ini sudah tahun 2015, PR kita masih banyak! Perjuangan belum selesai hanya karena sekarang perempuan sudah bisa sekolah dan mencari pekerjaan. Kita harus lebih berusaha agar, baik bagi laki-laki maupun perempuan, untuk menjadikan Indonesia tempat yang lebih nyaman.
Jangan lupa juga bahwa Kartini tidak “hanya” memperjuangkan kesetaraan, namun juga kemajuan negeri. Menurutmu, apakah beliau akan cukup puas pada keadaan Indonesia yang saat ini? Saat masih banyak anak-anak di pelosok negeri yang gagap membaca, saat masih banyak yang melakukan kekerasan atas nama agama, saat masih ada pemukiman warga yang digusur tiba-tiba, itulah tanda bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.
Yuk, berhenti galau hanya soal jodoh dan materi. Sekarang saatnya kita fokus untuk mengembangkan diri. Bukankah itu syarat untuk memajukan negeri?
Selamat Hari Kartini, teman-teman!
 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa