Ini ceritanya menjawab salah satu pertanyaan temen mengenai TV dengan mengambil sebuah tema "Kolonialisasi Televisi" . Kita diajak untuk mengkritisi program televisi yg "janggal", tapi ingat! kita jgn cuma mengkritisi doang ya, tanpa memberikan solusi.
Dari pada bingung cari judul yg tepat, Si cadel langsung pake tema yg diatas aja. Jangan protes kalo saya katakan "keluhan dan pesimisme adalah kewajaran pada hari ini". Begitu Indonesia menjadi topik pembicaraan, maka lebih sering Indonesia dipandang dari sisi negatif. Indonesia penuh dengan kegagalan, deretan kesemrawutan, dan kekurangan yang tanpa habis.
Lihat berita-berita di TV adalah resep mujarab untuk pesimis. Seakan Republik ini cuma ada gagal, rusak, salah, sedih, kacau dan sejenisnya. Coba deh tengok berita di TV, di sana padat dengan kabar buruk. Tanpa sadar kita lebih sering dan lebih suka membicarakan Indonesia dengan pandangan negatif. Permasalahan kecil seseorang diberitakan seolah-olah merupakan masalah sebangsa dan setanah air. please deh..
Mengapa kita lebih suka memfokuskan pada kegagalan sambil mengabaikan kemajuan?.bukankah semua bangsa memiliki stok masalah yang luar biasa banyaknya. Apa saja yang kita bicarakan pasti di sana ditemukan masalah, pasti ada kekurangan.
Tidak adakah keberhasilan di republik ini? Ada banyak, tapi kita tidak membicarakan.Media justru sering mempertontonkan kegagalan- kegagalan atau sisi negative dari sebuah peristiwa, dan itu menjadi laku di masyarakat. Selain kegagalan, media juga kadang mempertontonkan hal yang kurang mendidik dan justru bisa merusak moral anak bangsa sebagai generasi penerus.
Ironisnya, di dalam negeri kita berkeluh kesah, sementara di luar negeri kita dipandang dengan penuh decak kagum. Indonesia dinilai dunia sebagai negeri yang stabil. Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi positif, dan mampu bangkit kembali setelah dihantam krisis keuangan pada 1997-1998.
Saran saya buat awak-awak media, maupun seluruh masyarakat indonesia, "mari kita melihat yang sudah dicapai, tidak hanya memperhatikan yang belum dicapai. Keseimbangan dan objektivitas bisa mendorong kita untuk memiliki optimisme. Apa lagi bila kita bisa secara cerdas membedakan antara sikap optimistis dan sikap mendukung pemerintah, serta membedakan sikap kritis dengan sikap pesimistis. Optimis terhadap bangsa tidaklah mendukung pemerintah. Mari kita lebih berpikir positif dan optimis seperti yang selalu ditekankan oleh Bapak Anies Baswedan".
Perhatikan pemasang iklan di berita TV. Tanyakan pada mereka, ingin jadi unsur perontok atau penguat percaya diri bangsa. Sering gagal membedakan kritis dan pesimis. “Niatnya” kritis, tampilnya pesimis. – Anies Baswedan


0 komentar:
Posting Komentar