“Aku sayang pacar kamu juga kan?”
Kalo kamu baca tulisan di atas, kira-kira kamu paham maksudnya nggak? Orang itu sayang pacar kamu, atau orang itu sayang pacarnya sih?
Kebingungan kita di atas adalah efek dari tidak tepatnya penggunaan tanda baca. Iya, tanda baca itu penting banget. Soalnya salah pemakaian tanda baca, juga bakal salah memberi makna pada kalimatnya. Jangan sampai kejadian kayak gini...

Aku juga bingung, ini update status ditulis pake alfabet atau pake huruf paku.
Apalagi sekarang komunikasi kita lebih banyak terjadi via teks, baik di chat maupun di media sosial. Percakapan yang terjadi dan informasi yang disebar harus diketik, bukan diomongin secara langsung. Kalau salah tulis, bisa terjadi salah paham, terus Perang Sipil sama sahabat sendiri. Saling unfollow, saling unshare, dan saling diem-dieman. Makanya, demi menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Rabu Bahasa kali ini akan membahas penggunaan tanda baca dalam Bahasa Indonesia. Yuk!
1. Tanda titik
Tanda titik berfungsi untuk mengakhiri kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Dipakai juga di akhir singkatan gelar dan di bagian belakang bagan atau daftar (kecuali di belakang angka atau huruf terakhirnya .red). Kalau nama disingkat, juga jangan lupa ditambah titik.
Contoh: Namanya James Samuel Jameson, kalau disingkat jadi J. S. Jameson.
Selain itu, kadang tanda titik juga ikut ngebantu misahin jam, menit, dan detik, serta bilangan ribuan dan kelipatannya yang menyatakan jumlah. Jadi, kalau nggak menyatakan jumlah seperti tahun lahir atau nomor seri, nggak usah pakai titik.
Contoh:
- Filmnya dimulai pukul 19.15 WITA.
- Karyawan Nyunyu berjumlah 2.400 orang.
- Kami pacaran selama 1.200.342 detik.
2. Tanda koma
Tanda baca ini banyak fungsi dan tugasnya, saudara-saudara. Berfungsi untuk misahin unsur dalam perincian atau pembilang, misahin kalimat yang setara yang terpisah oleh kata-kata seperti ‘tetapi’, ‘melainkan’, ‘kecuali’, dan semacamnya, dan misahin anak kalimat dan induk kalimat kalau anak kalimatnya ditaruh di depan.
Contoh:
- Anyep membeli mie instan, keju, dan kornet untuk makan malam nanti.
- Saya akan pilih kuenya, tapi kamu yang bayar, ya.
- Kalau ada yang menemani, saya pasti datang. (Yang sebelum koma itu anak kalimat)
Terus juga untuk misahin petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat, misahin kata seru, dan di depan angka desimal.
Contoh:
- Terakhir kali bertemu dia bilang, “Saya pasti bayar hutang, tapi kalau saya ingat.”
- Wah, saya lupa hari ini ada ujian!
- Meskipun berat badan Burhan 24,5 kilogram, tapi seminggu kemudian dia mati.
Pokoknya jangan sampai nulis kayak gini, ya.

Bangun tidur lalu makan eek, bang?
3. Tanda hubung (-)
Gunanya untuk menyambung unsur-unsur kata ulang, misah suku kata yang terpisah sama baris, dan merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
- Kami sudah berkali-kali memperingati dia, tapi dia nggak mau dengar.
- Tulisan yang kemarin sudah di-publish di blog.
4. Tanda pisah (—)
Untuk ngasih penjelasan di luar susunan utama kalimat kayak keterangan lain supaya kalimat jadi lebih jelas. Bisa juga berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Contoh:
- Saat bertemu pacar Shinta—yang sisirannya belah empat itu—kami berdiskusi soal teori Darwin.
- Ada diskon spesial di toko kue itu tanggal 12—14 Februari nanti.
5. Tanda seru
Belakangan banyak yang sering pakai tanda seru berlebihan di sosial media. Seperti contoh berikut ini.

Ini nanya apa malak sih, Ma?
Hmm, seperti itu rupanya!
Padahal tanda baca yang ini dipakai di akhir ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan, perintah, kesungguhan, rasa tidak percaya, atau emosi yang kuat. Jadi, kalau sebenarnya maksud tulisannya nggak sekuat itu, nggak usah lebay pakai tanda seru segala. Nanti malah dikira ngajak berantem.
Contoh:
- Amboi, indah sekali rumahmu!
- Kamu harus datang ke tempat saya, sekarang juga!
- Teganya kamu bilang aku gendut!
6. Tanda tanya (?)
Selain untuk kalimat tanya, kamu juga bisa pakai tanda tanya dalam tanda kurung untuk bagian kalimat yang masih diragukan kebenarannya.
Contoh:
- Di konser kemarin ada 5 ribu (?) penonton.
- Pacarmu itu setia (?)
7. Tanda petik (“...”) dan petik tunggal (‘...’)
Yang suka baca buku, tanda petik fungsiya apaaa? Yep, untuk mengapit petikan langsung dari pembicaraan. Bisa juga untuk mengapit petikan dari bahan tertulis lainnya, judul syair, karangan yang disebut dalam kalimat. Atau mengapit istilah kalimat yang kurang dikenal.
Contoh:
- “Dia itu menyebalkan,” kata Febi waktu aku tanya pendapatnya mengenai Burhan.
- Sudah berkali-kali membaca bab “Epilog” di buku itu, tapi saya tetap belum mengerti maksudnya.
Tanda petik tunggal bertugas untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Fungsinya untuk mengapit makna atau ungkapan asing juga sama seperti tanda petik biasa. Contohnya:
- “Saya sedang siskamling ketika mendengar suara ‘Dor! Dor!’ yang ternyata hanya suara petasan,” kata Pak Hansip.
8. Tanda apostrof (‘)
Pemakaian tanda apostrof bervariasi, ada yang seperti ini (`) ada juga yang pakai tanda petik tunggal (‘). Bedanya, tanda petik tunggal masih punya teman, sementara apostrof forever alone. Gunanya sebagai penyingkat dan nunjukkin penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Contoh:
- Libur t’lah tiba! Hatiku gembira! (Iya, ini emang lirik lagu)
- Jo lahir pada 31 Juli ’69.
Amboi, banyak juga ya, fungsi-fungsi tanda baca ini! Semoga pembaca setia Nyunyu makin ngerti dengan penggunaan tanda baca yang baik dan benar. Biarpun nggak bayar, kalau boros tanda baca juga nggak enak dilihat, gaes. Dan yang paling penting, tanda baca harus digunakan sebaik mungkin agar kegiatan kita berkomunikasi juga jadi semakin lancar.
Udah paham kan, adik-adik? Yang mau langsung nyoba make tanda baca yang dijelasin di sini dengan baik dan benar, silakan tulis di kolom komentar.
Sampai ketemu di Rabu Bahasa berikutnya!


0 komentar:
Posting Komentar