Detik-detik itu kian mendekat, kek. Detik-detik dimana segenap anak
bangsa mengenang kata merdeka. Detik-detik dimana suara kidung pujian
membahana seluruh negeri. Detik-detik dimana setiap pandang mata meluruh
pada sang saka merah putih yang kini terlihat memudar warna.
Kakek, aku mohon, ceritakan lagi padaku tentang kisahmu dan kawan-kawan
dalam memahami arti berjuang. Aku takkan pernah bosan mendengarnya, kek.
Mesti kisah itu sudah berpuluh kali kau ceritakan, namun selalu dan
selalu ingin aku dengar. Di samping karena banggaku pada perjuanganmu,
aku juga ingin selalu menjaga kecintaanku pada tanah negeri dengan
selalu mendengar betapa dulu kau pertaruhkan jiwa dan raga demi
kemerdekaan, demi membuat ibu pertiwi sedikit bisa tampakkan senyumnya.
Kakek, detik-detik itu kian mendekat. Detik-detik dimana petinggi negeri
berpakaian bagus, wangi dan terlihat gagah untuk melakukan acara
seremoni mengenang perjuanganmu dan kawan-kawan yang telah memekikkan
kata merdeka di seantero nusantara. Sangat berbeda dengan apa yang kau
kenakan tatkala waktu dulu ya, kek?. Aku ingat kau pernah cerita membuat
celana dari kain bekas karung beras atau kain sprei kumal, dan neneklah
yang menjahit dengan tangannya sendiri.
Ah…kakek, sudah pasti beda antara kau, kawan-kawanmu dan para petinggi
jaman sekarang bukan? Sekarang kita sudah merdeka, sudah menjadi negera
yang berdikari, sedang dirimu dan kawan-kawan hidup dalam kungkungan
penjajah asing, dan sepanjang hayatmu hanyalah berpikir bagaimana
caranya bisa membebaskan negerimu dari belenggu mereka. Tanpa sempat
memikirkan kemewahan hidup.
Kakek, daku bersyukur dilahirkan setelah negara ini merdeka, merdeka
dalam arti penjajah asing yang mengangkat senjata itu telah pergi. Namun
kakek, alangkah mirisnya keadaan negerimu ini. Tatkala arti merdeka
kini hanya sebatas kata, negeri ini belum benar-benar merdeka seperti
yang kau dan kawan-kawanmu cita-citakan dulu. Banyak penjajah
berkeliaran di negeri ini kek, mereka mengatas namakan jabatannya untuk
merampok negara, mereka tak pernah memikirkan rakyat,mereka bertindak
semena-mena kek, mereka itu para koruptor hidup mewah di atas
kemelaratan rakyat. Mereka gunakan jabatannya bukan untuk benahi negeri,
justru mereka mengkoyak-koyak tatanan negara demi perutnya sendiri.
Sangatlah berbeda jauh denganmu dan kawan-kawanmu dahulu. Kau pernah
bercerita menahan lapar dan haus di satu tempat, guna menyusun
perlawanan selanjutnya, berhari-hari kau dan kawan-kawanmu tak
menemukan nasi, terkadang membakar beberapa singkong yang kau temukan di
ladang-ladang masyarakat demi membungkam alunan keroncong dari perutmu.
Ah kakek, aku semakin mengagumimu.
Kakek, detik-detik sudah semakin dekat denganmu, besok sehabis
melaksanakan seremonialnya, mereka akan datang padamu membawa beberapa
keranjang bunga untuk ditabur di atas makammu dan kawan-kawanmu. Aku
turut bahagia, namun aku lebih bahagia lagi pabila saat mereka
mendatangimu dan kawan-kawan, mereka bisa menemukan kembali sejatinya
arti kata perjuanganmu dan mereka menyadari bahwa merdeka itu-pun milik
rakyat kecil, rakyat miskin. Aku selalu mendoa agar setelah mereka
taburkan bunga di atas makammu dan kawan-kawanmu mereka pulang lalu
mereka bertekad memerdekakan juga rakyat kecil dari segala kekurangan
hidup. Seperti cita-cita juangmu kek, membebaskan rakyat dari penjajah
dan segala kekurangan hidup.
Kek, aku berharap kakek bisa datang besok di lapangan sekolah dekat
rumah. Cucu kesayanganmu ini akan membacakan teks proklamasi di depan
ratusan peserta seremoni peringatan dirgahayu negeri ini. Aku ingin jiwa
juang kakek senantiasa temaniku dalam upacara itu, terlebih saat nanti
aku membacakan teks sakti yang telah membebaskan negara kita dari
penjajah dan telah kalian perjuangkan dengan gigih itu. Benar ya kek?
temani cucumu ini besok pukul 10:00 pagi. Aku tunggu kek…


0 komentar:
Posting Komentar