Dipuji
komunitas buku sampai dihadiahi buku gratis dari penerbit. Kalimat itu menyapa mata begitu kita
berkunjung ke situs Perca. blogdrive, sebuah diary digital (weblog atau kerap
disingkat menjadi blog). Review buku, begitu sang pemilik menamai kegiatannya
di blog berwarna biru bening itu.
Meski hanya berbentuk catatan,
menelusuri blog Perca terasa bagaikan tengah menikmati taburan buku-buku bagus.
Mulai dari kisah ringan sekelas chicklit, serial detektif karya Agatha
Christie, hingga buku berat sekelas The Name of The Rose, karya-karya Paulo
Coelho, dan novel horor terkenal, Ring. Terasa benar luasnya rentang buku yang
dibaca sang pemilik blog.
Pemiliknya bernama Endah
Sulwesi. Anda tidak salah jika mengira sang pemilik adalah orang yang
berhubungan dengan buku, melihat banyaknya buku yang dimuat dalam blog-nya.
“Saya karyawati Perkebunan Gunung Mas, Puncak,” katanya ramah saat mengenalkan
diri.
Tapi, sungguh menakjubkan memang
bagaimana hobi dan kesehariannya sebagai pegawai perusahaan perkebunan sungguh
tidak berhubungan sama sekali.
“Saya memang hobi membaca buku,”
kata Endah.
Kesukaannya itu pula yang
mendorongnya untuk membuat blog pada Maret tahun silam. Informasi tentang blog
ia dapatkan dari seorang teman. Merasa tertarik pada budaya blog—dan karena
merasa bisa menulis—Endah memutuskan membikin blog. “Awalnya dibantu teman,
namun selanjutnya saya bikin sendiri,” katanya.
Apalagi, membikin blog sekarang
mudah sekali. Lumrah saja jika mengingat munculnya blog baru di dunia hanya
dalam hitungan menit.
“Semua pengguna internet pasti
bisa, tinggal ikuti petunjuk,” katanya.
Lewat blog itulah Endah kemudian
menyalurkan hobinya membaca buku. “Aku ingin menuangkan cerita tentang
buku-buku yang kubaca dengan bahasaku sendiri,” katanya. Karena itu, perempuan
yang tinggal di Klender, Jakarta Timur, ini enggan blognya disebut sebagai
resensi buku. “Hanya sekadar menceritakan kembali, mengeluarkan uneguneg.”
Blog menjadi pilihan jitu bagi
pembaca lima buku dalam sebulan ini karena ia merasa lingkungannya kurang
mendukung hobinya. “Selama ini aku tikda punya banyak teman yang bisa setiap
saat kuajak ngobrol soal buku,” katanya. Lewat blog itulah, Endah
berharap ada orang dengan minat baca yang sama akan membaca blog-nya. “Dengan
begitu akan tumbuh komunitas buku,” katanya. Karena rajin membaca buku, Endah
juga terbiasa memperbarui catatan hariannya. “Aku usahakan update blog dua kali
sepekan,” katanya. Biasanya itu ia lakukan pada Kamis atau Minggu. Ini termasuk
mencengangkan karena ratarata pemilik blog tidak rajin memperbarui isi diary
digitalnya.
“Aku memang memaksakan diri
membaca lebih sering dan menulis dengan teratur karena blog-ku isinya kan tentang
buku,” katanya. Tidak usah heran jika dalam
sepekan Endah kadang mampu melahap hingga tiga buku sekaligus. Tapi itu pun
tergantung tebal dan tipisnya buku. “Buku Musashi yang tebal itu aku selesaikan
dalam seminggu, tapi yang tipis seperti Narnia ya sehari langsung selesai,”
katanya.
Selain itu, daya tarik sebuah
buku juga berpengaruh pada cepat atau lambatnya Endah menyelesaikan membaca
sebuah buku. “Buku sekaliber Da Vinci Code membuatku tidak ingin berhenti
membaca sebelum tamat,” katanya ringan.
Karena rajin membaca buku itu
pula, koleksinya termasuk lumayan mencengangkan untuk orang yang tidak bergerak
di dunia buku. “Koleksiku sampai saat ini sudah berjumlah 800-an buku,”
katanya.
Seluruhnya ia simpan di rak dan
disusun dengan rapi. Sebagian besar buku yang ia miliki adalah karya-karya
fiksi karena ia sangat menyukai buku jenis ini. Mulai dari novel, kumpulan
cerpen, dongeng, dan puisi. Ia juga mengoleksi biografi, buku-buku agama,
kumpulan esai, jurnal kebudayaan, dan majalah.
Buku-buku yang ia miliki awalnya
ia beli dengan uang dari koceknya sendiri. Endah mengaku ia harus menyiapkan
anggaran khusus untuk itu, meski tidak bersedia menyebut berapa banyaknya.
Namun, sejak punya blog, ia merasa sedikit diuntungkan karena menerima kiriman
dari sejumlah penerbit.
Itu pula yang membuatnya merasa
beruntung punya blog. “Ada timbal balik hubungan yang aku dapatkan,” katanya.
Koleksinya bertambah, sementara penerbit diuntungkan karena buku-buku mereka
dipromosikan gratis lewat blog. Ia bahkan pernah menerima buku dari
seorang
penulis asal Malaysia, Noor Suraya.
Setahun lebih memiliki blog,
Endah mengaku ia sudah berhasil membangun komunitas, meski kecil saja. “Saya
juga teman sekomunitas yang rajin mengirim naskah resensi, jadi tidak perlu
repot mengisi blog sendirian,” katanya sumringah.
Salah satu teman komunitas
blog-nya bahkan pernah menawarkan novel karyanya untuk diresensi. “Untuk urusan
itu, saya memang cepat bergerak,” katanya senang.
Lewat komunitas itu pula Endah
mengaku mendapat keuntungan lain. Sebuah penerbit buku bahkan menyerahinya
tanggungjawab untuk mengelola klub buku dan milis sastra.
Milis yang ia kelola bersama
sejumlah blogger bahkan sudah beranggotakan 70 orang. Kegiatannya macam-macam.
Baru-baru ini, Endah dan para sahabatnya menggelar diskusi novel di Jakarta.
Selama memiliki blog buku, Endah
mengaku lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. “Senang juga jika banyak yang
berkunjung ke blog-ku, apalagi jika bisa menularkan hobi membaca buku,”
katanya. Sebagian besar pengunjung blog-nya menuliskan kekaguman mereka pada
banyak dan beragamnya buku yang ia baca.
Ia juga merasa tidak terlalu
khawatir jika ada komentar yang kurang sedap tentang review buku yang ia tulis
di blog. “Namanya berbeda pendapat ya biasa saja, kan?” katanya dengan nada ringan. Kalau pun ada dukanya, paling
banter jika harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar pulsa telepon karena
penggunaan internet yang membengkak. Selain itu, jika internetnya ngadat
seperti yang terjadi sepanjang pekan silam, Endah mengaku harus bekerja di
warnet.
Selain Endah, ada pula blogger
lain yang serius menggarap diary digitalnya. Anwar Rizal, namanya. Ia pemilik
blog Anrizal.blogspot. Jika Endah bekerja di perusahaan perkebunan, Rizal
bekerja dan tinggal jauh di Prancis sana. Tamatan Institut Teknologi Bandung
tahun 1998 ini bekerja sebagai software engineer di sebuah perusahaan di
Sophia-Antipolis, dekat Nice, Prancis. Berbeda dengan Endah, blog buku
Rizal tidak hanya berupa resensi. “Saya melihat sudah banyak yang punya blog
resensi buku,” katanya. “Tapi tidak mau menguak identitasnya.”
Sebagian lainnya, kata Rizal,
bahkan tidak menyertakan sedikitpun tentang buku, sepenuhnya pribadi. “Buat
saya, blog itu intim, pribadi, dan tulisan yang ada di dalamnya harus
mencerminkan penulisnya,” kata penyuka film dan musik ini. Tidak heran jika kemudian isi
blog Rizal sangat beragam. Mulai dari review buku hingga cerita tentang
kunjungannya ke sebuah lokasi yang berhubungan dengan dunia buku.
Rizal mengaku membikin blog buku
karena sejak kecil sangat tergila-gila pada buku. “Sastra, filsafat, sosial,
dan matematika, saya suka,” katanya. Itu juga tergantung mood.
Saking tergila-gilanya pada
buku, Rizal mengaku punya impian bisa mengambil satu tahun sabatik untuk dapat
membaca seluruh karya William Faulkner dan Charles Dickens, para penulis
idolanya. “Senangnya,” kata Rizal berkhayal.

0 komentar:
Posting Komentar