Sabtu, 17 Mei 2014

Mendunia Lewat Blog Buku

Dipuji komunitas buku sampai dihadiahi buku gratis dari penerbit. Kalimat itu menyapa mata begitu kita berkunjung ke situs Perca. blogdrive, sebuah diary digital (weblog atau kerap disingkat menjadi blog). Review buku, begitu sang pemilik menamai kegiatannya di blog berwarna biru bening itu.


Meski hanya berbentuk catatan, menelusuri blog Perca terasa bagaikan tengah menikmati taburan buku-buku bagus. Mulai dari kisah ringan sekelas chicklit, serial detektif karya Agatha Christie, hingga buku berat sekelas The Name of The Rose, karya-karya Paulo Coelho, dan novel horor terkenal, Ring. Terasa benar luasnya rentang buku yang dibaca sang pemilik blog.


Pemiliknya bernama Endah Sulwesi. Anda tidak salah jika mengira sang pemilik adalah orang yang berhubungan dengan buku, melihat banyaknya buku yang dimuat dalam blog-nya. “Saya karyawati Perkebunan Gunung Mas, Puncak,” katanya ramah saat mengenalkan diri.


Tapi, sungguh menakjubkan memang bagaimana hobi dan kesehariannya sebagai pegawai perusahaan perkebunan sungguh tidak berhubungan sama sekali.
“Saya memang hobi membaca buku,” kata Endah.

Kesukaannya itu pula yang mendorongnya untuk membuat blog pada Maret tahun silam. Informasi tentang blog ia dapatkan dari seorang teman. Merasa tertarik pada budaya blog—dan karena merasa bisa menulis—Endah memutuskan membikin blog. “Awalnya dibantu teman, namun selanjutnya saya bikin sendiri,” katanya.

Apalagi, membikin blog sekarang mudah sekali. Lumrah saja jika mengingat munculnya blog baru di dunia hanya dalam hitungan menit.
“Semua pengguna internet pasti bisa, tinggal ikuti petunjuk,” katanya.
Lewat blog itulah Endah kemudian menyalurkan hobinya membaca buku. “Aku ingin menuangkan cerita tentang buku-buku yang kubaca dengan bahasaku sendiri,” katanya. Karena itu, perempuan yang tinggal di Klender, Jakarta Timur, ini enggan blognya disebut sebagai resensi buku. “Hanya sekadar menceritakan kembali, mengeluarkan uneguneg.”


Blog menjadi pilihan jitu bagi pembaca lima buku dalam sebulan ini karena ia merasa lingkungannya kurang mendukung hobinya. “Selama ini aku tikda punya banyak teman yang bisa setiap saat kuajak ngobrol soal buku,” katanya. Lewat blog itulah, Endah berharap ada orang dengan minat baca yang sama akan membaca blog-nya. “Dengan begitu akan tumbuh komunitas buku,” katanya. Karena rajin membaca buku, Endah juga terbiasa memperbarui catatan hariannya. “Aku usahakan update blog dua kali sepekan,” katanya. Biasanya itu ia lakukan pada Kamis atau Minggu. Ini termasuk mencengangkan karena ratarata pemilik blog tidak rajin memperbarui isi diary digitalnya.


“Aku memang memaksakan diri membaca lebih sering dan menulis dengan teratur karena blog-ku isinya kan tentang buku,” katanya. Tidak usah heran jika dalam sepekan Endah kadang mampu melahap hingga tiga buku sekaligus. Tapi itu pun tergantung tebal dan tipisnya buku. “Buku Musashi yang tebal itu aku selesaikan dalam seminggu, tapi yang tipis seperti Narnia ya sehari langsung selesai,” katanya.


Selain itu, daya tarik sebuah buku juga berpengaruh pada cepat atau lambatnya Endah menyelesaikan membaca sebuah buku. “Buku sekaliber Da Vinci Code membuatku tidak ingin berhenti membaca sebelum tamat,” katanya ringan.
Karena rajin membaca buku itu pula, koleksinya termasuk lumayan mencengangkan untuk orang yang tidak bergerak di dunia buku. “Koleksiku sampai saat ini sudah berjumlah 800-an buku,” katanya.


Seluruhnya ia simpan di rak dan disusun dengan rapi. Sebagian besar buku yang ia miliki adalah karya-karya fiksi karena ia sangat menyukai buku jenis ini. Mulai dari novel, kumpulan cerpen, dongeng, dan puisi. Ia juga mengoleksi biografi, buku-buku agama, kumpulan esai, jurnal kebudayaan, dan majalah.


Buku-buku yang ia miliki awalnya ia beli dengan uang dari koceknya sendiri. Endah mengaku ia harus menyiapkan anggaran khusus untuk itu, meski tidak bersedia menyebut berapa banyaknya. Namun, sejak punya blog, ia merasa sedikit diuntungkan karena menerima kiriman dari sejumlah penerbit.

Itu pula yang membuatnya merasa beruntung punya blog. “Ada timbal balik hubungan yang aku dapatkan,” katanya. Koleksinya bertambah, sementara penerbit diuntungkan karena buku-buku mereka dipromosikan gratis lewat blog. Ia bahkan pernah menerima buku dari 
seorang penulis asal Malaysia, Noor Suraya.

Setahun lebih memiliki blog, Endah mengaku ia sudah berhasil membangun komunitas, meski kecil saja. “Saya juga teman sekomunitas yang rajin mengirim naskah resensi, jadi tidak perlu repot mengisi blog sendirian,” katanya sumringah.

Salah satu teman komunitas blog-nya bahkan pernah menawarkan novel karyanya untuk diresensi. “Untuk urusan itu, saya memang cepat bergerak,” katanya senang.
Lewat komunitas itu pula Endah mengaku mendapat keuntungan lain. Sebuah penerbit buku bahkan menyerahinya tanggungjawab untuk mengelola klub buku dan milis sastra.
Milis yang ia kelola bersama sejumlah blogger bahkan sudah beranggotakan 70 orang. Kegiatannya macam-macam. Baru-baru ini, Endah dan para sahabatnya menggelar diskusi novel di Jakarta.


Selama memiliki blog buku, Endah mengaku lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. “Senang juga jika banyak yang berkunjung ke blog-ku, apalagi jika bisa menularkan hobi membaca buku,” katanya. Sebagian besar pengunjung blog-nya menuliskan kekaguman mereka pada banyak dan beragamnya buku yang ia baca.
Ia juga merasa tidak terlalu khawatir jika ada komentar yang kurang sedap tentang review buku yang ia tulis di blog. “Namanya berbeda pendapat ya biasa saja, kan?” katanya dengan nada ringan. Kalau pun ada dukanya, paling banter jika harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar pulsa telepon karena penggunaan internet yang membengkak. Selain itu, jika internetnya ngadat seperti yang terjadi sepanjang pekan silam, Endah mengaku harus bekerja di warnet.

Selain Endah, ada pula blogger lain yang serius menggarap diary digitalnya. Anwar Rizal, namanya. Ia pemilik blog Anrizal.blogspot. Jika Endah bekerja di perusahaan perkebunan, Rizal bekerja dan tinggal jauh di Prancis sana. Tamatan Institut Teknologi Bandung tahun 1998 ini bekerja sebagai software engineer di sebuah perusahaan di Sophia-Antipolis, dekat Nice, Prancis. Berbeda dengan Endah, blog buku Rizal tidak hanya berupa resensi. “Saya melihat sudah banyak yang punya blog resensi buku,” katanya. “Tapi tidak mau menguak identitasnya.”


Sebagian lainnya, kata Rizal, bahkan tidak menyertakan sedikitpun tentang buku, sepenuhnya pribadi. “Buat saya, blog itu intim, pribadi, dan tulisan yang ada di dalamnya harus mencerminkan penulisnya,” kata penyuka film dan musik ini. Tidak heran jika kemudian isi blog Rizal sangat beragam. Mulai dari review buku hingga cerita tentang kunjungannya ke sebuah lokasi yang berhubungan dengan dunia buku.


Rizal mengaku membikin blog buku karena sejak kecil sangat tergila-gila pada buku. “Sastra, filsafat, sosial, dan matematika, saya suka,” katanya. Itu juga tergantung mood.

Saking tergila-gilanya pada buku, Rizal mengaku punya impian bisa mengambil satu tahun sabatik untuk dapat membaca seluruh karya William Faulkner dan Charles Dickens, para penulis idolanya. “Senangnya,” kata Rizal berkhayal.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Subscribe Biar Jomblo

Contact our Support

Email us: taqwinoky@gmail.com

Metamorfosa