Terlepas dari itu, karena yang di maksudkan dengan istilah pesantren dalam
pembahasan ini adalah sebuah lembaga pendidikan dan pengembangan agama
Islam di Tanah Air (khususnya Jawa) di mulai dan di bawa oleh Wali
Songo, maka model pesantrn di pulau Jawa juga mulai berdiri dan
berkembang bersamaan dengan zaman Wali Songo. Karena itu tidak
berlebihan bila di katakan pondok pesantren yang pertama didirikan
adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim
atau Syekh Maulana Maghribi. Kedudukan dan fungsi pesantren saat itu
belum sebesar dan sekomplek sekarang. Pada awal, pesantren hanya
berfungsi sebagai alat islamisasi dan sekaligus memadukan tiga unsur
pendidikan, yakni ibadah: untuk menanamkan iman, tabligh untuk
menyebarkan ilmu, dan amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan
dalam kehidupan sehari-hari Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan
Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar 500 tahun yang lalu. Sejak saat
itu, lembaga pesantren tersebut telah mengalami banyak perubahan dan
memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia. Pada zaman
Walisongo, pondok pesantren memainkan peran penting dalam penyebaran
agama Islam di pulau Jawa. Juga pada zaman penjajahan Belanda, hampir
semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau
paling tidak dapat dukungan sepenuhnya dari pesantren .
2. Elemen-elemen pesantren
Hampir dapat di pastikan, lahirnya suatu
pesantren berawal dari beberapa elemen dasar yang selalu ada di
dalamnya. Ada lima elemen pesantren, antara satu dengan lainnya tidak
dapat di pisahkan. Keliam elemen tersebut meliputi kyai,santri, pondok,
masjid, dan pengajaran kitab kuning
a.Kyai
Kyai atau pengasuh pndok pesantren
merupakan elemen yang sangat esensial bagi suatu pesantren. Rata-rata
pesantren yang berkembang di jawa dan madura sosok kyai begitu sangat
berpengaruh, kharismatik dan berwibawa, sehingga amat di segani oleh
masayrakat di lingkungan pesantren. Di samping itu kyai pondok pesantren
sangat biasanya juga sekaligus sebagai penggagas dan pendiri dari
pesantren yang bersankutan. Oleh karenanya, sangat wajar jika
pertumbuhannya, pesantren sangat bergantung pada peran seorang
kyai.(masa depan 28) Para kyai dengan kelebihan pengetahuannya dalam
islam, sering kali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami
keagungan Tuhan dan rahasia alam, hingga dengan demikian mereka dianggap
memiliki kedudukan yang tak terjangkau, teritama oleh kebanyakan orang
awam. Dalam beberapa hal, mereka menunjukkan ke khususan mereka dalam
bentuk-bentuk pakaian yang merupakan symbol kealiman yaitu kopiah dan
surban. Masyrakat biasanya mengharapkan seorang kyai dapat menyelesaikan
persoalanpersoalan keagamaan praktis sesuai dengan kedalaman
pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi kitab yang ia ajarkan, ia
akan semakin di kagumi. Ia juga di harapkan dapat menunjukkan
kepemimpinannya, kepercayaannya kepada diri sendiri dan kemampuannya,
karena banyak orang yang dating meminta nasehat dan bimbingan dalam
banyak hal. Ia juga di harapkan untuk rendah hati, menhormati semua
orang, tanpa melihat tinggi rendah sosialnya, kekayaan dan
pendidikannya, banyak prihatin dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan
tidak pernah berhenti memberikan kepemimpinan dan keagamaan, seperti
memimpin sembahyang lima waktu, memberikan khutbah jum’ah dan menerima
undangan perkawinan, kematian dan lain-lain.60
b.Pondok
sebuah pesantren pada dsarnya adalah
sebuah asrama pendidikan islam tradisional di mana para siswanya tinggal
bersama belajardan belajar di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru
yang lebih di kenal dengan sebutan “kyai”. Asrama untuk para siwa
tersebut berada dalam lingkungan komplek pesantren dimana kyai bertempat
tinggal yang juga menyediakan sebuah masjid untuk beribadah, ruang
untuk belajar dan kegiatankegiatan keagamaan yang lain. Komplek
pesantren ini biasanya di kelilingi dengan tembok untuk dapat mengwasi
keluar dan masuknya para santri sesuai peraturan yang berlaku pondok,
asrama bagi para santri, merupakan cirri khas tradisi pesantren, yang
membedakannya dengan system pendidikan tradisional di masjid-masjid yang
berkembang di kebanyakan wilayah islam di Negara-negara lain. Bahkan
system asrama ini pula membedakan pesantren dengan system pendidikan suraudi daerah minangkabau. Ada tiga alasan utama kenapa pesantren harus menyediakan asrama bagi para santri. Pertama, kemashuran
seorang kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang islam menari
santri-santri dari jauh. Untuk dapat menggali ilmu dari kyai tersebut
secara teratur dan dalam waktu yang lama, para santri tersebut harus
meninggalkan kampung halamannya dan menetap di dekat kediaman kyai. Kedua, hampir
semmua pesantren berda di desa-desa dimana tidak tersedia perumahan
(akomodasi) yang cukup untuk dapat menampung santri-santri; dengan
demikian perlulah adanya suatu asrama khusus bagi para santri. Ketiga, ada
sikap timbale balik antara kyai dan santri, dimana para santri
menganggap kyainya seolah-olah sebagi bapaknya sendiri, sedangkan
menganggap para santri sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa di
lindungi. Sikap ini juga menimbulkan perasaan tanggung jawab di pihak
untuk dapat menyediakan tempat tinggal bagi para santri. Di samping itu
dari pihak para sntri tumbuh perasaan pengabdian kepada kyainya,
sehingga para kyainya memperoleh imbalan dari para santri sebagai sumber
tenaga bagi kepentingan pesantren dan keluarga kyai. System pondok
bukan saja merupakan elemen paling penting dari tradisi pesantren, tapi
juga penopang utama bagi pesantren untuk dapat terus berkembang .
meskipun keadaan pondok sederhana dan penuh sesak, namun anak-anak muda
dari pedesaan dan baru pertama meninggalkan desanya untuk melanjutkan
pelajaran di suatu wilayah yang baru itu tidak perlu mengalami kesukaran
dalam tempat tinggal atau penyesuaian diri dengan lingkungan social
yang baru.
c.Masjid
Masjid merupakan elemen yang tidak dapat
di pisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling
tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam sembahyang lima waktu,
khutbah dan sholat jum’ah, dan mengajarkan kitab-kitab klasik. Kedudukan
masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan
manivestasi universalisme dari sitem pendidikan tradisional. Dengan kata
lain kesinambungan system islam yang berpusat pada masjid sejak masjid
al Qubba didirikan dekat madinah pada masa Nabi Muhammad saw tetap
terpancar dalam system pesantren. Sejak zaman nabi, masjid telah menjadi
pusat pendidikan islam. Dimana puun kaum muslimin berada, mereka selalu
menggunaka masjid sebagi tempat pertemuan, pusat pendidikan, aktifitas
administrasi dan cultural. Lembaga-lembaga peasntren jawa memelihara
terus tradisi ini, para kyai selalu mengajar murid-muridnya di masjid
dan menganggap masjid sebagai tempat yang paling tepat untuk menamkan
disiplin para murid dalam mengerjakan kewajiban sembah yang lima waktu,
memperoleh pengetahuan agama dan kewajiban agama yang lain. Seorang kyai
yang ingin megembangkan sebuah pesantren, biasanya pertamapertama akan
mendirikan masjid di dekat rumahnya. Langkah ini biasanya diambil atas
perintah gurunya yang telah menilai bahwa ia akan sanggup memimpin
sebuah pesantren.
d.Santri.
Menurut pengertian yang dalam lingkungan
orang-orang pesantren, seorang alim hanya bisa disebut kyai bilaman
memiliki pesantren dan santri yang tinggal dalam pesantren tersebut
untuk mempelajari kitab-kitab islam klasik. Oleh karena itu santri
adalah elemen penting dalam suatu lembaga pesantren. Walaupun demikian,
menurut tradisi psantren, terdapat dua kelompok santri:
1.Santri mukim yaitu
murid-murid yangn berasal dari daerah jauh dan menetap dalam kelompok
pesantren. Santri mukim yang menetap paling lama tinggal di pesantren
tersebut biasanya merupakan suatu kelompok tersendiri yang memegang
tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari;mereka juga
memikul tanggung jawab mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab
dasar dan menengah.
2.Santri kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren; yang biasanya tidak menetap dalam pesantren (nglajo) dari
rumahnya sendiri. Biasanya perbedaan pesantren kecil dan pesantren
besar dapat dilihat dari komposisi santri kalong. Sebuah besar sebuah
pesantren, akan semakin besar jumlah mukimnya. Dengan kata lain,
pesantren kecil akan memiliki lebih banyak santri kalong dari pada
santri mukim. Oleh karenanya, hanya seorang santri yang memiliki
kesungguhan dan kecerdsan saja yang di beri kesempatan untuk belajar di
sebuah pesantren besar. Selain dua istilah santri diatas ada juga
istilah “santri kelana” dalam dunia pesantren. Santri kelana adalah
santri yang bepindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya,
hanya untuk memperdalam ilmu agama. Santri kelana ini akan selalu
berambisi untuk memiliki ilmu dan keahlian tertentu dari kyai yang di
jadikan tempat belajar atau di jadikan gurunya. Hampir semua kyai atau
ulama’ di jawa yang memimpin sebuah pesantren besar, memperdalam
pengetahuan dan memperluas penguasaan ilmu agamanya dengan cara
mengembara dari pesantren ke pesantren (berkelana). Nah, setelah
pesantren mengadopsi system pendidikan modern seperti sekolah atau
madrasah, tradisi kelana ini mulai di tinggalkan
e. Pengajaran Kitab Kuning
berdasarkan catatan sejarah, pesantren
telah mengajarkan kitab-kitab klsik, khususnya karangan-karangan madzab
syafi’iyah. Pengajaran kitab kuning berbahasa Arab dan tanpa harakatatau
sering disebut kitab gundul merupakan satu-satunya methode
yang secara formal di ajarkan dalam pesantren di Indonesia. Pada
umumnya, para santri dating dari jauh dari kampung halaman dengan tujuan
inginmemperdalam kitab-kitab klasik tersebut, baik kitab Ushul Fiqih,
Fiqih, Kitab Tafsir, Hadits, dan lain sebagainya. Para santri juga
biasanya mengembangkan keahlian dalam berbahasa Arab (Nahwu dan Sharaf),
guna menggali makna dan tafsir di balik teks-teks klasik tersebut. Ada
beberapa tipe pondok pesantren misalnya, pondok pesantren salaf, kholaf,
modern, pondok takhassus al-Qur’an. Boleh jadi lembaga, lembaga pondok
pesantren mempunyai dasar-dasar ideology keagamaan yang sama dengan
pondok pesantren yang lain, namun kedudukan masing-masing pondok
pesantren yang bersifat personal dan sangat tergantung pada kualitas
keilmuan yang dimiliki seorang kyai. Keseluruhan kitab-kitab klasik yang
diajarkan di pesantren dapat di golongkan ke dalam delapan kelompok
yaitu, 1). Nahwu (sintaksis) dan saraf (morfologi), 2)fiqih; 3)ushul fiqih; 4)hadits; 5) tafsir; 6)tauhid; 7) tasawuf dan etika;
cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah. Kitab-kitab tersebut
meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang berdiri dari
berjilid-jilid tebal mengenai hadits, tafsir, fiqih, ushul fiqih dan
tasawuf. Agar bisa menerjemahkan dan memberikan pandangan tentang isi
dan makna dari teks kitab tersebut, seorang kyai ataupun santri harus
menguasai tata bahasa Arab (balaghah), literature dan cabang-cabang pengetahuan agama islam yang lain.
3. Pesantren dan Tantangan Modernitas
Melihat perkembangan dunia yang begitu
cepat ini bagi banyak kalangan telah memunculkan respond an spekulasi
yang beragam. Tidak terkecuali bagi umat islam, perubahan-perubahan yang
terus muncul belakangan ini di dalamnya menyentuh hampir seluruh aspek
kehidupan manusia, aspek ekonomi hingga aspek nilai-nilai moral. Secara
sederhana, era global ini dapat di ilustrasikan dengan persaingan sengit
dalam bidang ilmu dan politik, kemajuan sains, dan teknologi, arus
informasi yang cepat, dan perubahan social yang tinggi Sebaliknya,
berbagai upaya proteksi yang di lakukan oleh suatu pihak atau Negara
tertentu, bagi Negara-negara yang telah lama melakukan proyek
modernisasi, tentu hanya di pandang sebagai penentangan terhadap
ketrbukaannya. Sebagai implikasinya, wacana mengenai plurarismeakan
menjadi pergulatan serius dalam mempertemukan antar peradaban yang yang
berkeingianan untuk eksis di dunia. Dalam maknanya yang global,
pluralisme di satu sisi mempunyai ‘keterbukaan’ dan di sisi lain bisa
jadi muncul sebagai bentuk arena persaingan. Dalam kondisi seperti ini ,
umat manusia dihadapkan pada realitas, dimana tafsir mengenai
‘persaingan’ sangat erat kaitannya dengan siapa yang kuat dialah yang
akan memenangkan arena perdebatan dan sebaliknya, pihak yang lemah akan
menanggung kekalahan dan menerima system keterbukaan tersebut. Oleh
karena pengaruh abad industri ini tidak saja menyentuh aspek ekonomi,
tetapi juga moral dan agama, islam dengan paradigma yang dimilikinya ,
yaitu rahmatan lil alamin, bertanggung jawab atas terjadi
benturan-benturan peradaban atau implikasi negative dari perkembangan
dunia, termasuk juga didalamnya adalah masyarakat pesantren yang menjadi
bagian integral dari masyarakat secara kesuluruhan tidak bisa menutup
mata dan menjauh dari realitas ini. Dengan doktrin-doktrin kepesantrenan
yang dimilikinya, fenomena ini tidak laik di posisikan sebagai bentuk
hambatan peradaban, akan tetapi menjadi ujian sekaligus tantangan
eksistensi masa depan pesantren di era masyarakat global. Pertanyaannya
adalah bagimana bentuk akomodasi pesantren dalam merespon modernitas
sebagaimana fenomenanya telah di uraikan di atas . kiranya nilai-nilai
apa sajakah yang dianggap akomodatif dan mampu menjawab tantangan zaman.
a.Pesantren dan Tradisi ke Ilmuannya
Dalam memahami gejala modernitas yang
kian dinamis pesantren sebagaimana yang di istilahkan Gus Dur ‘sub
kultur’ memiliki dua tanggung jawab secara bersamaan, yaitu sebagai
lembaga agama Islam dan sebagai bagian integral masyarakat yang
bertanggung jawab terhadap perubahan dan rekayasa social. Karena
memiliki model pendidikan dan cara belajar santri, pesantren sudah
selayaknya menjadi lembaga tafaqquh fiddin dalam arti luas. Pesantren
sepeti dunia akademik dan memiliki cirri khas tersendiri, bertanggung
jawab atas berbagai fenomena social yang berkembang dan berdampak
negative bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan perspektif yang
universal atau pendekatan komprehensif, ilmu-ilmu yang di ajarkan di
dalam pesantren dapat mendekati persoalan-persoalan kontemporee dengan
memberi interprestasi ayat dan hadits, tetapi juga tanpa mengesampingkan
kaca mata empiris. Atau dengan istilah populernya tidak sekedar
berijtihad secara qauly tetapi mengarah ke ijtihad manhajy (methodology)
Dalam kaitannya dengan resppon keilmuan pesantren terhadap dinamika
modernitas, setidaknya terdapat dua hal utama yang perlu di perhatikan.
Keduanya merupakan upaya cultural keilmuan pesantren, sehingga paradigma
keilmuanny tetap menemukan relevansinya dengan perkembangan
kontemporer. Pertama, keilmuan pesantren muncul sebagai upaya
pencerahan bagi kelangsungan perdaban manusia di dunia. Ini dapat di
lakukan dengan menafsirkan upaya menafsirkan teks-teks islam menjadi sholihun likulli zaman, dinamis dan terbuka. Di samping itu, keilmuan pesantren menolak terhadap upaya pensakralan pemikiran keagamaan (taqdir al-afkar al-din). Dalam bidang tafsir misalnya, asbab an-nuzul dan al-ibrah bil umumu as-sabab la bi khusus al-lafadz di pahami sebagai pendekatan sosio histories islam dalam mengkaji universalitas islam. Kedua, karena
pesantren di pandang sebagai lembaga pendidikan, maka kurikulum
pengajarannya setidaknya memiliki orientasi terhadap dinamika keyakinan.
Maksudnya adalah keilmuan pesantren juga penting mengadopsi metode yang
di kembangkan ilmu-ilmu social. Karenanya asumsi bahwa pendidikan
pesantren itu melulu dengan doktrin itu dapat di tolak sejak dini. Di
pesantren, kajian mengenai doktrin keagamaan di dekati melalui dua
pendekatan yang normativitas dan hostoritas. Keilmuan yang mendukung
ini, msecara klasikal dan terencana pesantren sangat memperhatikannya..
misalny dalam ilmu fikih, di samping belajar fikh normative, di ajarkan
pula ushul fikih. Kedua upaya tersebut pada hakikatnya bertolak dari
asumsi bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan islam tidak dapat di
pisahkan dari tanggung jawab keilmuan dan social bagi kelangsungan
peradaban manusia . pesantren dengan berbagai skomodasi keilmuan yang
dimilikinya, sejak dini telah mempersiapkan generasi baru sebagai
pemikir sekaligus berda di garde depan social change.MD 80
b. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Membincang kemajuan dan teknologi tidak
akan terlepas dari perbincangan tentang perubahan. Sebab bagi keduanya
perubahan merupakan identitas, cirri khas bahkan karakter yang melekat
dan tidak akan terpisahkan. Demikian juga ketiaka dua hal tersebut di
kontektualisasikan dengan dunia kepesantrenan. Pada awal perkembangannya
dan bahkan hingga era 70-an, pesantren pada umumnya di pahami sebagai
lembaga pendidikan agama yang bersikap tradisional yang tumbuh dan
berkembang di masyarakat pedesaan melalui proses social yang unik .
saat, itu, dan bahkan hingga sekarang, sebagai lembaga social yang
berpengaruh. Keberadaannya memberikan pengaruh dan warna keberagaman
dalam kehidupan masyarakat sekitarnya; tidak hannya di wilayah
administrasi pedesaan, tetapi tidak jarang hingga melintasi daerah
kabupaten dimana pesantren itu berada. Oleh karena itulah pesantren di
gunakan sebagi agen perubahan (agen of change) sebagai lembaga
perantara yang yang di harapkan dapat berpearn sebagai dinamisator
katalisator pemberdayaan sumber daya manusia, penggerak pembangunan di
segala bidang, serta pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
menyongsong era era global. Dan, disinilah perubahan merambah kedalam
dunia ke pesantrenan. Sebagaimana di krtahui, globalisasi meniscayakan
tejadinya perubahan di segala aspek kehidupan, termasuk orientasi,
persepsi, dan tingkat selektifitas masyarakat Indonesia terhadap
pendidikan. Apabila semasa orde baru pembangunan lebih diarahkan pada
pemeratan pendidikan yang berimplikasi pada tidak terimbanginya
peningkatan kuantutas oleh kualitas, maka globalisasi memaksa Indonesia
untuk merubah orientasi pendidikannya menuju pendidikan yang
berorientasikan kualitas, kompetensi dan, dan skill, artinya
yang terpenting ke depan bukan lagi memberantas buta huruf. Lebih dari
itu, membekali manusia terdidik agar dapat ikut berpartisipasi dalam
persaingan global juga harus di kedepankan. Berkenaan dengan ini,
standard mutu yang berkembang di masyarakat adalah tingkat keberhasilan
lulusan sebuah lembaga pendidikan dalam mengikuti kompetisi pasar global
Untuk dapat menganalisa peran pesantren di era global, sebelunya harus
di pahami bahwa pesantren memiliki akar sosio histories yang cukup kuat
sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relative sentral dalam
dunia keilmuwan masyarakat, dan sekaligus bertahan di tengah berbagai
gelombang perubahan. Sebagaimana di ketahui selama ini pesantren di
kenal dengan lembaga “counter). Kalau kita menerima spekulasi
bahwa “pesantren telah ada sebelum islam, maka sangat boleh jadi ia
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan dan keilmuan di luar istana.
Dan jika ini benar, berrti pesantren pada saat itu merupakan lembaga”counter culture” budaya tandingan ) terhadap budaya keilmuan di monopoli kalangan istana dan elit Brahmana. Sebagai “counter culture” semestinya
pesantren terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan
sifat dan ciri khas budaya yang bersifat dinamis dan tidak statis.
Secara garis besar permasalahan pesantren bisa di kelompokkan ke dalam
empat hal, yaitu: pertama, kurikulum pendidikan yang mencakup literature, model pembelajaran, dan pengembangannya; kedua, sarana dan prasarana seperti perpustakaan, laboratorium, internet, lapangan olah raga, dan yang lainnya; ketiga, wahana pengembangan diri seperti organisasi, majalah, seminar dan pengembangan lain sebagainya; k empat, wahana
aktualisasi diri di tengah masyarakat, seperti tabligh, khotib dan
lainnya Dari beberapa permaslahan inilah perubahan system
penyelenggaraan pendidikan pesantren yang integrated yang juga
berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu
untuk di kedepankan. Yang menjadi tantangan bagi pesantren saat ini
adalah bagiman pesantren mengupayakan pengembangan system dan
methodology pembelajarannya, setidaktidaknya agar proses pembelajarannya lebih efektif dan efesien.

0 komentar:
Posting Komentar